Opini

PMII DAN KEPAKARAN KEILMUANNYA

1 Mins read

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang biasa disebut PMII merupakan sekumpulan mahasiswa yang di dalamnya banyak membincangkan roda kaderisasi internal, eksternal, politik dan agama berlandaskan ideologi Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Didirikan oleh para sesepuh sebagai landasan mengubah pola pikir mahasiswa agar maju dalam arus globalisasi permasalahan mulai dari dasar sampai ke akarnya. Karena itulah pmii membutuhkan mahasiswa yang melek mengandalkan kritisme atas dasar manhajul fikr aswaja.

Tidak hanya itu, pergerakan PMII akan terus ada dalam gerakan membawa perubahan masyarakat yang terus dikenang sebagai pahlawan mahasiswa garis tengah. Seperti Mahbub Djunaidi sang pendekar pena, politikal, serta tokoh penggagas literasi telah membuktikan bahwa PMII sadar tentang pentingnya menjunjung tinggi ilmu dan pengetahuan. Mahbub tahu betul khazanah keilmuan mahasiswa yang mendalam.

 Ia berhasil menggabungkan humor, pengetahuan sampai diolah menjadi karya sastra menakjubkan, banyak melibatkan buku-buku hebat dalam sejarah peradapan manusia misalnya : Sultan Takdir Alisjahbana, Karl Marx dll. (Antologi NU, sejarah – istilah, amaliah – uswah : 2007 : 240).

Gagasan karyanya berimajinasi layaknya pisau tajam yang siap memotong daging-daging besar lemaknya. Mahbublah yang memupuk kesadaraan kader PMII supaya tidak lupa terhadap dunia membaca, menulis, merenungi, maupun menjalani. Dia memiliki ciri khasnya, ingin segala dari seluruh lingkupan massa. Oleh karena itu, PMII membutuhkan nalar berfikir kader sepertinya. Demi gagahnya roda keilmuan organisasi. Agar tumbuh lebih kuat, progresif, dan inovatif.

Selain itu, jejak pejuang pendiri PMII sangat antusias mewadahi orang-orang yang memegang teguh paham pluralisme, menggerakkan kaum-kaum tertindas, dan mengimajinerkan dalam kehidupan nyata. PMII juga membutuhkan paradigma-paradigma normatif menuju paradigma transformatif. Tentunya berlandasan ahlu-sunnah wal-jama’ah seperti rasulullah SAW memperlakukan umatnya dengan pandangan befikir.

Indonesia butuh kader yang dapat meningkatkan kecintaan mahasiswa terhadap tanah air. Sedikit tidak apa-apa, terpenting adalah memiliki kualitas intelektual yang baik. Sebagai kader jangan sampai menghina PMII dengan enggan belajar. Kader PMII juga harus belajar banyak dari Gus Dur. Karena menurut beliau “kemanusiaan lebih penting daripada politik”. Itulah mengapa dalam soal moderasi agama, PMII harus terdepan. Kritislah membawa pola fikir masyarkat peka terhadap siapa saja.

Negeri ini butuh dikritik, disanggah, dimotivasi, lalu dijunjung rasa kepeduliaan bersama. Masih banyak proses panjang untuk menemukan identitas ke-pmiian. Hanya satu yang harus dipegang yakni “menghargai dan tidak mengharapkan dihargai”.

Oleh: Ahmad Zuhdy Alkhariri

Editor: Nzuhriah

137 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Komisariat PMII Imam Puro Siap Cetak SDM Media Ditengah Arus Globalisasi

%d blogger menyukai ini: