Opini

Menghancurkan Berhala-Berhala di Institusi Biru Kuning

4 Mins read

“Sudah ku bilang teknik dan startegismu itu, tak ada gunanya,”

“Maksudmu?”

“Maksud ku ini percuma, toh, ini adalah permainan yang disepakati  oleh politik,”

“Tapi, ini soal keadilan!”

“Keadilan apa yang kamu maksud?”

“Kamu seperti tidak tau saja,”

“Memang aku tak pernah tau! Jika aku tau, aku tak harus bertanya kepadamu. Keadilan di PMII, Itu apa? Aku merasa asing mendengar hal itu?”

“Kita ini harus memperbaiki institusi agar tidak politis saja”

“Kamu yakin?”

“Lalu, sampai kapan kita seperti ini?”

“Sudahlah kalau kamu ingin menemukan itu, barang tentu yang bisa kamu temui hanya di tingkat Rayon saja, selebihnya tidak akan pernah menemukan,”

“Kamu terlalu congkak,”

“Tidak itu adalah realita.”

            Itulah berdebat dua sahabat yang gandrung akan keadilan, ia percaya selama nilai dasar pergerakan ada, selama itu, keadilan mesti ada. Keinginan begitu mendalam seperti kegandrungan Mahbub Junaidi—seorang aktivis—sekaligus intelektual ulung dalam membela kebenaran dan keadilan.

            Lantas, percakapan itu pun tak pernah bertua. Lagi-lagi mimpi hanya sekedar mimpi. Keinginan tuk merubah dan menciptakan nuansa intelektual seperti dipaksa mati sejak dini lalu terkubur di liang lahat. Para kader yang bergelut dalam dunia aktivis yang dibimbing dengan pengetahuan resah dan gamang akan kondisi itu. Tapi, mereka tetap kalah ketika dibenturkan dengan institusi yang mementingkan kesepakatan politik dibanding dengan tujuan PMII yang sebenarnya.

“Kenapa kamu diam? Bisakah kita melawan status quo dalam institusi kita sendiri? Bisakah kita membawa ide-ide progress itu dan tidak hanya sekedar diskusikan di dalam ruang kopi ini? Bisakah kita mengambil ruangan itu? Kita ini yang malah dipinggirkan, kita ini yang malah dibilang sok suci, kita ini malah dibilang benalu yang mengganggu posisi mereka yang punya jabatan startegis, kita ini yang malah dipaksa untuk keluar dalam organisasi itu secara tidak langsung. Ah, sial aku tak ini melanjutkan pembicaraan kita, aku sebenarnya tak iklas benar-benar tak iklas jika PMII hanya sekedar alat dalam merebuat kuasaan, Tapi?”

“Tapi, kita tetap harus bertahan, jika bukan kita siapa lagi. Itukan yang kamu ingin katakan, bukan?”

“Iya, maksudku itu,”

“Begini ibarat manusia PMII itu, sudah sakit. Bahkan, memiliki penyakit kronik, angkut  yang tak bisa disembuhkan lagi. Sebab, atmosfernya dibentuk oleh orang terdahulu untuk politik saja. Kamu tau kan sejarah? Sejarah itu memang masa lalu. Namun, masa lalu itu punya sifat berkelanjutan, berkelanjutan dengan masa kini. Artinya, masa kini adalah produk masa lalu. Apapun yang terjadi masa kini khususnya, di PMII, adalah hasil dari masa lalu yang dilakukan terdahulu. Sungguh mereka berhala-hala yang patut di hancurkan.”

“Kamu keras sekali,”

“Memang begitu, adanya sahabat,”

“Coba kamu lihat kader yang takdhim dengan senior. Apapun kata senior terdahulu adalah kebenaran. Mereka rata-rata tidak diajarkan sebagai aktivis yang dibimbing dengan intelektual. Kebanyakan mereka diajarkan politik yang pragmatis dibanding dengan politik yang beradab. Dalam perdebatan di ruang publik misalnya, dalam menggunakan pisau analisis hegel, sebenarnya terdapat dua wilayah di antaranya wilayah pemerintah dan wilayah masyarakat dimana dalam menyatukan wilayah tersebut, membutuhkan ruang publik dan ruang itu kebanyakan digunakan sebagai alat intrumen elit politik untuk ke-eksistensinya. Lalu, apa kaitannya dengan kader PMII ? Seyoginya, kader PMII harus mengambil ruang itu untuk melakukan perubahan sosial, tapi na’as mereka ikut dengan lagak elit politik dibandingkan membuat pembaharuan. Ini terjadi sebab akibat. Sebab, dalam proses kaderisasi senior tidak memberikan nuasan intelektual menggugah hati dan pikiran dalam melakukan pergerakan. Akan tetapi, sebaliknya dipotong bahkan parahnya membentuk budaya patrone-kline,”

 “Ya, aku tau soal itu. Apalagi soal budaya patronase yang mengakar di tubuh PMII, yang membentuk kader gemar akan kekuasaan, namun terkadang absen akan realita. Kalau kita mau meminjam penuturan Peter Burke dia pernah menjelaskan bahwa patronase ialah sistem politik yang berlandaskan pada hubungan pribadi antara pihak-pihak yang tidak setara, antara pemimpin (patron) dan pengikutnya (klien). Dalam sistem ini, masing-masing pihak memiliki suatu kepentingan (interese) untuk saling ditawarkan,”

“Sangat mengerikan, sistem kaderisasi yang berbasis transaksi,”

“Dan parahnya jika mereka memiliki tujuan politik, kamu tau? Mereka akan berkerjasama untuk mencapai tujuan itu. Entah, dengan cara apa, tanpa adanya bekal yang kuat dalam membangun politik yang beradab. Dan hal ini perlu dipotong mata rantainya,”

“Tapi, bagaimana? Aku sepakat jika itu harus menghancurkan hal itu. Namun, pastinya kita akan dipinggirkan,”

“Caranya, yang paling beradab adalah menciptakan diaspora kader serta platform baru. Tapi, bukan untuk menyaingi PMII, tentu saja tidak. Oh ya, masalah dipinggirikan tak menjadi masalah itu sudah konsekuensi,”

“Lalu?”

Platform baru setidaknya, sebagai sarana aktualisasi kader, mudah? Tidak, sekali saya katakan tidak, inilah yang harus disiapkan oleh kader memikirkan untuk menciptakan pemimpin bangsa yang tak hanya lewat politik saja, namun bisa dalam berbagai aspek,”

“Lama,”

“Tentu, tidak pada perubahan yang diciptakan bim salabin, langsung jadi. Semua butuh proses. Dan saya kira hasil tak bisa diambil sekarang bisa saja 5 tahun ataupun 10 tahun kemudian, “

“Mengapa kamu diam?”

“Tidak, aku hanya memikirkan yang kamu katakan. Aku juga memikirkan kenapa tidak di intitusi PMII saja membentuk itu?”

“Tidak bisa, sahabat. Kalaupun ingin paling banter di tingkat Rayon, karena rayon adalah tingkat pertama kaderisasi yang masih suci. Oh ya, selain itu tugas kita pun mencari kader dan senior kader yang punya keresahan yang sama, sebab perubahan tidak bisa dilakukan hanya satu orang saja, “iya” membutuhkan banyak orang untuk mengkonslidasikan itu.”

            Siapapun berhala itu, dan siapapun pengikut dari berhala itu, mesti dilawan dengan kaum yang progresif yang berada di PMII. Walaupun, terkadang terpotong dan dipotong oleh pisau politik yang pragmatis itu, tapi selama masih ada kader yang baik, selama itu Nilai Dasar Pergerakan akan hidup, dan akan terus hidup.

            Tentu, ketidakpuasan di PMII terhadap kondisi tersebut, mesti harus dilakoni dengan cara-cara beradab. Tidak perlulah menaruh kebencian terhadap PMII, karena lambaga kuning biru itu diciptakan dengan penuh keadaban. Jika dibilang menyaingi, sebab membangun platform baru, biarkan sejarah yang akan bicara bukan kita pelaku sejarah tersebut. Terakhir, sampai kapan kita ingin menyembah berhala itu? Atau malah menciptakan berhala baru untuk disembah dan mengontrol kebebasan berpikir kader?

Related posts
Opini

Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah?

2 Mins read
Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah? Miri Pariyas Tutik Fitriya Siapa yang disalahkan dan menyalahkan? Jika judulnya seperti itu? Jangan,… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Anak Broken Home, Apa yang Salah?

3 Mins read
Broken Home merupakan istilah yang tak jarang didengar ataupun ditemui di media sosial. Dalam mengartikan hal tersebut selalu merujuk pada ketidak utuhan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×
Good News

Regenerasi Kepengurusan, PMII Rayon Tarbiyah dan Ekonomi Syariah menggelar Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR)

%d blogger menyukai ini: