Cerpen

Merah Putih Merindukan Pengibarnya

5 Mins read

Karya : Amirullah Yasin

Rizal pemuda dari timur indonesia baru saja tiba dipelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sejauh mata memandang ia tidak lagi melihat pohon-pohon hijau, gunung dan bukit seperti waktu dilihat dari tengah laut. Semuanya terhalang oleh gedung-gedung,  gudang dan kedunguan.

Dihempaskan kedua kakinya di dermaga, seraya berteriak “Indonesia, dimanakah dirimu”.

Selesai mengagumi kemegahan kota Surabaya, dia melanjutkan perjalanannya ke halte menunggu bis dengan tujuan Surabaya -Malang. Sambil menunggu ia bakar sebatang rokok. Dihisapnya dalam-dalam lalu dihembuskannya serempak. Ia terlena dalam lamunan. Perjalanan panjang seolah terbayar dengan rebahan kecil dibangku halte. Kini imajinasi menjadi penghibur hatinya.

“Ternyata indonesia bukan hanya hutan, tapi gedung-gedung. Indonesia bukan hanya tambang batubara, tapi gudang-gudang tua yang tak berguna. Indonesia bukan hanya pohon-pohon tinggi, tapi tiang listrik sepanjang jalan, lautan indonesia bukan hanya beraneka ragam ikan-ikan, tapi kain-kain yang yang terhanyut”. Ahhhhh, ibu pertiwi merintih, kita manusia memperkosa buminya”. Teriakkannya bersamaan dengan suara klakson dari salah satu bis tujuan Surabaya-Malang membuat orang-orang disekitarnya memperhatikkannya. Namun ia tak menghiraukan itu. Ia melangkah masuk ke dalam bis dan merebahkan badannya dibangku kursi yang masih kosong. Sambil menikmati rebahan ia memasang hendseat ditelinga dan mendengar salah satu lagu kesukaannya, Indonesia Tanah Air Beta karya Rednect Projet.

“Indonesia tanah air beta, beta gusur sampai rata”…Salah satu lirik yang membuat semangatnya bertambah. Berdendanglah ia bersama lagunya itu.

“Indonesia tanah air beta, beta gusur sampe rata,,,indonesia tanah air beta, beta gusur sampe rataaa yoo,  indonesia tanah air beta, beta gusur sampe rataaaaaa……yeeeiii”.

Salah seorang kondektur bis menghampirinya lalu menegurnya.

“Dek, pelan-pelan kalau menyanyi ya? Soalnya suara adik kelewat batas. Maaf ya”?

“Aduh, maaf bang! Terlalu menghayati lagunya, jawab rizal”.

“Memangnya lagu apa dek? Sampai benar-benar mengahayati sekali”.

“Indonesia tanah air beta bang, karya Rednect Projet, jawab rizal.

“Wah, itu lagu kesukaanku juga dek”. “Indonesia tanah air beta beta gusur sampe rataaaaa… Yeeeiiih”.

Kondektur bis itu mempraktekkan salah satu lirik lagu itu. Kini rizal yang heran akan tingkah laku abang kondektur. Selesai bernyanyi mereka berdua pun sama-sama melepaskan tawa yang membeludak seoalah-olah saling memahami apa yang ada didalam isi kepala mereka masing-masing. Merasa cukup dengan lelucon mereka, abang konduktur itu pun pergi melanjutkan misinya mencari penumpang. “Ya, beta indonesia” rizal mengaguk-nganggukan kepalanya.

Setelah merasa cukup banyak penumpang, perjalanan bis pun dimulai. Baru beberapa menit bis melaju, seorang bapak menghampiri rizal hendak berbincang-bincang dengannya.

“Dek, asli mana”?

“Timur bang, jawab rizal”.

“Islam atau katolik dek”?

Rizal menghela nafas dalam-dalam dan berbicara dalam hati, “ibu pertiwi, merah putihmu dirobek”. Apa mereka lupa kalau di indonesia ini masih ada agama lain selain islam dan katolik? Tidak adakah pertanyaan yang lebih beradab? Atau apakah mereka mau mengolok agama yang lain jika didalam perkenalan mereka seagama”?

“Aku belum menemukan agama yang nyaman untukku pak, jawab rizal”.

“Ikut agamaku saja dek, dijamin masuk surga, pinta bapak itu”.

“Bukannya agama mengajarkan untuk tidak memaksa pak? Tanya rizal”.

Bapak itu kebingungan dan wajahnya memerah pertanda malu akan pernyataannya. Sementara rizal tidak menghiraukan itu, Ia memasang kembali headset ditelinganya. Diputarnya lagu Indonesia Pusaka menemani perjalanannya. Keluar dari kota Surabaya, terbentanglah sawah nan luas, hutan-hutan dengan pohon yang masih kokoh, gunung-gunung, anak-anak bermain layangan, orang-orangan dan senyum ramah para petani.

“Terimah kasih indonesia”, rizal benar-benar bersyukur dan menikmati perjalannya itu. Tidak ada lagi gedung-gedung, gudang dan kedunguan. Yang ada hanyalah kebebasan alam, kepolosan anak-anak serta keikhlasan senyum, sapa dan tawa penghuni sekitarnya.

Dua jam sudah rizal dalam perjalanan Surabaya-Malang. Kini Bis mengurangi kecepatannya setelah tiba dimulut gerbang kota Malang, sebab kemacetan terjadi yang lumayan panjang. Suara klakson saling bersahutan, lampu sein saling berkedip, orang-orang saling memarahi dan supir-supir berantam. Rizal menghela nafas panjang “hufft… 1 jam mengolah rasa dengan alam, 2 jam mengolah resah denga kota”.

Setelah cukup lama bis terjebak dalam kemacetan, tibalah rizal ditempat tujuannya yaitu Belimbing, salah satu kecamatan yang ada dikota Malang.

“Terimah kasih semesta”, rasa syukur tak pernah lepas dari hati rizal untuk kesekian kalinya. Sambil menunggu jemputan saudaranya dihalte, Seorang gadis berjilbab merah maron, berbaju putih dan rok hitam menghampirinya. Dahinya ditumbuhi bulu-bulu tipis. Rizal sempat larut dengan kecantikkannya.

“Permisi mas (panggilan untuk kakak laki-laki di Jawa), boleh ikut gabung”? Senyum khas kejawen terpapar jelas dimata rizal. Hingga terlihat gingsul disela-sela senyum gadis itu.

Rizalpun mengangguk pertanda setuju dan membalas senyuman gadis itu.

“lagi nunggu siapa Mas”?

“Lagi nunggu kamu Mbak (panggilan untuk kakak perempuan di jawa), eh saudara maksudnya” canda rizal.

Baru sampe dari Timur Indonesia. Kesini mau kuliah dikampus IKIP BUDI UTOMO malang, lanjut rizal.

“Wah, semangat ya mas. Perkenalkan nama saya Wati asli Malang mas”.

“Aku Rizal dari timur indonesia. Jauh-jauh dari timur eh kuliahnya ditimur juga”.

“Ini jawa mas”.

“Iya jawa timur kan mbak”? heheheh…

Wati hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.

“Mas rizal Jumatan apa Mingguan”?

Rizal langsung menangkap apa yang dimaksud dari pertanyaan wati. Pertanyaan yang benar-benar menyentuh hati rizal. Sebelum menjawab pertanyaan dari wati, rizal merasa seolah-olah merdeka dan menemukan indonesia yang sesungguhnya.

“Yes, this is indonesiaaaa”… Jumatan mbak, jawab rizal”.

“Tapi ada apa dengan indonesia mas? Kok teriak-teriak nama indonesia”?

“Panjang ceritanya mbak. Aku hanya mencari apa itu indonesia dan pertanyaan kamu itu benar-benar indonesia banget”.

Wati tersenyum dan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh rizal. Kemudia wati menarik tangan rizal dan mengajaknya pergi kesebuah kolom jembatan dimana orang-orang pinggiran kota sering melepaskan tawa dan gundah. Dibawah jembatan itu ibu-ibu menyusui anaknya dengan penuh kasih sayang, ada remaja mengais sampah, ada pemuda lagi melantunkan lagu-lagu iwan fals yang menyindir koruptor, anak-anak lagi asik bermain Jaranan (salah satu tarin jawa timur), ada yang membaca, menggambar. Disebelahnya ada yang bermain perang-perangan kepala mereka diikat kain merah dan putih yang sudah usang. Dari ujung jembatan, ada yang sedang membagi-bagikan makanan dan anak-anak mengerumuninya.

“Lihat mas, walaupun mereka adalah orang-orang yang terlupakan tapi mereka tidak akan lupa dengan kebudayaan dan cinta terhadap tanah air ini. Disini kamu akan tahu apa arti sesungguhnya indonesia. Sebab disini agama bukan menjadi tolak ukur, tapi adab. Tanpa adab, manusia akan menjadi biadap. Maka tugas kita adalah menolak lupa. Lupa bahwa indonesia bukan hanya hutan dan kota. Tapi orang-orang yang hidup diantara keduanya”.

Wati kemudian mengeluarkan beberapa buku cerita dongeng dan membagikannya ke anak-anak. Sedangkan rizal, ia benar-benar jatuh dengan apa yang barusan dilihatnya. Kecintaan anak-anak terhadap budaya dan indonesia serta kecintaan wati terhadap indonesia. Setelah merasa cukup berbagi pengalaman, wati mengajak rizal untuk kembali ke halte.

“Maaf mas, aku pamit duluan. Kapan-kapan kalau bertemu lagi kita akan berbagi tentang aku, kamu dan indonesia, pinta wati”.

Wati pun berdiri memberhentikan sebuah angkutan kota. Setelah bersalaman dengan rizal, wati melangkah masuk kedalam angkutan kota itu. Dari belakang baju wati terulis “Indonesia Tanah Air Beta, Beta Gusur Sampe Rata”.

Rizal berdiri dan terperangah seolah-olah tidak percaya dengan semua yang barusan terjadi.

Salah satu lirik lagu kesukaannya berada dibelakang baju wati.

“Ini adalah kebetulan yang betul-betul sempurna, rizal berbicara dengan dirinya sendiri”.

Dari seberang jalan di dalam angkot, wati kembali berdiri didepan pintu angkot dengan tegak ia mengangkat tangan memberi hormat.

“Mas rizal, indonesia itu dimulai dari sini, dari hati. Tergantung cara kita menikmati dan menyikapinya. Tegaaak grak, teriak wati dengan suaranya yang lantang”.

Dibalik tindakan wati, rizal benar-benar mendalami setiap kata dan lakunya.

Selesai wati menyampaikan pesan kepada rizal, angkutan kota itu melaju pergi meninggalkan rizal sendirian. Kini rizal hanya berdo’a kepada semesta mudah-mudahan ia dipertemukan lagi dengan wati. Sebab masih banyak rasa penasaran dan tawa terhadap wati yang penuh dengan cinta.

Cinta terhadap indonesia…

135 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Cerpen

Cak Shodiqin

4 Mins read
Beberapa orang beranggapan Gus Ilham anak bungsu Kiyai Ahmad yang paling berbeda. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari beliau selalu melakukan hal-hal yang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Cerpen

Jatuh Cinta – Pola Optimis Dan Pesimis

2 Mins read
Karya : Deni Marsha Kali ini, aku dalam perjalanan berat mengumpulkan potongan-potongan cinta yang nantinya akan kubangun istana megah.  Aku bukanlah pelaku… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: