Buku

PMII dalam Bingkai Eksakta Nalar Pergerakan Saintis Aktivis dalam Dinamika

3 Mins read

“Totalitas kader eksakta dalam ber-PMII harus diwujudkan dengan membangun dunia pergerakannya sendiri unuk menemukan mandat intelektualitasnya sebagai mahasiswa, mandat religiutasnya sebagai orang islam dan mandat, sosial-kulturalnya sebagai warga Indonesia”
(M. Hasanuddin Wahid)

Menukil perkataan Hasanuddin Wahid rasan – rasan sangat relevan jika mana dibicarakan di forum yang bernuansa sains wabil khusus kader eksakta. Kader yang memiliki label bahwa hanya berjibaku pada tatanan keilmuan sains saja. Pola pembelajaran dan pengetahuan tentang perkembangan ilmu sains tidak pernah absen dalam mata kuliah tuk dibicarakan. Namun, sangat disayangkan perkembangan tersebut tidak diimbangi dengan pesoalan lapisan – lapisan masyarakat yang tertindas sebagaimana mandat sosial – kulturalnya.

Tentu masih ingatkah kita pada pembajakan intelektual yang dilakukan oleh salah satu Universitas yang tersohor di Negeri ini, sebut saja Universitas A. Dalam melegitimasi penambangan bentang karst di Penggunungan Kendeng yang dimana riset – riset yang dilakukan bertujuan memihak kepada korporasi bukan memihak kepada masyarakat yang terdampak pada pembangunan tersebut.

Dalam kisah itupun kita dapat menyimpulkan bahwa hakikat dari pengetahuan sains sangat dipertanyakan ? untuk siapa dan karena siapa ilmu itu ada. Banyak orang beranggapan bahwa ilmu itu tak pernah netral sekalipun ilmu sains dia selalu berpihak. Ironisnya, kisah tersebut bukan malah memihak kepada persoalan yang ada namun, memihak kepada penyebab itu ada. Artinya, atmosfer sedemikian terbentuk dalam khasanah keilmuan sains telah mendarah daging.

Permasalah Kader Eksakta

Tentu penjelasan di muka menjadi refleksi bagi kader eksakta untuk mempertanyaakan ilmu yang telah digeluti selama ini. Ini tentu tak mudah dan perlu proses panjang untuk memahami apa dan kenapa ilmu sains itu harus berpihak.

Tentunya, banyak faktor yang hendak dikatakan dalam tulisan ini yaitu. ruang – ruang yang diciptakan dalam kampus untuk menghegemoni keilmuan kaum eksakta dan lebih parahnya kita mengamiinkan itu. Dengan dalih bahwa keilmuan sains itu hanya berjibaku pada perkembangan teori dan untuk tugas sosial hanya ada di bahu anak hukum itu menyelesaikan konflik itu.

Tentu ini alarm yang luar biasa terhadap pembajakan ilmu sains itu sendiri. Padahal sejarah pun mengajarkan bahwa keberpihakan itu perlu. Sebagaimana bapak Galileo Galilei  mengungkapkan teori Helioesentris. Dimana, teori ini ditentang oleh pihak geraja. Galileo tak sedikit pun memihak kepada pihak gereja walaupun pada akhir hidupnya sangat tragis yakni mendapat siksaan berupa hukuman mati. Kisah ini menunjukkan bahwa ilmu selalu berpihak kepada kebenaran. Hakikat dari ilmulah yang tidak menggentarkan semangat Galileo untuk mengungkapkan kebenaran itu.

Lantas, bagaimana dengan kader eksakta khususnya yang memiliki mazhab PMII. Jawabannya adalah harus andil dalam keberpihakan itu dan menolak dikotomi dan hegemoni tentang ilmu sains. Walaupun, persoalan kader eksakta selalu seksi dibicarakan oleh para kader yang telah sadar akan hal itu. Hingga mencoba menformulasikan kaderisasi eksakta dengan tujuan menjadi landasan atas keberpihakan itu. Izzudin menyebutkan bahwa “sesuatu yang menjadi kegelisahan akan pada system kaderisasi eksakta adalah tatanan proses dan dinamika kaderisasi atau keorganisasian selalu gagap dalam menghadapi perubahan realitas – relaitas sosial, hal ini tentu berkaitan dengan input dan output daripada sistem kaderisasi”.

Selain itu, ada hal yang sering dianggap masalah biasa dan dimaklumi yakni semakin menjauhnya tradisi khasanah intelektual  di tubuh PMII. Dengan anggapan “tak apalah anak eksakta kan banyak tugasnya untuk tidak melakukan tradisi itu”. Tentu itu tamparan yang sangat keras bagi kaum eksakta yang bermazhab PMII. Ini bukan persoalan biasa namun, persoalan awal dari hancurnya kaderisasi eksakta. Mencoba mengapuskan tradisi PMII yang telah ada sejak dulu. Tidak ada kekerasan yang paling kejam selain menghapuskan tradisi intelektual yang telah ada sejak PMII berdiri. Sebab, dengan hasil berdialektikalah Kader eksakta mampu menunjukkan keberpihakannya. Sehingga salah satu sahabat Fawwaz M. Fauzi menyebutkan bahwa itu menepis hal itu dari tubuh PMII perlu adanya inovatif terbaru diantaranya realisasi konsep sahabat pendamping, pembuatan kurikulum bacaan kader dan pembuatan kelompok kajian keprofesian.

Gerakan Eksakta di dalam Tubuh PMII

Lagi – lagi mencoba untuk membuang anggapan bahwa kader eksakta tidak bisa menyoalkan permasalahan sosial di Indonesia. Bukankah gerakan PMII ala eksakta sangat dirindunkan dalam tubuh PMII ?. Sebagaimana telah dijelaskan di muka tentang tiga mandat.

M. Hasanuddin Wahid beranggapan bahwa di tubuh PMII aktivis yang berlatar belakang Sains dan teknologi belum banyak mendapat perhatian yang besar dari semua insan pergerarkan, Barangkali, asumsi itu lahir sebab akibat. Sebab, tidak ada kader yang mampu mengaktualisasikan ilmunya dalam ranah gerakan PMII dan akibatnya mereka kerap kali dikucilkan.

Sebab – akibat itulah kader eksakta harus mampu berdikari dengan kaki dan tangannya dalam melakukan gerakan di tubuh PMII. Walaupun kita memahami bahwa rekaya sosial di PMII. Sebenarnya, tidak ada satupun rekayasa sosial yang bisa dilepaskan dari paradigm ilmu eksakta. Hal tersebut diaaminkan oleh Thomas Khun.

Oleh karena itu, kader eksakta semestinya harus berani untuk melakukan gerakan ala eksakta. sebagaimana yang diungkap oleh Sahabati Wiji Wulansari tentang Fenomena Newton, Quantum, dan Mestakung.. Ada pula menurut sahabat Mochamad Fahmi tentang Gerakan (Teologi) PMII Eksakta yang juga bertumpu pada Nilai – nilai Dasar Pergerakan ini sunguh lezat diulas dalam artikel tersebut.

Gerakan ala eksakta sudah siap untuk menjadi formulasi awal dalam melakukan sumbangsih kepada gerakan PMII. Selain itu, untuk melebarkan gerakan tersebut perlu kiranya berjejaringan dalam melakukan gerakan tersebut. Sebab, permasalahan sosial pun tidak dapat diselesaikan oleh satu kepala untuk menyelesaikan banyak permasalahan ini. Harus terus berkolerasi dan saling menguatkan sesama insan pergerakan sebagaimana konsep simbiosis mutualisme “saling menguntungkan”.

Gerakan inilah menjadi sebuah jawaban akan keberpihakan kader eksakta akan realita yang ada. Sahabati Wiwin Maisyaroh salah satu karder eksakta pun mengatakan bahwa “narasi – narasi itulah yang harus dibangun dalam PMII yang benuansa sains. Artinya kader yang melek akan realita adalah kunci kaderisasi yang harus dilakukan. Memahami bahwa problem apa pun yang hadir dalam masyarakat tidak mungkin diselesaikan dengan satu pendekatan, termasuk pendekatan keilmua saja”. Meminjam perkataan Herbert Spencer “The great aim movement is not knowledge but action” . Bagaimana  tindakan nyata menjadi tujuan tertinggi dalam ranah pergerakan.

Related posts
Buku

Dualisme Kader Eksakta

2 Mins read
Hiruk piruk perjalanan kader eksakta selalu seksi dibincangkan. Walaupun pada akhirnya, tidak ada satupun yang dapat merumuskan solusi terhadap permasalahan kader eksakta… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)

4 Mins read
Judul               : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)Penulis           : Jostein GaarderPenerbit         : PT Mizan PustakaTebal Buku    : 420 HalamanISBN               :… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Jakarta Sebelum Pagi

4 Mins read
Judul                     : Jakarta Sebelum PagiPenulis                 : Ziggy ZezsyazeoviennazabrizkiePenerbit              : Gramedia Widiasarana IndonesiaKetebalan Buku : 280 HalamanISBN                      : 9786023754847 “Hari ini, di pemakaman,… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: