Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read

Penulis: Sinta Amelia

Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari sejumlah pertanyaan fundamental yang mengemuka. Perempuan sering kali dianggap lemah dan tak berdaya, dalam lingkungan masyarakat sering kali perempuan dinilai hanya memiliki peran mengurus rumah, mengurus keluarga dan mengurus dapur. Perempuan berpendidikan tinggi pun dianggap tidak perlu bagi sebagian orang karena yang mereka tahu identik nya seorang perempuan dapur,sumur,kasur. Jika dimasa lalu perempuan di konstruksikan sebagai pengurus atau pengelola rumah tangga, saat ini tidak sedikit perempuan yang menempati posisi penting dalam berbagai bidang bahkan menjadi pemimpin,

Ilmuwan dan akademisi di berbagai negara di belahan dunia,tidak saja menjadi wacana dan fenomena bagi kelompok tertentu, namun lebih merupakan masalah global yang lintas ruang dan waktu. Di jepang misalnya ditemui Michiko dan di maroko Fatima Mernissi merupakan tokoh pergerakan pembelaan terhadap kaum hawa, tokoh yang paling berpengaruh lainnya seperti Ali Engineer, Rifat Hassan dari India, dan Amina Wadud Muhsin dari Afrika. Indonesia tercatat dengan tinta emas, tokoh feminis dan pemerhati gender seperti RA. Kartini serta Dewi Sartika sebagai pioneer feminisme kala itu. Dalam islam pun banyak perempuan yang berjuang untuk  peradaban islam  diantaranya Khadijah binti Khawalid, Musaibah binti Ka’ab, Aisyah binti Abu Bakar dan lain sebagainya. Melihat banyak sekali pahlawan perempuan yang menjadi bagian penting dari bangsa dan agama, menunjuk bahwa perempuan bisa untuk menjadi seorang pemimpin.

Di Indonesia pun terdapat pemimpin perempuan pertama  yaitu Hj. Diah Permata Megawati Setiawati Soekarno Putri beliau menjabat sebagai presiden perempuan pertama di bangsa ini pada tanggal 23 juli 2001 – 20 oktober 2004. Di dunia yang menjadi pemimpin perempuan pertama yaitu Vidgis Finnbogadottir yang terpilih sebagai presiden perempuan pertama di islandia pada tanggal 1 agustus 1980. Sudah saatnya perempuan diperhitungkan tidak saja untuk dipimpin, namun juga memimpin. Perempuan tidak harus mendominasi laki – laki tetapi  bagaimana membuat hubungan relasi antara keduanya seimbang dan harmonis dalam berbangsa dan bernegara. Kesetaraan dalam konteks kepemimpinan berarti antara laki – laki dan perempuan mempunyai hak yang sama untuk menjadi pemimpin dalam skala mikro maupun makro berdasarkan tingkat kemampuan dan kualitas yang dimiliki masing – masing. Sebab tidak menutup kemungkinan seorang perempuan yang telah mendapatkan pendidikan yang memadai kemampuannya melebihi kemampuan laki – laki.

Dalam sejarah islam kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang perempuan, yaitu Ratu Balqis sebagai pemimpin negeri Saba’. Kepemimpinan Ratu Balqis disandingkan dan disetarakan oleh kepemimpinan Nabi Sulaiman ketika itu, kepemimpinan seorang perempuan dalam wacana keagamaan mempunyai landasan teologis dalam pengimplementasian kehidupan bermasyarakat. Di masa sekarang, perempuan tidak lagi menjadi kaum terbelakang dengan stereotip – stereotip lama mengekang. Dari tahun ketahun kesenjangan peran antara perempuan dan laki – laki perlahan di tinggalkan, gerakan  meninggalkan kesenjangan gender ini di dukung oleh The United Nations Entity For Gender Equality and the Empowerment of Women atau biasa disebut UN Women. Kepemimpinan perempuan nyatanya sangat esensial bagi kesejahteraan bangsa, bahkan dunia hal ini perlu terus menerus kita gelorakan dan gaungkan sehingga tertanam menjadi persepsi yang baru  di dalam masyarakat.

144 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

MAPABA Ke 3 STKIP Rokania Kab. Rokan Hulu Sukses Hasilkan 37 Anggota Mu’takid PMII

%d blogger menyukai ini: