Cerita Sahabat

Sang Sexy Killer, Pejuang Advokasi Kasus Pertambangan

1 Mins read

Sahabat hebat dari Borneo Timur, Merah Johansyah Ismail seorang pegiat advokasi dalam kasus-kasus eksploitasi pertambangan. Mewakili Kalimantan dalam pembentukan FNKSDA di Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh aktivis aktivis yang bergerak dalam bidang eksploitasi pertambangan.

Merah Johansyah sudah menjadi aktivis sejak menjadi mahasisa. Merah Johansyah aktif berproses di organisasi mahasiswa, baik di Internal kampus maupun eksternal kampus. Di organisasi internal kampus, beliau aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Syariah STAIN Samarinda pada 2005-2006, Merah Johansyah juga terpilih menjadi Presiden Mahasiswa BEM STAIN. Sementara di organisasi mahasiswa, Merah Johansyah berproses di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Samarinda.

Ketika berproses di PMII, beliau pernah menjadi Kepala Advokasi PKC Pengurus Koordinator Cabang Kalimantan Timur. Hal ini menjadi bekal Merah Johansyah untuk menjadi salah satu produser film Sexy Killers (yang disutradarai Dandhy Laksono), bersama produser lain. Film Dokumenter Investigatif ini sempat mengguncang dunia politik Pemilu dengan menyodorkan fakta dan data hasil investigasi JATAM, bersama organisasi lainnya tentang perusakan tambang dan hubungannya dengan Pemilu. Film ini telah disaksikan 27 juta penonton dalam waktu singkat melalui kanal youtube.

Dengan keterlibatannya yang intens di bidang advokasi sejak berproses di PMII, Merah bisa memiliki bekal yang cukup pada bidang advokasi pertambangan dan jaringan FNKSDA, Merah Johansyah sering diminta menjadi pembicara di tingkat nasional. Misalnya, Merah Johan pernah diminta menjadi narasumber utama United Nation on Environment Programme (UNEP); dan juga mengikuti sejumlah forum internasional dan regional. Merah Johansyah juga diberi kesempatan untuk mengikuti beberapa Beasiswa Short Course mengenai HAM dan Ekologi. Pandangannya, yang mengaitkan tentang tanah, Aswaja, dan Syaikh Arsyad, Merah menegaskan bahwa pembelaan terhadap NKRI, seharusnya tidak berfokus pada area kaku NKRI, namun juga pada beberapa aspek antara lain aspek tanah dan isinya. Menurutnya, tanpa otoritas atas tanah dan air, tak akan mungkin bertumbuh dengan baik Islam dan Aswaja di negeri ini.

135 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Upgrading Pengurus KOPRI Sunan Ampel Masa Khidmah 2021-2022 : Maping Kaderisasi dan Gerakan perempuan harus menjadi prioritas!

%d blogger menyukai ini: