Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read

Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung)

PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan gerakan lainnya. Alumni alumni nya mengisi berbagai pos penting di negeri ini, tak hanyak wilayah akademik tapi juga wilayah politik. Artinya ini menjadi gambaran bahwasannya PMII mampu untuk mengisi pos tersebut. Kaitannya dengan gagasan besar yang di bangun, beberapa tahun kebelakang. Bisa dikatakan banyak alumni PMII yang sudah mengisi pos penting. Pertanyaan besar adalah perubahan apa yang terjadi di negeri ini, atau gagasan apa yang diberikan PMII kepada negara ini. Jangan-jangan kita hanya mengikuti alur yang ada sesuai dengan kepentingan bagi diri individu alumni.

Dinamika politik di indonesia sangat komplek dan perubahannya sangat cepat. Polanya hampir mirip dari tahun ke tahun. Kita menghadapi dimana setiap orang memiliki kepentingan, menggunakan politik identitas dan lain sebagainya. Wong dalem masih menjadi jalan bagi sebagian orang yang berproses di PMII untuk mendapatkan posisi atau kerjaan. Ya tentu, bagi kader yang suka dengan hal-hal politik. Tak dipungkiri, banyak juga kader PMII yang mengisi ruang- ruang enterpreneurship. Terlihat di lembaga HPN, banyak kader PMII disana. Walau tak begitu banyak. PMII secara umum memiliki gagasan mencipta kader yang bertaqwa, berilmu, cakap, bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya. Artinya ia adalah sosok yang ulil albab. Kader PMII yang kembali pada khittah, dan memaknai dengan dalam tentu sangat paham bahwa PMII memikiki tri komitmen kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Selain itu ada juga tri khidmat Taqwa, intelektual dan profesional. Melihat kader PMII sekarang saya kira akan membawa perubahan besar jika kita memiliki gagasan baru. Atau sebaliknya, tidak akan ada perubahan hanya mengikuti arus yang ada. Karena ada tembok besar yang menghalangi yakni kepentingan senior dan tekanan dari elit politik. Kader PMII beberapa tahun kebelakang menerapkan paradigma kritis tranformatif. Tapi inipun banyak kader yang kurang memaknai, padahal dari krtik muncul gagasan baru, transformatif bisa di jadikan landasan untuk mitra strategis. Gagasan baru inilah yang akan menjadi pegangan kader PMII. Karena begiulanh seharusnya kader PMII  fredom from dan fredom for, merdeka untuk melakukan apapun dan tidak didikte oleh kepentingan manapun kecuali kepentingan rakyat.

Dalam ranah pendidikan, banyak kader PMII tersebar luas di kampus yang berbasis agama dan sebagai di kampus umum serta swasta. Semua kader terjaring dan memikiki ideolofi dan bendera yang sama. Ini menjadi modal besar. Yakni gerakan massa. Artinya sangat memungkinkan bagi kader PMII untuk melakukan gerakan besar yang membangun. Setiap tahun kader PMII bertambah banyak, dan alumninya pun bertambah banyak.

Saya yakin jika kader PMII Komitmen dengan ideologi, tri motto, tri komitmen dan tri khidmat dengan potensi untuk mengisi pos pos penting di republik ini sangat besar tentu akan sangat membangun negara indonesia. Berbicara peluang pos strategis, sudah di jawab beberapa tahun ke belakang. Di ranah politis banyak alumni PMII yang mengisi pos pos eksekutif dan legislatif. Di ranah akademis banyak alumni yang menjadi dekan dan lainnya.

Di era industri 4.O peran kader PMII harus muncul. Era segala produksi dengan komputer, sehingga akan mengurangi penggunaan sumber daya manusia di industri. Tawaran apa yang di sediakan kader PMII yang akan mengisi pos pos strategis di pemerintahan. Artinya membuka peluang usaha yang seluas luasnya sangat penting untuk mengantisipasi banyaknya korbn PHK yang mungkin akan terjadi di kemudian hari. Pendidikan civil society, pendidikan bagi masyarakat dibawah agar mengubah prilaku apatis dan perlunya untuk aktif dan berperan.masyarakat kita masih terbiasa dalam budaya apatis, apatis terhadap aturan. Ke-apatisan inilah yang membuat para “maling” bebas untuk bergerak. Bermain di anggaran dan lain sebagainya.

Tentu akan sangat penting pendidikan politik, pendidikan organisasi, dan pendidikan lainnya. Saya kira PMII yang memikiki sifat kemasyarakat sangat potensi, karena kader PMII seyogyanya seperti itu include di masyarakat, menguasai culture dari dan untuk masyarakat. Sangat penting bagi kader PMII menikmati proses sejak mahasiswa. Memahami dan mempelajaru nilai-nilai yang ada serta terus berusaha dalam pengamalannya. Karena ujian hidup tidak hanya soal kekurangan tapi juga soal jabatan dan uang. Kader PMII yang terbiasa  membantu masyarakat, merasakan dan melihat ke bawah. Akan selalu merasakan keinginan untuk include bersama masyarakat.

Kita mengakui, bahwa kedepannya kader PMII akan mampu mengisi ruang ruang di negeri ini. Untuk itu, perlu adanya kekuatan mental dalam diri PMII. Hal untuk menguatkan mental, jiwa dan akhlak berada di ranah Tasawuf. Kajian yang nantinya menjadi implementasi akan sangat penting bagi setiap diri kader memaknai tasawuf. Karena aswaja tidak hanya soal aqidah dan fiqh tapi juga ada menyoal tasawuf yakni tasawuf Imam Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi. Tentu ini akan menjadi benteng akhlak bagi kader PMII.

Secara esensial Nilai Dasar Pergerakan ini adalah suatu sublimasi nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan kerangka pemahaman Ahlussunnah wal jamaah yang menjiwai aturan, memberi arah dan mendorong serta penggerak kegiatan PMII. Sebagai pemberi keyakinan dan pembenar mutlak, islam mendasari dan menginspirasi Nilai Dasar Pergerakan ini meliputi cakupan aqidah, syari’ah, dan akhlak dalam upaya kita memperoleh kesejahteraan hidup didunia dan akhirat. Dalam upaya memahami, menghayati, dan mengamalkan islam tersebut, PMII menjadikan Ahlussunnah wal jama’ah sebagai pemahaman keagamaan yang benar.

Diatas, kita memahami ada tiga pokok utama dalam islam, yakni aqidah, syariah dan akhlak. Tasawuf menurut Buya hamka adalah akhlak. Artinya tasawuf merupakan bagian penting dari PMII. Kyai Hasyim Asy’ari juga pernah berkata, “Ahlussunah wal jamaah yakni yang mengikuti secara aqidah asy’ari dan imam maturidi, fiqhnya Syafi’i, maliki, hanbali, dan Hanafi sedang tasawufnya mengikuti Imam Ghozali dan Junaed Al-Baghdadi.” Tasawuf seyogyanya menjadi bagian dari nilai yang perlu dimaknai dan dihayati oleh segenap kader PMII.

Dalam tasawuf, kita akan mengenal maqomat wal ahwal. Tingkatan dan keadaan atau kondisi. Seperti, taubat, ikhlas, tasawdhu, cinta hingga yang lainnya. Ini sangat membantu dalam mengatur ritme perasaan, emosional dan jiwa kita. Sehingga kader PMII dapat mengambil sikap yang baik atau jika menjadi pemangku kebijakan dapat membuat kebijakan dengan baik.

PMII sebagai organisasi yang memiliki basis muda islam yang sangat banyak tentu sangat positif secara komunal untuk bersama meningkatkan taqwa dan akhlak. Sebagai remaja yang secara psikologi perkembangan, penuh dengan pantangan dan berbagai hal yang susah dikontrol tentu membuat kita harus bisa saling menasehati dalam kelompok yang posisitif seperti PMII. Bisa dikatakan akhlak yang baik adalah ciri dari kader PMII.

Artinya untuk menemukan identitas di PMII salah satu diantaranya adalah akhlak yang baik. Karena NDP sebagai sumber motivasi, landasan berfikir, dan landasan bertindak tentu harus mengambil unsur diantaranya tasawuf. Sehingga dan mengambil tindakan baik dibidang social, politik, dan yang lainnya harus dilandaskan dengan nlai-nilai tasawuf. Tasawuf bukan soal hal-hal yang ghaib justru tasawuf merupakan sesuatu yang realistis.

Bertasawuf tidak hanya soal zikir tapi bagaimana bermanfaat untuk masarakat. Kita bisa melihat Rasululah, beliau tak hanya ibadah mahdhoh. Tapi juga ibadah sosial, politik dan yang lainnya. Namun, kader PMII perlu digaris bawahi dalam menjalan aktifitas, tindakan harus dilandasi oleh nilai-inilai tasawuf dan dalam kajian PMII perlu kiranya dibahas makna tasawuf secara mendalam sehingga kita bisa mengerucut apa saja nilai-nilai tasawuf yang bias diimlpementasikan oleh kader PMII.

Dalam NDP yang pertama kali dibahas adalah Tauhid. Dalam kaitannya dengan Tauhid, tentu kita berkeyakinan kepada Aqidah yang dibawa oleh imam Al-Asy’ari dan Imam maturidi. Perlu dipahami, tasawuf adalah ranah akhlak. Sehingga untuk memahaminya bias dipelajari di literature ilmu tasawuf. Selanjutnya, kaitannya dengan Hablumminallah, Hablumminannas, dan Hblumminal alam, tasawuf sangatlah tepat. Seorang sufi, selain orang yang akrab dengan masyarakat juga sangat akrab dengan alam.

Sebagai contoh, Ibn Arabi menjelaskan bahwa, Manusia sempurna menghimpun dalam dirinya segala sesuatu yang ada di alam semesta, mulai dari empat unsur alam hingga benda-benda tambang, tetumbuhan, dan binatang. Namun, noktah pentingnya adalah bahwa semua itu tidak terwujud pada manuisa dalam bentuk individual konkret mereka. Manusia sempurna adalah rangkuman makrokosmos. Dalam hal ini, Allah telah menjadikan manusia sebagai spirit (ruh) alam semesta, dan menjadikan segala sesuatu, tinggi dan rendah, tunduk padanya lantaran kesempurnaan bentuk (batin)nya. Dengan demikian, sebagaimana “tidak ada sesuatu” diseluruh alam semesta melainkan bertasbih dengan  memuji-Nya (QS al-Isra [17] : 44), maka tidak ada sesuatupun di alam semesta melainkan patuh pada manusia lantaran derajat esensial dari bentuk batinnya. Dalam hal ini, Allah berfirman, ..Allah menundukkan bagimu apa yang ada di langit dan dibumi (QS Al-Hajj [22: 54). Maka itu, segala sesuatu di alam semesta berada di bawah wilayah kekuasaan tertinggi manusia. Namun, fakta ini hanya diketahui mereka yang mengetahuinya-seperti manusia sempurna (al insan kamil) dan mereka yang tidak mengetahuinya tidak bakal mengetahuinya seperti manusia binatang. Disini kita bisa memahami, kaitannya dengan hablumminannas dan hablumminal alam.  Bagaimana mungkin kader PMII merusak hubungan dengan manusia dana lam. Sedang dia sebagai khalifah bagian dari alam dan manusia. Artinya sebagai khalifah kader PMII memiliki unsur nabat, hayawan, dan insaan.

Kader PMII, literature tasawuf sangatlah erat kaitannya dengan akhlak dan kedetakatan dengan makhluk Tuhan. Oleh karenannya kader PMII yang berjiba tasawuf tentu memiliki landasan yang kuat. Etika akan melangkah dia akan mempertimbangkan kemaslahatan ummat dan mendahulukan kepentingan masyarakat dibandingan kepentingan pribadi. Jika ini dilakukan maka kader PMII akan lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan baik diinternal PMII maupun di luar PMII. Sehingga nantinya kader PMII memiliki karakter yang mulia, seperti rendah hati, ikhlas dalam ber amal, jujur dan berbagai karakter yang lain dan itu semua menjadi identitas PMII. Sehingga identitas kader PMII bukan hanya bendera dan kuatnya jaringan tapi kompetensi diri kader dan ketinggian akhlak kader PMII.

“bangunnya rakyat kecil, sering ikut dalam ranah advokasi tentu tak tega untuk mengambil uang rakyat “

133 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read
“Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”“Galileo Galilei” Itulah kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

“KARTINI DAY” (KARTINI MASA KINI)

1 Mins read
Oleh    : Masniyar (PMII STMIK BA BULUKUMBA) Rabu, 21 April 2021 Sosok Perempuan yang menjadi pembahasan menarik dan tidak pernah habis sepanjang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII dan Ketertinggalannya di Media

4 Mins read
Siapa yang menguasai media, maka dia akan menguasai dunia Kalimat tersebut tentunya sudah sering kita dengarkan baik saat duduk melingkar berdiskusi ataupun… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Silaturahim dengan Wakil Bupati: PC PMII Pringsewu Paparkan Agenda Program

%d blogger menyukai ini: