Opini

SOLIDARITAS, STATUS SOSIAL, DAN PANDEMI COVID-19

3 Mins read

Oleh : Luxemburg

Salah satu repsons serta kritikan yang mengundang kontroversi terhadap pidato yang disampaikan oleh Juru Bicara Pandemi Covid-19 (Achmad Yurianto) “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”. Argumen semacam ini, seakan menitik beratkan bahwa salah satu penyebar virus yang mematikan disebabkan oleh status sosial. Tapi, benarkah si miskin dapat menularkan penyakit itu? atau sebaliknya?. Dan apa kaitannya dengan status sosial dengan penyebaran Covid-19?.

Asal muasal Pandemi Covid-19 dan Penyebarannya di Indonesia.

Akhir – akhir ini dunia seakan menerima berita duka dengan lahirnya virus baru yaitu Covid-19. Berita ini muncul pertama kali dari Kota Wuhan, China yang gempar dan menghebohkan seisi penjuru dunia dengan korban yang terus berjatuhan. Namun, virus yang berubah menjadi penyakit itu, bukan secara tiba-tiba muncul tanpa sebab.

Terkait dengan lahirnya virus Covid-19 memiliki banyak versi, pertama, dengan adanya anggapan bahwa Covid-19 merupakan senjata biologis atau buatan manusia yang sengaja diciptkan, selain itu diperkuat dengan anggapan Juru Bicara Kemetrian Luar Negeri China, Zhina Lijian mengatakan “Bisa jadi US Army atau tentara AS yang membawa epidemi itu ke Wuhan”1.

Kedua, Covid-19 disebakan karena hewan salah satunya adalah kelelawar, anggapan yang terakhir mengutip dari perkataan Arif  Novianto dalam artikelnya yang bejudul “Pegebluk Covid-19 sebagai Bencana Kapitalisme: Permasalahan dan Perjuangan ke Depan” bahwa lahirnya Covid-19 merupakan salah satu hubungan manusia dengan non-manusia yang akhir – akhir ini sering mengeksploitasi alam hingga beberapa hewan dan mikroorganisme harus kehilangan habitnya sehingga, virus maupun bakteri harus menumpang hidup di tubuh manusia hingga, menyebabkan penyakit2.

Tak heran jika Indonesia rentan mengalami penyebaran virus tesebut sebab, ahli fungsi lahan yang terus dieksploitasi bak bagaikan tradisi yang setiap tahunnya terjadi. Ketidakseimbangan alam tersebutlah merusak tatanan kehidupan, yang pada awalnya menjadi simbiosis mutualisme malah mengarah pada simbiosis parasitisme.

Pada mulanya Indonesia dengan gagahnya menyatakan bahwa tidak akan pernah terjangkit virus itu namun, sebaliknya pada tanggal 2 Maret 2019 Presiden mengumumkan bahwa Warga Negara Indonesia terdapat 2 orang yang terjangkit positif  virus Covid-19. Hal tersebut disebabkan karena berinteraksi secara langsung dengan Warga Negara Jepang yang tak lama berkunjung ke Indonesia.

Pandemi Covid-19 dengan Status Sosial

LIPI menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara kaya akan sumber daya alam, namun sangat disayangkan kekayaan itu tidak bisa terjangkau di banyak kalangan hanya segilintiran orang yang dapat memanfaatkan kekayaan tersebut. Oleh karena itu, yang kaya akan tetap menimbun kekayaannya dan yang miskin akan terus miskin selama sistem itu berpihak pada si kaya. Meminjam perkataan Muhammad Ridha (2020) Kekayaan yang dimiliki oleh orang kaya merupakan instrument utama dalam mempertahankan kekayaannya. Sekalipun menyuap elite politik untuk memihak mereka.

Hal tersebut, terang dan tak samar diungkapkan oleh Juru Bicara Covid-19 “yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”. Seakan Bapak Juru Bicara Covid – 19 tersebut, memihak kepada si kaya. Jika, memakai penalaran secara rasional mana mungkin masyarakat yang berekonomian rendah memiliki interaksi secara intens dengan orang luar negeri atau bahkan jalan – jalan ke Luar Negeri, itu sangat tidak rasional. Makan saja untuk esok masih memikirkan apalagi untuk pergi jalan – jalan ke luar kota saja masih berpikir panjang.

Stetment itu malah memperkeruh keadaan serta membuat kesenjangan sosial saja. Seharunya, membagun aura positif untuk meningkatkan imun dengan baik malah sebaliknya. Status sosial di Indonesia seakan menjadi indikator dari kualitas kehidupan manusia. Si miskin yang tak memiliki kekayaan rentan berpenyakit dan dapat menularkan penyakit sebaliknya, si kaya memiliki kekayaan terlindungi karena kekayaannya bak ibarat antibodi.

Solidaritas untuk Pandemi Covid-19

Kemunculan wabah ini menjadi semakin berbahaya sebab ketidakmampuan pemerintah dalam hal pencegahan dan penangannya. Media sosial ramai dengan hestag diam dirumah saja. Empat balas hari diam di rumah saja tanpa pendapatan bagi kalangan rendah itu bukan solusi malah menimbulkan masalah baru.

Simpang siur terkait lokdown antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah menjadi problem tersendiri karena disebabkan, belum ada kesiapan perihal perekonomian. Selain itu, kesedian bahan medis untuk dokter, relawan ataupun pasien jauh dari kata standar.

Hinggat, tak jarang gerakan sosial atas nama kemanusian berlomba – lomba untuk menggalang dana terkait penanganan pandemi Covid-19. Ini menjadi hal yang langkah dan perlu terus dibumingkan agar semboyan Bhineka Tunggal Ika bukan hanya semboyan yang dihafalkan ketika di Sekolah Dasar.

Namun, akhir – akhir ini dikagetkan dengan pernyataan Juru Bicara Covid-19 untuk mengerakan solidaritas atupun kerjasama antara sesama “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya”. Solidaritasn ataupun kerjasama yang disampaikan oleh Juru Bicara Covid-19 merupakan kesesatan dalam berpikir (Logical fallacy). Seharunya, dalam membagun solidaritas atas kemanusian tidak seharusya menggunakan ataupun membandingkan status kelas.

Daftar Pustaka

1 Liputan 6, https://m.liputan6.com/global/read/4205568/ilmuwan-virus-corona-covid-19-berasal-dari-alam-bukan-buatan-manusia/.
2 Arif  Novianto, Pegebluk Covid-19 sebagai Bencana Kapitalisme: Permasalahan dan Perjuangan ke Depan”, Sumber : https://bukuprogresif.com/2020/03/27/pegevluk-covid-19-sebagai-bencana-kapitalisme-permasalahan-dan-perjuangan-ke-depan/.
Mudhoffir Mughis Abdil, dkk. 2020. Oligarki Teori dan Kritik. Tangerang : Marjin Kiri.

144 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: