Opini

PMII dan Ketertinggalannya di Media

4 Mins read

Siapa yang menguasai media, maka dia akan menguasai dunia

Kalimat tersebut tentunya sudah sering kita dengarkan baik saat duduk melingkar berdiskusi ataupun dari bacaan-bacaan buku, artikel maupun quote yang sering muncul di media sosial kita. Entah bagaimana awalnya kalimat tersebut bisa sangat familier bagi kita, jelasnya saya tidak tahu persis. Jika pun Sahabat-sahabati masih kepo tentunya sangat mudah mengaksesnya di google. Di era kemajuan teknologi seperti ini, sudah sepatutnya juga digunakan sebagai alat untuk mengupgrade diri bukan malah sebaliknya.

Media menjadi kekuatan yang besar untuk menguasai dunia, hal ini terbukti saat Hilter dan partainya Nazi menggunakan media sebagai alat propaganda untuk memenangkan dan melanggengkan kekuasaannya. Begitu pula pada jaman penjajahan di Indonesia, di mana dr. Tirto pertama kali menggunakan surat kabar dalam membentuk pendapat umum untuk melawan penjajah. Sampai hari ini pun media online dan media sosial masih menjadi tempat penyebaran isu kepentingan penguasa dan sekaligus menjadi alat untuk menyadarkan masyarakat.

PMII sebagai organisasi yang besar dan memiliki struktur dari pengurus besar sampai ke struktural terkecil yakni rayon, harusnya mempunyai media di masing-masing struktur. Namun sebelum jauh berbicara media di masing-masing struktur, ada baiknya kita merefleksikan diri sejauh mana kesadaran kita akan pentingnya media dan sejauh mana PMII secara individu kader maupun secara Lembaga menggunakan media untuk kepentingan PMII?

Syukur jika memang ada yang sadar akan pentingnya media, apalagi kesadaran tersebut secara kelembagaan. Jika tidak, lantas bagaimana rayon dapat menguasai tataran fakultas atau Komisariat dapat menguasai kampus, merujuk pada kutipan tadi. Oleh karena itu, penting sekali untuk terus menyadarkan para kader PMII akan pentingnya media.

Apakah PMII memang ketinggalan jaman dalam ranah media? Mari coba kita uraikan sejauh mana PMII menggunakan media sebagai alat perjuangan dan penanaman nilai?

Media alternatif yang sekedar informatif

Terlalu mengkhayal rasanya jika PMII memiliki media profesional yang benar-benar menjadi ujung tombak gerakan dan penanaman nilai. kita lihat saja media sosial dari masing-masing lembaga di setiap struktural. Misalnya akun Instagram-karena sepertinya media sosial itu saja yang masif digunakan oleh PMII-. Sebenarnya Instagram memang menjadi media sosial yang penting untuk dikuasai oleh PMII karena media tersebut sangat disukai oleh anak-anak muda.

Sejauh yang saya amati media Instagram dari masing-masing lembaga hanya sebatas memuat informasi kegiatan dan ucapan peringatan. Setidaknya dalam mengelola media alternatif PMII, harus mengerti sekurang-kurangnya 3 fungsi dari adanya media tersebut. Fungsi yang pertama adalah sebagai ajang eksistensi, kedua sebagai edukasi atau penanaman nilai dan yang terakhir fungsinya sebagai alat dalam ranah Gerakan.

Tapi untungnya media alternatif PMII tidak ketinggalan jaman bangetlah, karena sekarang sudah banyak yang sadar pentingnya mengelola Instagram dengan menata feednya agar terlihat menarik dan rapi. Ya meskipun belum sadar dan beranjak untuk menata konten sesuai dengan fungsinya. Selain itu, dengan banyaknya media Instagram PMII di luar struktural yang bermunculan memberikan warna tersendiri dengan corak dan khasnya masing-masing, sehingga membuat PMII juga terlihat aktif menggunakan Instagram sebagai alat perjuangan.

Aksi Massa atau Media Massa?

Ketinggalan jamannya atau bahasa halusnya ketidaksadaran kader PMII terkait pentingnya media juga bisa dilihat dari gerakannya. Beberapa kali isu-isu atau permasalahan sosial yang muncul dan tentunya sering ditanggapi reaksioner oleh kader-kader PMII dengan cara yang masih kuno yakni turun ke jalan. Cara-cara mengumpulkan aksi massa dan turun ke jalan merupakan cerita yang sangat heroik ditahun 1966 dan 1998, di mana aksi besar tersebut dimotori oleh kaum mahasiswa.

Di era sekarang apakah masih relevan? Untuk beberapa hal saya akui masih sangat relevan. tapi apakah kita sebagai mahasiswa dan seorang aktivis yang memiliki pengetahuan lebih selalu terus menerus menggunakan cara tersebut? Lalu apa bedanya kita dengan yang lain. Bukankah akhir-akhir ini banyak sekali demonstrasi yang dimotori oleh bukan mahasiswa. Sudah waktunya dan seharusnya kita menggunakan cara-cara yang lebih kreatif dan memaksimalkan media massa sebagai alat kontrol sosial.

PMII trending?

Beberapa hari yang lalu PMII melakukan perhelatan akbar, yakni Kongres PMII yang ke-20. Saya sebagai kader PMII ikut bangga ketika mengetahui bahwa PMII Organisasi kemahasiswaan pertama yang melaksanakan Kongres secara Hybrid. Sungguh kemajuan luar biasa yang dilakukan oleh PMII, meskipun hal tersebut bukan hasil dari ide kreatif atas menjawab tantangan zaman. Munculnya ide tersebut disebabkan adanya wabah Covid-19, oleh karena itu wabah Covid-19 tersebut juga merupakan sebuah pijakan bagi PMII untuk meloncat lebih jauh dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi.

Terlepas dari kebanggaan tersebut, ada sedikit rasa kecewa ketika kegiatan akbar yang dilaksanakan oleh organisasi yang memiliki 230 cabang, 24 koordinator cabang dan entah berapa juta kader (klaimnya seperti itu, karena belum ada database kader yang jelas dan transparan) tidak menjadi trending topik di twitter. Saya kira dengan jumlah kader yang berjuta-juta tersebut tentunya sangat mudah untuk membuat trending topik. Pemerintah saja dengan beberapa buzzernya bisa, masak PMII tidak?

Pada akhirnya saya sadar bahwa kita kader-kader PMII ini sangat mudah untuk berkumpul; tapi susah untuk diajak berbaris. Tapi untuk membuat tranding topik memang tidak perlu menunggu semua kader sadar dan tertarik. Kita hanya butuh beberapa kader saja yang mau dilatih dan mau di ajak baris. Karena seperti yang saya ketahui hanya butuh 5-10 orang untung membuat trending topik di twitter.

Adakah Influencer atau Youtuber dari Kader PMII?

Influencer ataupun Youtuber seperti yang kita ketahui sekarang sering sekali menerima endorse dari perusahaan atau dari perseorangan pelaku usaha. Cara marketing pemasaran produk di dunia digital mulai bergeser, yang awalnya hanya lewat iklan sekarang bergeser melalui review influencer. Fenomena seperti ini seharusnya yang perlu di tangkap juga oleh PMII.

Mungkin beberapa kader banyak yang memiliki followers atau subscriber yang berjuta-juta. namun pertanyaan selanjutnya apakah mereka intens membicarakan nilai-nilai PMII di media sosialnya? Jika pun tidak, bagi saya hal yang wajar ketika itu semua mereka dapatkan tanpa ada kaitannya dengan PMII. Maka dari itu kaderisasi PMII juga perlu menyiapkan kader-kader influencer dan youtuber untuk menjadi agen dalam ranah perjuangan dan penanaman nilai.

Pada akhirnya, tulisan ini tidak ada kesimpulan yang bisa diberikan, ini hanya kegelisahan-kegelisahan saya sebagai kader PMII yang sedikit banyak bergerak di bidang media. Oleh karena itu mari kita pikirkan bersama bagai mana PMII seharusnya ketika disandingkan dengan media?

Editor: Nzuhriah

Related posts
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read
“Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”“Galileo Galilei” Itulah kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

“KARTINI DAY” (KARTINI MASA KINI)

1 Mins read
Oleh    : Masniyar (PMII STMIK BA BULUKUMBA) Rabu, 21 April 2021 Sosok Perempuan yang menjadi pembahasan menarik dan tidak pernah habis sepanjang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Pelatihan Instruktur PMII Sunan Ampel Malang

%d blogger menyukai ini: