Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read

“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa membantumu dalam menitih karir.” Begitulah sejumput pernyataan dari pengurus organisasi dalam rangka meraih hati para mahasiswa baru agar berkenan bergabung dalam organisasi yang ia ikuti.

Belasan mungkin puluhan ribu kader PMII yang terwadahi dalam dua ratus lebih cabang dan tersebar di tiga puluh tiga provinsi se Indonesia bukanlah jumlah yang sedikit untuk sebuah massa organisasi. Mereka mengikuti kaderisasi berjenjang sebagai bekal untuk kemudian menjadikan mereka sebagai kader pergerakan. Dapat dipastikan setiap tahun jumlah anggota dan kader bertambah. Hal ini tentu menjadikan PMII sebagai pemenang dalam segi kuantitas kader dibandingkan dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya. Namun bukan berarti secara kualitaspun ketika diadu dengan organisasi kemahasiswaan lainnya juga akan menang.

Tulisan ini membahas Pertama, perihal problematika yang secara terus menerus diwariskan kepada kader. Kedua, mempertanyakan kebermanfaatan diadakannya IKAPMII untuk PMII. Ketiga, jaring laba-laba yang tidak dapat dibersihkan di PMII.

Warisan Problematika Kader PMII

Terdapat beberapa argumentasi mengapa kaderisasi harus tetap berjalan. Pertama, dari segi administratif yakni sebagai mandataris organisasi; Kedua, dari segi argumentasi idealis yakni sebagai alat pewaris nilai-nilai organisasi; Ketiga, dari segi pragmatis yakni sebagai persaingan antar kelompok; Keempat, dari segi taktis-strategis yakni sebagai bentuk pemberdayaan kader.

Dari segi administratif, kaderisasi wajib hukumnya untuk tetap berjalan. Dengan begitu secara kuantitas PMII akan selalu memiliki kader-kader sebagai penerus mandataris organisasi. Karena toh dari segi struktural kepengurusan perlu adanya regenerasi. Ketika adanya kader yang dapat dimandatkan sebagai penerus organisasi, maka dengan itu organisasi dianggap tetap bernafas. organisasipun akan hidup dan terus berjalan.

Dari segi argumentasi idealis tak kalah pentingnya sistem kaderisasi tetap harus berjalan. Dengan begitu, nilai-nilai ke-PMII-an dapat terus diwariskan. Dalam organisasi, idealisme wajib dimiliki oleh seluruh kader. Hal ini karena bersinggungan dengan nilai-nilai yang menjadi tonggak gerakan organisasi. Nilai-nilai ke-PMII-an tentu menjadi prioritas dalam bergerak.

Adapun tujuan PMII yakni “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.” –Kita garisbawahi kata “cakap” dalam alinea tersebut.

Dalam Anggaran Dasar Bab III Pasal 3 pun dijelaskan bahwa PMII bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi dan profesional. Keislaman adalah nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah; Kemahasiswaan adalah sifat yang dimiliki mahasiswa; Kebangsaan adalah nilai-nilai-nilai yang bersumber dari kultur, filosofi, sosiologi dan yuridis bangsa Indonesia; Kemasyarakatan adalah bersifat include; Independen adalah berdiri secara mandiri; Profesional adalah distribusi tugas dan wewenang sesuai dengan bakat, minat kemampuan dan keilmuan masing-masing. –Kita garisbawahi poin independen dan profesional.

Dari segi pragmatis yakni sebagai persaingan antar kelompok, hal ini lumrah terjadi. Persaingan antar kelompok, perebutan wilayah kekuasaan bak permainan yang wajib dijalankan oleh seluruh organisasi. Dengan begitu, siapa yang menang adalah ia yang jagoan dan tentulah visi, misi, tujuan bahkan grand desain yang diusung akan dapat diraih secara keseluruhan. Maka, persaingan sifatnya penting dalam organisasi.

Namun alih-alih bersaing antar kelompok organisasi, persaingan malah terjadi antar kader dalam satu organisasi. Tak terkecuali di PMII. Akhirnya management konflik diajarkan bukan sebagai taktik untuk melawan organisasi lain, tetapi management konflik sebagai alat berkonflik dengan sahabat sendiri. Bersaing untuk menunjukkan siapa yang superior, siapa yang intelek, siapa yang secara emotional dapat lebih dekat dengan senior organisasi.

Dari segi taktis-strategis yakni sebagai bentuk pemberdayaan kader. Problem umum yang hampir dialami oleh seluruh kader adalah tidak adanya jalan untuk ia mendapati pekerjaan yang dapat menunjang finansial pasca studi perkuliahan. Hal ini dikarenakan semasa kuliahnya ia lebih condong beraktivitas dalam organisasi yang cakupannya hanya perebutan fungsional di tataran kampus saja, seperti menyusun taktik bagaimana kursi jabatan ketua himpunan mahasiswa bahkan sampai kursi rektorat dapat diduduki oleh kaum dari organisasinya sendiri. Tanpa sempat memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh setelah final masa studinya.

Hal ini kemudian memunculkan stigma bahwa organisatoris sejati ialah yang semasa berorganisasi selalu terlibat dalam kontestasi politik kampus. Selain itu, eliminasi sebagai kader militan akan ia rasakan walau mendapati banyak prestasi akademik –yang mana dalam dunia pra kerja prestasi akademik turut dipertimbangkan–

Maka yang terlihat berdaya dan dikenal oleh IKAPMII dan bahkan dikenang oleh kader PMII lainnya hanyalah ia yang semasa berorganisasi memiliki jabatan atau terlibat kuat dalam perebutan meraih jabatan.

Tanpa meninggalkan watak idealis, realistis dalam menyusun hidup kedepan juga diperlukan. Sama halnya orang-orang yang menggaungkan revolusi, sejatinya ia tidak menolak mentah-mentah sistem produksi-reproduksi yang identik dengan penindasan oleh kaum kapitalis, tetapi kaum revolusioner menempuh cara dengan mensosialisasi alat-alat produksi. Dengan begitu terciptalah keadilan tanpa mengenal adanya pembanding atara kelas kuasa dan tertindas.

Jaring Laba-Laba Organisasi

Selayang pandang memberikan kesan bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa yang hanya berkecimpung pada kontestasi politik kampus saja. Toh kalaupun tidak perpolitikan, paradigma “organisasi aktif apabila melakukan banyak kegiatan” tertancap kuat pada mindset para penggeraknya dan selalu diwariskan pada generasi berikutnya. Maka, antar Rayon, Komisariat bahkan setingkat Pengurus Besar berlomba-lomba mengadakan acara –lebih sering bersifat ceremonial, seperti seminar, workshop, zoominar– tanpa ada tindak lanjut setelah acara tersebut berlangsung.

Bersaing saling mengadakan kegiatan agar terlihat aktif. Kemudian sifat keorganisasian PMII bukan lagi menjadi kaum revolusioner yang berpihak kepada kaum mustadh’afin, tetapi berubah menjadi event organizer team.

Dengan begitu, mahasiswa organisatoris yang telah memiliki kesadaran realistis terhadap kondisi finansial pasca menempuh sarjana tersebut lebih mengutamakan mencari pengalaman kerja, bergabung dengan LSM ataupun lembaga-lembaga magang lainnya walau ia tercantum masih sebagai pengurus aktif PMII. Karena dirasa PMII hanya sekadar wadah untuk mengadu skill politik. Sementara tidak semua kader berminat menerjunkan diri dalam dunia perpolitikan.

Sekali lagi penulis tekankan, realistis bukan berarti menanggalkan idealisme dalam berorganisasi. Penting memiliki dasar tentang idealisme dalam berPMII agar para penggerak PMII pun turut memperjuangkan nilai-nilai PMII. Tetapi, bagaimana bisa memperjuangkan nilai jikalau tidak ada progres skill?

Kembali pada Tujuan PMII dan AD Bab III Pasal 3 poin Independent dan Profesional: Cakap dalam mengamalkan ilmunya itu berarti bergerak sesuai bidang yang ia kuasai atau sesuai dengan keprofesian jurusan dalam perkuliahan. Independen adalah berdiri secara mandiri dengan adanya progress skill.  Profesional adalah distribusi tugas serta wewenang sesuai dengan bakat, minat kemampuan dan keilmuan masing-masing.

AD-ART IKAPMII BAB III Pasal 6: IKAPMII bertujuan untuk mengembangkan dan mendayagunakan seluruh potensi alumni PMII di berbagai bidang pengabdian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi terwujudnya masyarakat dan bangsa Indonesia yang sejahtera, maju dan mandiri, demokratis dan berkeadilan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang diridloi oleh Allah SWT.

Pasal 7 point b: Membina dan mendayagunakan seluruh potensi sumberdaya alumni PMII dalam upaya pengembangan karir dan profesinya di berbagai bidang pengabdian.

Dengan begitu maka sudah jelas pembinaan dan pendayagunaan potensi alumni pmii dalam hal pengembangan karir dan profesi tentunya tidak hanya pada ranah politik atau event organizer saja. Lembaga keprofesian layaknya organisasi kemahasiswaan islam lainnya juga dibutuhkan oleh kader PMII agar relasi dapat tertata rapi dan dilanjut pada proses pembinaan serta penyebaran kader berjalan dengan baik.

Yang baru ini dilahirkan adalah ADP (Asosiasi Dosen Pergerakan) tetapi bagaimana progres kedepannya? Apakah hanya momentum saja? Dan kemanakah arah geraknya? Jikalau toh menunjukkan progresnya, maka menjadi hal luar biasa. Kemudian diharapkan muncullah asosiasi-asosiasi lainnya. Semisal asosiasi pekerja intelektual lainnya, asosiasi tenaga kesehatan, asosiasi pengusaha dan lain sebagainya.

Adanya asosiasi-asosiasi tersebut diharap tidak hanya berkegiatan ceremonial saja, tetapi dapat terbukanya peluang untuk kader PMII berkesempatan sekadar magang mencari pengalaman atau bahkan menetap sebagai penggerak untuk bekal sebelum ia menitih karir sesungguhnya tanpa mengorbankan keaktifannya dalam ber PMII.

Jaring laba-laba ibarat suatu sarang yang hanya membuat kotor rumah saja. Terlihat dari luar tampak rapi dan kokoh, tetapi sebenarya tidak berfungsi apapun, malah muncul sebagai penghalang. Dari situlah mengapa jaring laba-laba di PMII ada dan susah terhapuskan. Karena seringnya keseluruhan yang mengatasnamakan PMII hanya bersifat momentum, ceremonial, stagnan dan tidak berkontribusi penuh pada PMII. Keuntungan hanya bisa di dapat oleh (lagi-lagi) mereka yang memiliki jabatan, atau dianggap sebagai tokoh berpengaruh karena selalu berhasil dalam kontestasi tertentu.

Fungsi IKAPMII (?)

Tidak dapat disalahkan bahwa seseorang memilih untuk lebih aktif pada organisasi yang dinilai dapat lebih memberikan manfaat dan meningkatkan kemampuannya dalam sektor tertentu. Permasalahan seperti ini justru sebenarnya menjadi tolak ukur tersendiri bagaimana agar organisasi PMII setidaknya menjadi prioritas bagi anggotanya.

Dengan begitu, kader PMII meninggalkan PMII untuk bekerja memenuhi kebutuhan finansialnya. Walhasil PMII secara perlahan kehilangan barisan setianya. Hal ini tentu berpengaruh kepada kinerja dan dedikasi kader terhadap PMII karena dirasa jejaring relasi termasuk IKAPMII yang telah dijangkar sejak lama tidak dapat membantu dalam memberikan kontribusi –setidaknya tempat untuk mengimplementasikan poin cakap, independen dan profesional tersebut.

Disadari atau tidak, disitulah tanggung jawab utama IKAPMII. Karena bakti yang dilakukan IKAPMII kepada PMII turut berimbas pada kader PMII sebagai generasi penggerak organisasi. Pada wilayah ini sesungguhnya posisi penting IKAPMII adalah sejauh mana IKAPMII berkontribusi secara aktif dan dalam bidang apa saja mereka membaktikan dirinya.

Perlu dipertanyakan apakah IKAPMII sebagai wadah berjejaring tersebut kemudian menjadi berguna? Melihat jaring laba-laba dalam PMII masih terajut kuat bahkan hingga saat ini.

Lalu, di posisi mana entitas IKAPMII dalam peresebaran alumninya? Apakah secara kuantitas dan kualitas berada pada posisi yang strategis? Sejauh mana perannya sebagai jangkar bagi kader PMII untuk meniti karir ke jenjang selanjutnya?

* tulisan ini bersifat menanti balasan dari IKAPMII.

Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

MAPABA Ke 3 STKIP Rokania Kab. Rokan Hulu Sukses Hasilkan 37 Anggota Mu’takid PMII

%d blogger menyukai ini: