Esai

MENYONGSONG GERAKAN LITERASI DI PMII “Literasi episentrum kemajuan kebudayaan dan peradaban (Djoko Saryono)”

3 Mins read

Berawal dari tulisan salah satu sahabat yang dimuat dalam Website Indoprogress, di dalamnya bermuara keresahan arah gerak PMII saat ini. Ia  menyebutkan “Ibarat orang berpegian, tentu harus memiliki tujuan dan cukup bekal. Begitu pun dengan kader dan institusi PMII. Setiap kader mau tidak mau harus memiliki tujuan gerakan dan bekal pengetahuan dalam melakukan kerja gerakan. Tujuan penting guna menentukan dimana PMII berpijak dan kemana PMII berpihak. Sementara itu, pengetahuan diperlukan sebagai basis pemikiran kader PMII dalam melakukan kerja gerakan. Akan tetapi rumus sederhana kerja gerakan demikian nyatanya telah terkikis di tubuh PMII. Sebuah rumus gerakan yang seharusnya termanifes dari pengurus besar sampai tingkat paling bawah, yakni Rayon. Faktanya kader dan institusi PMII seperti kapas yang sedang terbang tertiup angin puyuh kenyamanan.”

Pernyataan tersebut memantik saya untuk berasumsi, bahwa kualitas gerakan di PMII mulai mengalami masa kegelapan. Tentu saja, hal tersebut  tidak jauh dari kualitas kader PMII saat ini. Fakta yang terjadi, kader PMII justru semakin adem ayem dengan realita tersebut dan lebih memilih gerakan yang pragmatis. Adapun yang membuat risih adalah lebih memilih kerja – kerja yang outputnyabersenang – senang ketimbang mempertajam daya pikirnya.

Problematika tersebut bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Dapat dilihat dari akar permasalahannya bahwa kader PMII lebih nyaman dengan historis kekuasaan yang pragmatis. Tidak dapat dipungkiri sistem tersebut. Tapi sebagai kader PMII yang telah bersyahadat, setidaknya kita harus mencari solusi dari adanya problematika tersebut.

Meminjam perkataan Djoko Saryono, literasi adalah langkah pertama yang sangat berarti untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Uraian tersebut mengimplikasikan bahwa penguasaan literasi bagi  masyarakat khususnya kader PMII sangat penting dan perlu diberikan perhatian lebih. Sebab, literasi bukan hanya problematika PMII saja, akan tetapi bangsa Indonesia. Artinya, PMII harus mengambil andil dari adanya problematika tersebut. Kesadaran harus ditanam sejak dini kepada kader PMII, agar tidak lagi mencita – citakan gerakan pragmatis.

Kini, usia PMII tidak lagi muda dan seharusnya PMII segera dikembalikan  pada tujuan awal yaitu “terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”. Tujuan tersebut merefleksikan bahwa seharusnya PMII memiliki peran dalam menyongsong gerakan Literasi tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa arti kata literasi dalam PMII bukan saja baca dan tulis akan tetapi menganalisis keadaan sekitar dalam memihak kaum mustadafin. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Roem Topatimasang yang mengatakan bahwa “Literasi bukan hanya membaca teks, melainkan pula diartikan sebagai kemampuan membaca keadaan sekitar” .

Penting dicatat bahwa runtuhnya PMII disebabkan oleh menurunnya kualitas kader PMII. Jika PMII tak ingin punah sebab termakan arus moderinisasi melalui gerakan yang paragmatis. Maka, perlu mengkampanyekan gerakan literasi yang menggelitik nalar kritis, jika hal tersebut berhasil terjadi, saya rasa PMII akan berhasil dengan cita – cita yang sesungguhnya.

Alih – alih mengatakan ‘saya tidak suka membaca buku, saya lebih suka dengan analisis keadaan sekitar.’ Bagaimana mungkin itu terjadi. Dua hal yang semestinya dikawinkan, malah dicerai berai, tentu hasilnya pun timpang. Bukankah Bapak revolusioner agama Islam dipaksa membaca oleh Jibril sebelum mengkampayekan dakwanya. Bukankah Ibu Kartini menemukan keadilan wanita dengan membaca dan menulis surat – surat. Bukankan Pramoedya Ananta Toer menganalisis keadaan sekitar dengan membaca dan menulis  teks hingga karyanya terkenal dimana – mana. Bagaimana mungkin kita sebagai Kader PMII enggan dalam mengkampayekan gerakan literasi. Seharusnya, kita yang memiliki nama Islam dan Indonesia dalam kepanjangannya malu jika tidak memiliki himmah dalam melakukan gerakan literasi.

Kembali mengutip perkataan Simak Johannsson “Inilah Hakikat Literasi yang dapat membuat manusia memiliki pengetahuan pada satu sisi dan sisi lain mampu memproduksi kreativitas dan inovasi yang cermelang.” Lebih jauh, ini mengandung arti luar biasa yang seharusnya dimiliki oleh kader PMII. Literasi bukan hanya mengetahui teks saja, akan tetapi literasi merupakan upaya berpikir kritis dan kreatif terhadap sesuatu yang didasarkan oleh tradisi baca tulis yang mantap.

Melalui gerakan literasi, pondasi PMII dapat dilihat secara gamblang. Hingga nantinya, gerakan literasi di PMII masuk dalam sendi – sendi kehidupan. Oleh karena itu,  UNESCO telah menunjukkan bahwa literasi telah terbukti menjadi palang pintu masuk bagi kebebasan dan kemajuan hidup manusia, masyarakat dan atau bangsa di berbagai belahan dunia dalam berbagai lintas zaman, sejak zaman dahulu hingga sekarang.

 Jika hal tersebut tejadi, saya yakin PMII dapat pula menerapkan tujuan pendidikan yang sesungguhnya sebagaimana termaktub pada UUD 1945 alenia keempat dan sebagaimana dikatakan oleh Tan Malaka “Bahwa tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkuat kemampuan, serta memperhalus perasaan.”

Editor : Nzuhriah

Related posts
Esai

Konsep Kepemimpinan Kihajar Dewantara sebagai Strategi Pendampingan Kader

3 Mins read
Oleh : Agus Nurhasan Pendahuluan Keinginan menghadirikan pemimpin yang benar-benar hebat untuk mendongkrak kinerja organisasi sudah menjadi fenomena universal. Dari masa ke… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

MUTUALISME RAYON PMII PENCERAHAN GALILEO DAN MAHASISWA (ANGGOTA-KADER)

2 Mins read
Oleh : Mat.Lajo Pada dasarnya rayon merupakan ruang laboratorium untuk aktualisasi ragam cara pikir atau proses ber-mahasiswa, dalam hal ini ibarat kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

WAFAT NYA ULAMA SEPUH YANG SANGAT NASIONALIS

4 Mins read
Oleh : Alwin Mahyudin Saat menulis tulisan ini, tangan  dan otak-ku seperti kompak untuk melakukan pekerjaan nya untuk menggambarkan seorang tokoh manusia… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Anime

Spoiler One Piece chapter 1007 : Kozuki Oden masih Hidup !!

%d blogger menyukai ini: