Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read

Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”
“Galileo Galilei”

Itulah kata bijak dari seorang ahli Fisika yakni Galileo Galilei. Sebelumnya, jika kalimat bijak itu tidak diimbangi dengan kesadaran maka, akan jatuh pada suatu kata yang tak bermakna. Sadari atau tidak, kalimat itu mengajak bahwa setiap manusia butuh dipeluk dengan cara mereka masing-masing dalam melakukan prosesnya. Pelukan itu lebih berharga ketimbang apapun kalau kata Gus Dur “Lebih penting dari pada pertemanan adalah Simbiosis Mutualisme”.

Pada proses pengalaman mencari ilmu, galileo hendak mengajarkan pada kami semua bahwa setiap orang patut untuk menyelami pengetahuan sesuai dengan kesukaannya. Jika ingin dibedah mendalam bahwa sebenarnya gelileo hendak mengajarkan sebuah pendidikan yang pedagogi dimana, dialog kebebasan atas seorang pembelajar murni iya dapatkan dalam dirinya. Paulo Freire mengatakan “Semakin cepat dialog dimulai, gerakan revolusi akan semakin murni. Dialog akan teramat penting dalam revolusi ini, sesuai dengan kebutuhan dasar lain: kebutuhan manusia sebagai makhluk yang tidak akan menjadi benar-benar manusiawi tanpa adanya komunikasi, sebab mereka pada hakikatnya adalah makhluk komunikatifHingga “Setiap manusia memperoleh kembali hak untuk mengucapkan perkataannya sendiri untuk memaknai dunia”.

Asal Usul PMII Pencerahan Galileo

Berkaca pada pemikiran Galileo, Gus Dur, dan Paulo diatas, sejatinya semua lahir dari kesadaran akan ilmu. Kesadaran awal dalam membentuk suatu tananan baru yang berkeadilan dan berpihak. Mengapa penulis mengatakan berpihak? Sebab, tidak ada pengetahuan yang netral, karena ia akan selalu berpihak, utamanya kepada kaum yang tertindas (mustadhafien).

Kalau ingin berbicara tentang tatanan baru setidak-tidaknya kita akan berbicara soal sistem. Manakala sistem dibangun seharusya juga diiringi dengan ketersediaan wadah untuk menjalankan sistem tersebut. Dalam konteks ini, sistem yang dimaksud adalah “Gerakan Pencerahan PMII” untuk mencapai tujuan mulianya, yaitu: “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Adapun wadah yang dimaksud salah satunya adalah Rayon Pencerahan Galileo (RPG), yang kelahirannya didorong oleh itikad baik, dibidani oleh kader-kader terbaik, dan dibesarkan dalam ekosistem yang konstruktif, kolektif dan kolegial.

Kelahiran PMII Rayon Pencerahan Galileo tidak lepas dari berdirinya Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang terdiri dari program studi Biologi dan Matematika pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang tahun ajaran 2000/2001, yang kini telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Sebelumnya, dua program studi tersebut berada di bawah naungan Fakultas Tarbiyah, sehingga kader-kader pergerakan di dalamnya juga tergabung dalam Rayon Chondrodimuko.

Inisiasi pembentukan Rayon pada Fakultas MIPA dibahas dan ditetapkan dalam Rapat Tahunan Komisariat PMII Sunan Ampel STAIN Malang pada tahun tersebut. Meskipun sempat terjadi dinamika, ada yang pro dan ada yang kontra, niat baik kader-kader eksakta tersebut pada akhirnya mendapat dukungan, sekaligus tantangan untuk membuktikan diri sebagai wadah baru PMII.

Sejarah mencatat, 11 orang kader telah bermusyawarah untuk membentuk struktur kepengurusan periode pertama pada tanggal 10 Juni 2000 di Gedung J-4 STAIN Malang, yang saat ini telah diubah menjadi Gedung B UIN Malang. Meskipun masih menyisakan pekerjaan rumah bagi para pengurus baru, yaitu menetapkan nama sebagai identitas yang melekat pada wadah sekaligus kader-kader nya.

Itikad baik dari pendirian Rayon Galileo untuk mewadahi kader PMII “eksakta” semata untuk belajar menjadi lebih mandiri dalam bersikap, bertindak, beraktualisasi diri dan menjalani aktivitas pengkaderan sesuai dengan karakter mahasiswa program studi. Tujuan lainnya adalah membentuk pribadi yang berkualitas, profesional, terampil dan responsif, sehingga pada akhirnya sanggup menginfaqkan dirinya bagi kepentingan masyarakat dan bangsa.

Asal-usul nama Rayon juga menyimpan cerita, berbeda dari yang telah ada, menawarkan tokoh di luar nama para ulama’, tentu saja menuai cela dan berbagai sakwasangka. Para pengurus inti Rayon yang berlatar belakang program studi Biologi dan Matematika kala itu bermusyawarah mufakat, mencari dan membahas tokoh dan figur terbaik, yang pada akhirnya bersepakat untuk mengusung nama Rayon Galileo.

Kalau boleh dibilang mengapa disepakati “Galileo” secara tidak langsung para pendirinya mengharapkan pengetahuan yang dimiliki oleh kader selalu mengarah pada kebenaran dan keberpihakan sebagaimana “Galileo”, yang terbunuh disebabkan kokoh dan gigih untuk memperjuangkan kebenaranya atas ilmu yang digelutinya. Meminjam perkataan Gramsci soal “Intelektual Organik” Ia mengatakan bahwa sebuah kekuatan bahkan kualitas individu sebagai lapisan yang secara kritis dan sadar megubah gerak sejarah. Artinya, Seseorang yang melalui perbuatan mengubah pikiran terlebih dahulu hingga menjadi pegangan untuk mendorong bahkan memunculkan persepktif baru dalam upaya membongkar ketidakadilan.

Selanjutnya mengapa diberikan kata “pencerahan” sebelum kata “Galileo”. Kata para pendahulu siapa yang tidak mengetahui bahwa anak MIPA atau Sains dan Teknologi terkesan pragmatis, egois, dan individual. Oleh karena itu, yang demikianlah para kader meletakkan kata tersebut dengan tujuan untuk mengupayakan membuka pola pikir mahasiswa MIPA atau Sains dan Teknologi yang lebih luas dan tidak terkotak-kotak mempunyai daya pikir kritis dan professional hingga berpihak.

Penulis berkesimpulan bahwa pendiri “Galileo” terdahulu sangat meninginkan berubahan berpikir terdahalu dalam proses selanjutnya. Sebab, pola pikir itulah yang akan mempengaruhi kemana dan dimana kader “Galileo” berpijak dalam mengaktualisasikan pengetahuannya.

Merawat Tujuan Demi Pencerahan

Paling sukar dari kesemuanya adalah merawat sebab, hal tersebut sama halnya dengan istiqomah. Istiqomah merupakan kebaikan yang dilakukan secara terus-menerus. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Kahfi ayat 46 yakni “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”. Ketika dikorelasikan dengan tujuan PMII Rayon “Pencerahan” Galileo maka, harapan akan mengarahkan semua kualitas pribadinya bagi kepentingan Masyarakat dan bangsa akan semakin terwujud. Namun, pertanyaannya bagaimana merawat tujuan itu? Sebelum berbicarakan akibat akan tujuan yang nantinya terwujud? Sebab, tidak ada sesuatu yang langsung jatuh dari langit pastinya membutuhkan proses yang tidak sukar namun, tidak gampang. Artinya, apa ? Sila simpulkan sendiri, sahabatku.

Kalau bicara merawat saya selalu menukil perkataan sahabat saya “Galileo itu tentang pengabdian menjadi utama, dibanding kepentingan”. Sebelum itu, pasti ada pertanyaan apa korelasi antara pengabdian dan merawat? Asumsi saya begini kalau aktivitas merawat itu butuh nafas yang panjang dalam melakukan aktivitas di PMII tanpa ada gaji maka, seharusnya pengabdian itulah yang akan menjadi jawabannya. Pengabdian itu bukan saol berapa banyak sahabat berkerja lalu, dibayar. Namun, persoalan, berapa banyak konstribusi yang dihasilkan untuk PMII. Sebagaimana, Nilai Dasar Pergerakan atau NDP yang telah mengajarkan kader bahwa apabila kita mengabdikan diri pada alam dan manusia maka, secara tidak langsung kita mengabdikan diri kita kepada Maha pencipta alam ini.

Pengabdian akan selalu diikuti dengan kesadaran akan apapun terutama kesadaran akan ilmu. Kesadaran akan kehampaan ilmu menjadi instrumen dalam merawat tujuan tersebut. Pada posisi ini, menjadi poin utama dalam merawat tujuan PMII Rayon “Pencerahan” Galileo. Kalau kata Prof. Djoko Saryono literasi sebagai episentrum peradaban. Tentunya, peradaban baru akan dilahirkan oleh para kader PMII Rayon “Pencerahan” Galileo melalui pengetahuannya.

Jika mana pengetahuan menjadi landasan utama dalam setiap pijakan kader. Maka, kader tidak mudah menghakimi, tak mudah menyimpulkan sesuatu tanpa dasar, tak mudah berucap tanpa tujuan, menulis tanpa data serta melihat dengan banyak persepektif terus menanyakan sebab akibat. Maka, kita berada di titik pencerahan, sahabat. Pencerahan dalam mewujudkan tujuan sebagaimana yang telah diulas diatas.

Salah satu pendiri menjelaskan pula bahwa kata pencerahan merupakan harapan awal bahwa suatu saat akan lahir sebuah masa kejayaan dimana, kader Galileo akan melahirkan sebuah karya yang memuat gagasan baru di tubuh PMII. Atau barangkali sebagai upaya dalam menyongsong gerakan literasi di PMII khusunya PMII Rayon “Pencerahan” Galileo. Terbukti dengan adanya buku pertama yang berjudul PMII dalam Bingkai Eksakta lalu dilanjutkan pada buku kedua yaitu Dualisme Kader Eksakta dan yang terakhir yakni Gerakan kader dalam membangun kesadaran Ekologi; Sebuah Diskursus dan Pengalaman di Lapangan.

Namun, perlu di garis bawahi bahwa karya itu tidak hanya cukup menjadi gagasan. Akan tetapi, perlu ditransformasikan dengan tindakan yang kongkrit. Setidaknya, memperluas suatu gerakan yang berpihak menjadi isu yang harus terus dibicarakan dalam kader ya,,,,, sebagi upaya untuk mewujudkan cita-cita PMII Rayon “Pencerahan” Galileo. Gus Nuruddin selaku Ketua IKAPMII Kota Malag mengatakan bahwa “PMII membutuhkan komunitas yang epistemik dalam memperluas gerakanya”. Komunitas Epistemik yang dimaksud adalah sebagai salah satu wadah alternative kader dalam mengaktualisasikan pengetahuannya sesuai dengan bakat dan pengetahuannya.

PMII adalah organisasi kaderisasi namun disamping itu jangan sampai dijadikan sebagai ternak kader yang hanya menumpuk kader namun, tak berkualitas dalam segi apapun. Hemat penulis begini, bahwa tak berkualitas adalah tak memberikan konstribusi apapun baik secara pengetahuan maupun gerakan. Sebab, berbagai hal maka penting untuk merefleksikan kembali konsep kaderisasi. Namun, bagi saya pribadi yang paling sederhana adalah dengan mengajak untuk melakukan gerakan intelektual dalam keberpihakan sebab, hari ini sukar untuk menemukan hal itu. Keberpihakan dalam hal ini adalah memperjuangan suatu kebenaran atas yang diyakininya benar sesuai dengan nilai dasar pergerakan. Jika, itu melanggar atau tidak sesuai dengan NDP maka atau sebaliknya ditinggalkan aktivitas tersebut.             Jika, PMII adalah tempat untuk berproses maka, hidupkanlah tempat itu. Tempat itu akan dinilai baik apabila orang didalamnya memiliki tatanan konsep yang baik pula. Sebab, semua organisasi akan mengajarkan kebaikan namun, kebaikan perlu dirawat dengan pengetahuan akan kebenaran dan keadilan. Tetaplah merawat tradisi intelektual yang mejadi ciri khas kita, sahabat-sahabatiku PMII.

Related posts
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

“KARTINI DAY” (KARTINI MASA KINI)

1 Mins read
Oleh    : Masniyar (PMII STMIK BA BULUKUMBA) Rabu, 21 April 2021 Sosok Perempuan yang menjadi pembahasan menarik dan tidak pernah habis sepanjang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII dan Ketertinggalannya di Media

4 Mins read
Siapa yang menguasai media, maka dia akan menguasai dunia Kalimat tersebut tentunya sudah sering kita dengarkan baik saat duduk melingkar berdiskusi ataupun… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Silaturahim dengan Wakil Bupati: PC PMII Pringsewu Paparkan Agenda Program

%d blogger menyukai ini: