Opini

Mengenang 18 tahun Fahmi Djafar Saifuddin, Seorang Dokter yang Berkiprah di PMII dan NU

2 Mins read

Fahmi Djafar Saifuddin yang lebih akrab disapa dr. Fahmi merupakan seorang dokter yang aktif berorganisasi di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Nahdlatul Ulama (NU). Peran besar dr. Fahmi jarang terungkap atau bahkan tak terungkap oleh publik. Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui bahwa gagasan pemulihan khittah NU 1926 merupakan buah dari keseriusan dan kesabaran dr Fahmi dalam memikirkan perbaikan NU.

Lahir di Purworejo, 18 Oktober 1942, merupakan putera dari tokoh Menteri Menteri Agama Republik Indonesia (1962-1967) yakni Prof. K.H. Saifuddin Zuhri dan Kakak dari Lukman Hakim Saifuddin yang juga mantan Menteri Agama Republik Indonesia (2014–2019). Meski besar di lingkungan pesantren NU yang notabene memiliki kebiasaan terlambat, dr. Fahmi malah memiliki kedisiplinan yang tinggi dan sangat mengahrgai waktu. Beliau termasuk orang yang teliti, tekun, berpenampilan rapi, elegan dan bahkan berkelakar seperlunya.

Kiprahnya saat menjadi mahasiswa dan sebagai aktivis PMII memang tak terlalu banyak dituliskan. dr Fahmi merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteraan Universitas Indonesia (1962-1968). Beliau sempat menjabat sebagai Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1965-1967. Sedangkan dalam struktural PMII, beliau menjadi Sekretaris Umum Pengurus Besar (PB) PMII pada tahun 1967-1970. Selain itu dr fahmi juga mewakili PMII dalam salah satu badan organisasi kemahasiswaan yang berkecimpung dalam masalah kesehatan yakni Word University Service (WUS).

dr. Fahmi termasuk orang yang loyal kepada sahabat-sahabatnya di PMII. Meskipun dari segi materi tidak terlalu berlebihan, para aktivis PMII yang baru tiba di Jakarta dan kesusahan sering ditraktir makan olehnya. Beliau seorang yang respectfully terhadap orang lain. Sikapnya selalu ramah, hangat dan bersahabat. Kepribadian yang humble, sederhana dan rendah hati, membuat setiap orang yang berinteraksi dengannya merasa memiliki kedekatan pribadi.

Perjuangannya di NU pun tidak perlu diragukan lagi. Selain berhasil menyusun draf Khittah dengan mengumpulkan 24 orang NU atau yang dikenal dengan kelompok 24, lalu kemudian membentuk 7 tim yang diketuai Gus Dur dan dimotori olehnya sendiri, dr Fahmi juga merintis Lakpesdam (Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) NU. Bahkan Gus Dur dalam guyonanya memberikan gelar NU Gila kepada dr Fahmi karena masih tetap mengurusi NU meski sudah jam 12 malam.

Banyak hal yang dapat kita teladani dari beliau sebagai kader PMII khusunya kader PMII dari rumpun fakultas kesehatan dan sebagai warga nahdliyin secara umumnya. Kepribadian dr. Fahmi yang disiplin, tekun, teliti dan manajerial waktu yang baik membuat beliau memiliki profesionalitas yang tinggi. Buktinya bisa dilihat dari jabatan dan tugas-tugas yang dibebankan dapat terlaksana dengan baik.

Meskipun aktif di berbagai organisasi, dr. Fahmi juga tidak lupa melakukan penelitian dan membuat karya tulis sebagai seorang akademisi. Hampir sebanyak 34 karya tulis yang telah beliau hasilkan selama 1982-1996. Beliau ikut merintis Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, dan menjadi Dekan FKM UI selama 3 periode. Kehadiran beliau sering disebut sebagai trouble shooter, hal tersebut merupakan kesaksian dari Prof. Dr. Sujudi, karena telah banyak membantunya ketika menjabat sebagai Rektor UI selama 2 periode dalam menyelesaikan permasalahan yang ada di UI.

Selain itu dr. Fahmi adalah orang yang optimis. Beliau tidak pernah gagal, karena beliau memandang kegagalan sebagai bagian dari dinamika dalam proses perjuangan yang justru dapat dijadikan pelajaran. Dan yang paling berkesan dari sosok dr. Fahmi Djafar Saifuddin dan patut kita contoh yakni sangat menghargai silaturahim. dr. Fahmi pernah menyampaikan pada putranya Anto (Rakhmat Fajar Trianto), bahwa teman-temanya yang banyak ada yang dulunya teman dari Eyang Kakung juga yang sebelumnya tidak kenal baik. Dan Anto akan mempunyai lebih banyak teman dibandingkan beliau jika tetap meneruskan tali silaturahim.

Hari ini tepat pada 18 tahun yang lalu, dr Fahmi DJafar Saifuddin meninggal dunia tepatnya pada Minggu 03 Maret 2002 pukul 08.20 WIB dalam perawatan di RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Semoga kita semua dapat meneruskan perjuangan beliau dan meneladani kepribadian beliau.

(Diambil dari berbagai artikel)

Allahummaghfirlahu warhamhu, wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.

Semoga Allah SWT menempatkan almarhum dr. Fahmi Djafar Saifuddin di surga-Nya.

Alfatihah. Amin.

Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: