Opini

Membangun Literasi Mahbub Djunaidi

4 Mins read

Membangun Literasi Mahbub Djunaidi[1]
Oleh: Winartono[2]

Selintas-pandang Mahbub Djunaidi

Mahbub Djunaidi (MJ) adalah salah satu anugerah yang (pernah) dimiliki oleh bangsa Indonesia. Terlebih dalam pergerakan kaum santri (Nahdliyin) dia adalah bagian dari kunci kemajuan (progressiveness) dalam banyak aspek terutama pada masa (revolusi) kemerdekaan (Orde Lama) hingga masa dimana kaum ‘bersarung’ secara sistemis dikuyo-kuyo: rezim tiran Orde Baru. Banyaknya aspek tersebut menandakan bahwa putra Kyai berdarah Betawi ini sosok yang multi talenta. Pada masanya barangkali tidak sedikit yang memiliki skill multi talenta dan bisa jadi melebihi kapasitasnya, tetapi keperpihakannya pada nurani dan nalar kritis (berpikir jernih) membuat Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pertama ini menjadi spesial tidak hanya di kalangan habitat asilnya: Nahdlatul Ulama (NU). Tak heran ia—sebagaiamana diakui kawannya Ridwan Saidi—menjadi trend setter sekaligus icon yang mewarnai dunia perjuangan aktivis, jurnalis, budayawan, hingga politik kala itu.

Karya dan kiprahnya selama hidup untuk bangsanya, NU, dan bidang yang digelutinya itu terbilang minim menuai apresiasi, bahkan seolah terlupakan. Dari waktu ke waktu kiprah-juangnya seperti tertimbun oleh kemunculan derap-laju zaman. Sebagai penanda, reformasi politik 1998 rupanya menjadi babak baru yang di satu sisi memunculkan aktor-aktor baru yang tak jarang berlaga menjadi ‘pahlawan kesiangan’. Mungkin ada faktor penting lain yang membuat namanya tak setenar dulu. Bisa jadi hal tersebut berkaitan dengan sinyalemen misalnya penahanannya tanpa alasan dan proses hukum oleh rezim tiran Orde Baru.

Saya katakan nama berikut kiprah-karyanya nyaris terlupakan. Tengok saja wacana hari ini dalam bidang gerak Gus sastrawan-jurnalis yang pernah menjadi ketua umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ini. Kepenulisan (jurnalistik dan sastra) misalnya, namanya tidak se-familiar penulis buku populer dan se-legend penguasa (korporat) media. Dalam khazanah tokoh pejuang dan penggerak NU kiprahnya juga nyaris tak terrekam kecuali dari cerita lisan sebagian kecil orang. Dalam konteks habitatnya yang tersebut terakhir ini penulis bisa memaklumi sebab selain dirinya banyak sekali figur (patron) yang menghiasi ‘panggung-panggung’ gemerlap NU. Lebih maklum lagi patronase tersebut semakin langgeng dengan proses kaderisasi yang masih cenderung dijalankan atas dasar (pertimbangan) “nasab”. Maklumlah kalau setelah wafatnya, MJ menjadi layaknya buih dalam ‘golombang’ besar. Sumbangsihnya pada bangsa dan bidang yang digelutinya selama hidup seakan tertelan zaman. Namun begitu di luar kondisi ironis ini sumbangsih besar Kyai NU yang menggagas khittoh plus ini masih terrawat dalam ingatan anak-anak ideologisnya: para kader PMII.

PMII ibarat rumah harapan yang berisi cita-cita MJ. Aneh rasanya kalau para kader (sengaja) melupakannya. Organisasi kader yang memiliki motto dzikir, fikir, dan amal sholeh ini secara tersirat mengandung ide-ide perjuangan. Namun sebagai harapan PMII nada-nadanya hari demi hari semakin kurang mencerminkan cita-cita Pendekar Pena ini. Malahan di banyak tempat namanya diungguli oleh patron lokal yang mewujud cabangisme, komisme, hingga rayonisme. Sedang nuansa primordialisme dihindari oleh politikus berdarah Betawi ini. Hal ini bisa kita lihat pada deskripsi sahabat karibnya Said Budairy dalam Asal-Usul misalnya, bahwa “Mahbub merasa lebih lega menjadi Indonesia, terlalu sempit menyudut dengan Betawi.” Pernyataan ini bukan berarti ia tidak bangga dengan kampung aslinya. Lebih jelas bisa kita baca tulisannya yang berjudul Betawi. Namun begitu meski masih terbilang minim selam ini, Organisasi kaderisasi berlatar santri ini tetap menjadi perawat elan perjuangan seorang tokoh bangsa yang mengaku ingin menulis “hingga tak lagi mampu menulis” ini.

Geliat Literasi Sang Pendekar Pena

Sebagaimana cerita yang berkembang—diantaranya sempat dituturkan sahabatnya KH. Munsif Nahrawi—MJ adalah aktivis idealis yang banyak dan lantang bicaranya tetapi juga pintar menulis. Namun saya kira tidak demikian dengan para kader penerusnya di PMII. Biasanya yang pandai bicara sulit menuangkan gagasannya dalam tulisan, sebaliknya yang piawai menulis biasanya tidak cakap berkomunikasi melalui lisan. Saya anggap beliau (Allah yarhamhu) ini termasuk manusia Indonesia yang langka. Barangkali jejak perjuangan, keaktifan, kepenulisan, hingga gerak politiknya sulit untuk ditiru.

Yang cukup ironis adalah fakta bahwa langkanya buku atau sumber tertulis yang mengkisahkan kiprahnya. Sebagai seorang tokoh besar di dunia jurnalistik misalnya, namanya jarang disinggung oleh para wartawan—yang tidak sedikit juga berlatar ideologis yang sama. Sebagai sosok yang pernah dijuluki Sang Pendekar Pena, namanya juga jarang—untuk tidak mengatakan absen—menghiasi dunia literasi (tulis-menulis). Tidak sedikit kader penggerak dunia literasi yang (kader aktif atau jebolan) PMII tak cukup akrab dengan nama, malahan mereka lebih ‘mesrah’ dan bangga dengan (menyebut) tokoh-tokoh lain yang—pada masa rezim otoritarian—tulisan ‘kritisnya’ tenggelam dalam kenyamanan, tak se-lantang (tulisan/suara) MJ. Nama dan kisah-kiprah besarnya di NU juga cukup lama kurang menjadi perhatian.

Pendek kata, gerakan literasi untuk berupaya mewujudkan “melek” kisah tentang perjuangan MJ masih sepi. Namun di luar kelangkaan sumber (bacaan) kisah tersebut, usaha ‘menyuarakan’ nama besarnya sedikit demi sedikit muncul dari generasi ideologis yang notabene berpaut cukup lama dengannya. Kalau sebelumnya nama besarnya hanya cukup menghiasi momen ‘selebrasi’ hari lahir (harlah) organisasi yang pernah dia pimpin dan besarkan, kini geliat literasi tentangnya terlihat mulai ‘menjamur’. Di Kota Malang misalnya ada upaya menghimpun tulisan kesan ‘sederhana’ tentang dia, yang berhasil diterbitkan meski terbatas dengan judul Mahbub Djunaidi di Mata Sahabat (2016). Kemudian akhir-akhir ini buku-buku karyanya mulai direproduksi lagi. Dan barangkali masih ada beberapa upaya literasi lainnya yang dilakukan oleh para sahabat PMII di belahan kota lain.

Dari kelangkaan sumber inilah, film dokumenter kesaksian para tokoh tentang sosok Mahbub Djunaidi muncul layaknya oase, yang cukup mengobati ‘kehausan’ para generasi muda maupun para penggemarnya akan kisah perjuangannya. Kita tentu patut berterimakasih dan mengapresiasi upaya sahabat-sahabat kreatif yang berkarya melalui Omah Aksoro (Jakarta). Upaya-upaya kreatif tersebut eman kalau hanya muncul sebagai penghias momen harlah saja. Lebih sayang lagi kalau geliat literasi tersebut tidak dilanjut dengan upaya-upaya kreatif lainnya. Masih banyak ruang kreasi—tulisan, penelitian, film, dll—untuk menggali kebesaran dan ketulusan kiprah-juang seorang tokoh yang patut dibanggakan ini. Sebagai penutup, saya mengajak barang sejenak berdoa dan membacakan al-fatihah untuk al-maghfurlah Mahbub Djunaidi.

Semoga bermanfaat. Afwa minkum, wallahul muwafiq ilaa aqwaamit thoriiq, Allahu a’lam bis-showaab.

(Malang, Kamis surub menjelang magrib 27 April 2017)

[1]Tulisan pengantar pada “Diskusi dan Bedah Film Mahbub Djunaidi” (Omah Aksoro) dalam rangkaian Harlah ke-57 PMII, yang diadakan oleh Pengurus Komisarita PMII Brawijaya Malang (27 April 2017 bertempat di Kalimetro)

[2]Tulisan pengantar pada “Diskusi dan Bedah Film Mahbub Djunaidi” (Omah Aksoro) dalam rangkaian Harlah ke-57 PMII, yang diadakan oleh Pengurus Komisarita PMII Brawijaya Malang (27 April 2017 bertempat di Kalimetro)

150 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Gelar RTK Ke-II, Syahruddin & Tiara Pimpin
PK PMII ISQ Syekh Ibrahim 2022-2023

1 Mins read
Pasir Pengaraian – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ISQ Syekh Ibrahim 2020-2022 sukses gelar Rapat Tahunan Komisariat (RTK) Ke-2…. Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah?

2 Mins read
Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah? Miri Pariyas Tutik Fitriya Siapa yang disalahkan dan menyalahkan? Jika judulnya seperti itu? Jangan,… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Menghancurkan Berhala-Berhala di Institusi Biru Kuning

4 Mins read
“Sudah ku bilang teknik dan startegismu itu, tak ada gunanya,” “Maksudmu?” “Maksud ku ini percuma, toh, ini adalah permainan yang disepakati  oleh… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: