Opini

Surat Imajiner Untuk Mahbub Junaidi dari “Aku” Kader PMII

2 Mins read

Yang terhormat Bapak Mahbub Djunaidi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Semoga selalu senantisa berada dalam lindungan Allah SWT.

Sebelum menulis surat untukmu, izinkan aku untuk meminta maaf karena telah lancang mengirimkan surat. Aku hanya ingin bercerita perihal proses perjalananku di PMII ini.

Nampaknya, panggilan Bapak ataupun sahabat terlalu kaku digunakan, jadi izinkan aku untuk memanggilmu “Bung”. Bung Mahbub aku bangga menjadi kader PMII, namun di sisi lain aku juga ingin menangis telah menjadi kader PMII. (Ah.. sial, aku lupa menanyakan kabarmu Bung) Bagaimana kabarmu disana? Kuharap Bung baik-baik saja, meski saat ini kabar dunia tak lagi baik-baik saja dan hal tersebut pun juga terasa pada kondisi kadermu Bung.

Bung, ketika aku mahasiswa baru, aku bangga menjadi kader PMII. Sebab seniorku mengajakku mengasah nalar kritis, setiap diskusi aku disodorkan dengan buku dan tulisan-tulisan yang membuat pikiranku gelisah, lalu cepat-cepat aku menanyakan hal itu. Saat itu, aku percaya bahwa aku tak salah dalam memilih organisasi.

Dua tahun berlalu, Bung. Bisakah engkau menebak prosesku setelah itu? Ternyata malah sebaliknya, aku gelisah dengan organisasi ini. Organisasi ini tidak lagi menawarkan nalar kritisnya. Mirisnya Bung, aku tak lagi menemukan orang-orang yang suka dengan buku, bahkan bagi mereka buku dianggap sebagai sesuatu yang asing. Sungguh irionis Bung, terkadang aku sampai meneteskan air mata  mengingat itu.

Bung, tau  tidak? Bahwa lambat laun organisasi ini kehilangan ghiroh dalam merawat kewarasan. Bagaimana tidak Bung, sekarang organisasi ini dijadikan jembatan untuk naik pangkat. Maaf bung, hal ini kukira hanya dalam lingkup kampus saja, namun parahnya hal ini beredar ke tingkat atas pula. Aku harus bagaimana Bung? Untuk merawat kewarasanku. Disisi lain, aku telah berjanjiuntuk tidak meyerah dalam kondisi apapun.  Namun, di sisi lain aku malu telah berada dalam lingkup ini.

Aku mencoba mencari kader yang masih berada di bawah garis kewarasan, aku mencoba mencari buku yang masih menjaga nalarku, aku mencoba mencari tempat diskusi dimana  pertanyaanku akan  terjawab. Namun Bung, untuk mencari kader itu sungguh membosankan dan hampir yang kutemukan tidak lagi menyukai hal itu.

Aku mencoba menerima itu, Bung. Tapi, jiwaku seakan memberontak. Aku percaya bahwa perdaban akan musnah jika tidak ada lagi orang yang suka dengan buku, tidak lagi ada orang suka berdiskusi dan tidak ada lagi orang yang memiliki himmah menuliskan sesuatu. Aku takut jika mana PMII seperti itu. Padahal, PMII bukanlah organisasi seumuran jagung.

Mirisnya, banyak kader PMII yang mengaku dirinya aktivis PMII, Bung. Mari merefleksikan bahwa kata aktivis bukahlah seorang yang hanya berjuang untuk kegiatan yang subtansinya happy and fun. Namun, kata aktivis adalah seseorang yang berpihak kepada kaum yang tertindas. Seharusnya,  PMII saat ini tidak lagi berbicara bagaimana kader PMII menduduki posisi yang strategis (itu mah malah tidak penting untuk dibicarakan). Kemarin, cobalah membuka catatan merah untuk PMII perihal kader PMII yang terlibat korupsi di sektor pemerintah pusat. Sungguh, hal itu tamparan maut untuk kader PMII (yang seperti aku).

Bung, apakah aku salah jika mengatakan bahwa “kader PMII haruslah berpihak dan tidak lagi mencari kepentingan.” Jika aku salah, maafkan aku Bung. Sebab aku tidak lagi punya massa dan uang untuk mengubah itu. Bung, sahabat-sahabatiku banyak yang murtad  dari organisasi ini, katanya mereka tidak lagi mendapatkan hal yang positif di PMII. Aku hanya bisa diam Bung menanggapi perkataan mereka. Mereka sebenaranya tak salah, maupun tidak juga benar. Maafkan aku Bung, telah membawa kabar yang terlampau sedih kepadamu. Tapi aku tahu Bung, bahwa sebenaranya PMII tak pernah mengajarakan hal yang buruk. Sebab, organisasi mengajarkan hal yang baik.

Mungkin hanya ini surat yang bisa kusampaikan padamu Bung, meski masih banyak yang ingin kukatakan. Apabila ada kekurangan dalam tutur kataku, mohon maafkan aku.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thoriq
Wassalamu ’alaikum Wr. Wb.
Tangan Terkempal dan Maju Kemuka!

Editor: Nzuhriah

Related posts
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Opini

Dua Wajah Mahbub Djunaidi; Mimbar PMII dan Lembar Karya Seni

%d blogger menyukai ini: