Esai

WAFAT NYA ULAMA SEPUH YANG SANGAT NASIONALIS

4 Mins read

Oleh : Alwin Mahyudin

Saat menulis tulisan ini, tangan  dan otak-ku seperti kompak untuk melakukan pekerjaan nya untuk menggambarkan seorang tokoh manusia terbaik yang pernah Allah SWT lahirkan di bumi, penggalan surga, INDONESIA. Mungkin tulisan ini tidak secara ekplisit menggambarkan tentang nasionalis beliau secara keseluruhan. Karna jika hal itu ditulisankan semua mungkin tidak akan cukup waktu untuk menggambarkan dan menuliskan kekaguman penulis terhadap sosok beliau yang sangat kharismatik. Ya, sangat kharismatik beliau yang di maksud bernama Syaikhona K.H. Maimoen Zubair yang wafat pada hari selasa, 06 Agustus 2019 di tanah suci Mekkah dan di makamkan di Maqom Ma’la dekat dengan Sayidah Khodijah AlKubro RA, guru beliau Sayid Alawi al Maliki dan juga Abuya Sayid Muhammad Alawi al Maliki.

Dalam dewasa ini kita tidak lagi menemukan patron kebaikan untuk di jadikan motivasi, mungkin kita perlu kerumah sejarah untuk menghidupkan semangat mereka yang telah tiada. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan kondisi kita sebagai generasi saat ini yang tidak jelas arah nya. Mbah Moen memang telah tiada tapi semangat kebangsaan beliau masih sangat lekat dalam pikiran kita.

Dalam sebuah kisah ketika Mbah Moen mengumpulkan semua santrinya di pondok pesantren Al-Anwar Sarang Rembang beliau mengatakan Indonesia ini rumah-mu, jika belanda pernah menjajah kita itu wajar, karna itu bukan rumah nya. Tapi kita adalah orang Indonesia yang menjadi pribumi lalu merusak rumah kita sendiri inikan sangat aneh bin ajaib. Lalu, dengan mantap Beliau juga melanjutkan bahwa kita itu orang Indonesia yang beragama islam bukan orang islam yang tinggal di Indonesia. Menurut penulis, ini merupakan sebuah sebuah  filsafat dan kalimat sukar yang perlu penalaran yang cukup tinggi. Ketika kita telusuri silsilah keilmuan KH. Maimun Zubair ini merupakan seorang alim ulama yang merupakan murid dari Ulama besar Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Mbah Moen adalah ulama yang sangat dihormati, dia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Mbah Moen juga dikenal sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU). Sejak kecil dikenal sebagai anak yang taat akan agama. Pada tahun 1945 beliau bertolak ke Kota Kediri untuk mengasah ilmunya di Pondok Lirboyo, Jawa Timur yang pada saat itu di bawah pengasuhan KH Abdul Karim, KH Mahrus Ali dan KH Marzuki.

Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Mekkah Mukarromah pada usia 21 tahun. Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, KH. Maimun Zubair ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib. Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, KH. Maimun Zubair tetap menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.

Selain dikenal sebagai ulama, Mbah Moen juga dikenal sebagai politisi. Dalam dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang, Jawa Tengah selama 7 tahun. Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah selama tiga periode.

Dalam politik, Mbah Moen memilih bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di saat NU sedang ramai mendirikan PKB tahun 1998, Mbah Moen lebih memilih tetap di PPP, partai dengan gambar Ka’bah. Di PPP Mbah Moen menduduki posisi sebagai Ketua Mejelis Syariah PPP. Mbah Moen pernah mengatakan “Kehadiran PPP bukan hanya untuk agama (Islam), tapi untuk bangsa Indonesia,” kata Ulama karismatik pengasuh Ponpes Al-Anwar ini, saat menghadiri Harlah PPP di Bantul, (16/1/2019).

Inilah yang menarik dari seorang ulama kharismatik seperti Mbah, beliau tidak hanya di kenal sebagai ulama melainkan politisi yang sangat memperhatikan eksistensi kemanusiaan. Hal ini sangat kompak dengan yang pernah di katakana oleh Syaikhona K.H. Aburrahman Wahid atau yang lebih akrab dengan panggilan Gus Dur yang pernah mengatakan “ diatas politik itu kemanusiaan. Politik itu hanya jalan menuju kemanusiaan”. Menurut penulis, mengapa Mbah Moen mau berpartai politik mungkin jawaban yang tepat adalah kata yang pernah di ucapkan  oleh Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, H. Mahbub Djunaidi beliau mengatakan “ Manusia yang tidak berpolitik itu adalah binatang dan bintang yang berpolitik itu manusia”. Ya, karna seperti yang pernah di ungkapkan oleh seorang wartawan senior dari media harian Kompas, M. Bakir atau cak Bakir beliau mengatakan Mbah Moen merupakan orang yang paling konsisten dengan partai politiknya karna saat orang-orang NU berlomba-lomba masuk PKB beliau tetap konsisten di PPP alasan nya bahwa “ jika saya ke PKB, saya sangat bisa tapi kalau saya ke PKB siapa yang mengawal disini karna di partai ini tidak semua berfikir untuk kemaslahatan umat”.

Sorot matanya masih sangat tajam, pendengaran nya masih sangat jelas dan sangat kharismatik dari seorang Mbah Maimoen Zubair dan yang lebih penting beliau sangat konsisten mencintai Pancasila yang di aplikasikan dalam kehidupan nya. Hal ini, tidak mengherankan karna beliau merupakan ulama sepuh NU yang sudah menganggap Pancasila tidak lagi di pertentangkan. Bahkan menurut pengakuan santrinya di rumah beliau itu ada gambar Pancasila dan foto presiden dan wakilnya. Hal yang membuat penulis yakin bahwa beliau sangat nasionalis adalah ketika melihat semua ceramah beliau hampir semua akan di kaitkan dengan argument pendiri NU yang mengatakan Hubbul Wathon Minal Iman. Beliau sangat setia dalam mengawal NKRI. Selain itu guyon atau cek-cok beliau dalam narasi kebangsaan saat beliau mengganti kepanjangan PBNU yang biasa di kenal dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang di ganti dengan Pancasila, Bhikena Tunggal Ika, NKRI, Undang-undang 1945.

Dalam tubuh NU beliau berpesan bahwa Indonesia masih berdiri tegak karna ada ormas seperti NU yang masih sangat konsisten melawan paham yang berusaha merongrong kemajemukan negeri yang di bangun atas darah pahlawan yang telah mendahului kita. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbulla, Mbah Bisri Samsuri dan lain sebagai nya merupakan ulama-ulama Khartismatik yang menyejukkan. Inilah yang di terapkan oleh Almarhum waliyullah Mbah Moen bahwa islam itu bukan rahmatan lil muslimin tapi rahmatan lil alamin. Selain itu, beliau selalu menyampaikan bahwa agama itu tidak perlu di benturkan dengan kebanggsaan tapi jadikan agama sebagai pilar untuk memajukan bangsa dan Negara kita yang tercinta ini.

Kendari, 09 Agustus 2019

152 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Esai

MENYONGSONG GERAKAN LITERASI DI PMII “Literasi episentrum kemajuan kebudayaan dan peradaban (Djoko Saryono)”

3 Mins read
Berawal dari tulisan salah satu sahabat yang dimuat dalam Website Indoprogress, di dalamnya bermuara keresahan arah gerak PMII saat ini. Ia  menyebutkan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

Konsep Kepemimpinan Kihajar Dewantara sebagai Strategi Pendampingan Kader

3 Mins read
Oleh : Agus Nurhasan Pendahuluan Keinginan menghadirikan pemimpin yang benar-benar hebat untuk mendongkrak kinerja organisasi sudah menjadi fenomena universal. Dari masa ke… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

MUTUALISME RAYON PMII PENCERAHAN GALILEO DAN MAHASISWA (ANGGOTA-KADER)

2 Mins read
Oleh : Mat.Lajo Pada dasarnya rayon merupakan ruang laboratorium untuk aktualisasi ragam cara pikir atau proses ber-mahasiswa, dalam hal ini ibarat kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: