Buku

Pejalan Anarki

3 Mins read

Judul: Pejalan Anarki
Penulis: Jazuli Imam
Penerbit: Djelajah Pustaka

Novel Pejalan Anarki adalah dwilogi yang ditulis oleh Jazuli Iman. Buku pertama berjudul “Pejalan Anarki” dan buku keduanya berjudul “Jalan Pulang”. Buku ini menceritakan tentang sosok El, seorang mahasiswa Idealis yang jatuh cinta pada perlawanan terhadap ketidakadilan. Menjadi seorang mahasiswa tidak hanya menjadikannya berontak pada kampusnya saja yang berwatak kapitalis tetapi di tempat manapun dia berada.



Penampilan urakan adalah gambaran sosok El dalam buku ini. EL seorang mahasiswa Ekonomi di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Dirinya yang sangat menyukai seni memilih bergabung dalam UKM seni. Selain mencintai seni, El juga adalah seorang pencinta alam, kopi, buku, dan kretek.  Penampilan urakannya membawanya pada satu kejadiaan di kelasnya, ketika menentang dosen yang mengomentari penampilannya membawanya bertemu dengan Sekar Idurasmi, seorang mahasiswa yang masuknya seangkatan dengan El. Sekar adalah perempuan nomor satu di kampus, mahasiswa dengan nilai IPK nyaris sempurna, dan merupakan ketua organisasi ternama di kampusnya.

Pertemuan yang diawali dengan penentangan bersama, membuat dosen-dosen dan orang-orang kampus memberi julukan kepadanya dan Sekar sebagai sepasang yang melawan. Petualangan keduanya diawali permusuhan, kebersamaan, hingga pelarian mereka. El yang pada dasarnya seorang yang memilih untuk tidak ber-main aman, membuat beberapa mahasiswa tidak simpatik kepadanya. Tetapi pada sisi lain, ada juga mahasiswa yang merasa seperjuangan dengan El, yaitu Kencing dan Pejoh, pasangan Mapala.

Buku yang diterbitkan Djelajah ini memberikan banyak edukasi, tidak hanya persoalan cinta melodramatis melulu. Kopi, buku, dan cinta alam diracik hingga memberikan kesan pas kepada pembaca bahwa apa yang terjadi di sekitarannya tidak baik-baik saja. Dalam buku ini, memberikan gambaran apa yang terjadi pada negara yang dipijak ini yang selalu bertumpu pada materi, tentang kemanusiaan, bagaimana mencintai bumi pertiwi dengan merasakan lansung denyut nadi rakyat, dan juga bagaimana mencintai alam.

“Orang-orang desa berbahagia sebab mereka membahagiakan yang lainnya. Orang-orang kota berbahagia sebab mereka tidak memikirkan yang lainnya.” (Jazuli Imam. Jalan Pulang, Hal. 89)

Cerita Perjalanan “sepasang yang melawan” ini tidak mudah bagi El yang merupakan seorang idealis dan telah membuat Sekar larut dalam terjal lika-liku perjalanan dan perlawanan yang selama ini El lakukan.  Ketika El mengajak Sekar ke pasar untuk membeli burung yang paling disukainya dan harganya tidak murah, setelahnya mereka melepaskan burung itu ke alam bebas. Secara tidak langsung, El telah mengajari Sekar tentang kehidupan. Ketika Sekar yang mengikut pada kebiasaan naik gunung El membuatnya mengerti tentang dunia pendakian dan kenapa banyak orang-orang yang lari bermain ke gunung, hutan dan desa.

“Semakin sering naik turun gunung ia seorang pendaki, seharusnya berbanding lurus dengan meningkatkan kedekatan ia kepada Tuhannya. Tujuan seorang mendaki bermacam-macam, tapi hakikat manusia adalah sama. Di alam, tempat di mana tidak ada kekuatan harta, tahta, dan tentara. Tuhan adalah ingatan pertama bagi manusia yang banyak dibuat lupa oleh kota,” kata El.

Ajaran Hidup

Dalam buku ini banyak ajaran pada nilai-nilai kehidupan, berkata apa yang harus dikatakan, menentang apa yang perlu ditentang, peduli terhadap sesama kepada mereka yang tidak seberuntung kita.

“Aku jadi ingat, Non. Dulu, tahun-tahun awal di Jogja, 2008. Sejak aku putuskan untuk mencintai orang-orang yang malang dan terpinggirkan, aku sering main ke pinggir jalan dan menemukan mereka kelaparan. Nah keadaan itu membuatku sedih, setiap kali aku mau makan nih aku merasa berdosa, pikirku, diluar sana ada banyak banget pengemis, orang yang aku cintai, pada kelaparan, kok bisa-bisanya aku baik-baik saja dan makan begitu saja (Jazuli Imam. Pejalan Anarki, Hal. 377).

Novel ini juga mengajarkan tentang pentingnya mencintai Indonesia yang kaya dengan keberagaman suku, agama, ras, budaya, kretek dan kopi.

“Si barista Jawa mungkin berkata bahwa kopinya jauh lebih nikmat, tapi bila kopi itu jatuh di tangan si pace supir truk, baginya mungkin itu tak lebih baik dari air selokan kota Merauke yang coklat dan kehitaman. Si Barista memiliki kopinya, si pace supir memiliki kopinya. Dan sesuatu yang membuat mereka dapat duduk bersama dalam satu lingkaran adalah satu; toleransi” (Jazuli Imam. Jalan Pulang, Hal 262)

Menjaga lingkungan demi kelestarian hidup dan juga mencerdaskan sesama anak bangsa adalah pesan yang tak lupa disampaikan dalam buku yang terbitkan pertama kali ditahun 2017 ini. Seperti pesan Jazuli Imam si penulis yang sekecil-kecilnya untuk membawa botol minum kemana-mana karena botol plastik yang diciptakan si Kapitalis Aqua itu merusak lingkungan. Buku ini juga lahir karena pengalaman-pengalaman si penulis selama di Papua memberikan gambaran rakyat Papua yang setiap jengkalnya selalu dibodohi oleh penguasa-penguasa. Seperti pembabatan hutan di kampung-kampung untuk ladang pertanian, sementara orang-orang di kampung itu makan sagu.

Menjadi Manusia dan Warga Negara yang Paham

Kopi, buku, dan cinta alam di mana kenikmatan, kecerdasan, dan keindahan menjadi satu didalamnya. Perjalanan “sepasang yang melawan” dengan memberikan pelajaran dari sekecil-kecilnya hingga yang besar jika hidup tidak boleh tunduk pada apa yang salah, untuk bersuara menentang ketidakadilan, mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, menyampingkan ego, dan lebih meninggikan rasa kemanusiaan kepada sesama mahluk Tuhan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas kita bersama sebagai anak yang terlahir dalam balutan historis yang sama. Memajukan kesejahteraan rakyat adalah tugas kita bersama selaku orang yang berpijak dalam belenggu hidup yang sama. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan rakyat bukan hanya tugas pemerintah tetapi adalah tugas kemanusiaan selagi kita adalah manusia. Buku dwilogi Pejalan Anarki seperti guru yang ingin memajukan bangsa, tidak perlu menunggu pemerintah. Karena setiap orang bisa berbuat baik dan memajukan bangsanya dengan caranya sendiri.

137 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Buku

PMII dalam Bingkai Eksakta Nalar Pergerakan Saintis Aktivis dalam Dinamika

3 Mins read
“Totalitas kader eksakta dalam ber-PMII harus diwujudkan dengan membangun dunia pergerakannya sendiri unuk menemukan mandat intelektualitasnya sebagai mahasiswa, mandat religiutasnya sebagai orang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Dualisme Kader Eksakta

2 Mins read
Hiruk piruk perjalanan kader eksakta selalu seksi dibincangkan. Walaupun pada akhirnya, tidak ada satupun yang dapat merumuskan solusi terhadap permasalahan kader eksakta… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)

4 Mins read
Judul               : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)Penulis           : Jostein GaarderPenerbit         : PT Mizan PustakaTebal Buku    : 420 HalamanISBN               :… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: