Opini

Masker Kain Efektif Cegah Corona?

2 Mins read

Oleh : Yusuf Ikrom Nur Azami

Kedatangan virus covid – 19 atau yang biasa kita sebut dengan virus corona mengakibatkan kegelisahan yang luar biasa. Masyarakat dihantui oleh rasa panik. Semua berlomba – lomba untuk melindungi dirinya dari pandemi virus ini. Hal ini juga membuat masker yang merupakan salah satu alat pelindung diri langka di pasaran dan harganya pun melangit. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang justru memanfaatkan ini untuk bisnis tanpa memperdulikan asas kemanusiaan. Melihat fenomena miris ini, diperlukan cara alternatif untuk mengurangi penularan virus corona yang semakin merebak dari hari ke hari. Salah satu alternatif dari keterpaksaan akibat kekurangan stok masker tersebut yaitu menggunakan masker kain yang dapat dijahit sendiri untuk orang-orang non tenaga medis dan bukan merupakan orang yang kontak dengan pasien covid-19. Selain itu, dr. Tirta, yang merupakan ¬influencer sekaligus dokter juga mewajibkan masyarakat untuk menggunakan masker kain untuk mencegah penyebaran virus corona. Namun apakah masker kain efektif untuk digunakan di tengah pandemi covid-19 saat ini?

Penelitian yang dilakukan oleh Disaster Medicine dan Public Health Preparedness, Cambridge University pada tahun 2013, ditemukan bahwa masker bedah memiliki daya saring 3 kali lipat dibandingkan dengan masker kain untuk mencegah mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Bahan yang di uji coba pada penelitian ini yang digunakan sebagai masker yaitu syal, kain katun 100%, sarung bantal, handuk teh, masker antimikroba, masker bedah, kantong penyedot debu, kapas campuran, linen dan sutra. Ketahanan masker diuji dengan mikroorganisme Bacillus atrophaeus dan Bacteriophage MS2. Selain itu, baik masker bedah dan kain juga dites dengan konsentrasi aerosol bakteri dan virus yang tinggi untuk menilai efisiensi penyaringannya. Terkait manfaat penyaringan, semua jenis kain yang diuji tadi juga menunjukkan kemampuan untuk memblokir aerosol mikroba.

Di tengah kelangkaan pasokan masker akibat pandemi covid–19 ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC USA) mengeluarkan pengecualian penggunaan masker buatan sendiri berbahan kain dengan beberapa catatan, penggunaan masker buatan sendiri seperti bandana atau syal merupakan upaya pencegahan terakhir ketika tidak adanya masker medis atau N95. Pemakaian masker kain dianjurkan seiring penyebaran virus corona atau covid-19 yang semakin meluas. Terlebih, penelitian terbaru dari institusi tersebut menyebutkan bahwa virus ini bisa bertahan selama 17 hari di permukaan.

Menyadari daya saring dari masker buatan sendiri tidak se-efektif masker bedah, CDC  USA dalam laman resminya menyebutkan masker kain buatan rumah tidak dianggap sebagai alat pelindung diri (ADP), karena kemampuannya dalam melindungi petugas kesehatan tidak diketahui. CDC USA menambahkan bahwa penggunaannya harus dikombinasikan dengan pelindung wajah plastik (face shield) yang menutupi keseluruhan bagian depan dan samping wajah. Terkait penggunaannya, dokter Tirta mengatakan agar setiap orang minimal memakai 1 masker kain untuk 1 hari dan kemudian langsung dicuci. Oleh karena itu, seseorang dianjurkan untuk memiliki 5 masker kain yang berbeda untuk dipakai bergantian selama 5 hari, kemudian rolling dengan masker kain pertamanya yang sudah dicuci bersih, dan begitu seterusnya.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Disaster Medicine dan Public Health Preparedness, Cambridge University, menyebutkan  masker kain harus dicuci dengan mesin untuk menghilangkan sisa partikel mikroorganisme yang dapat mencemari bagian luar masker. Kemudian, lepaskan masker kain dengan menarik tali bagian belakang ke depan dan jangan menyentuh bagian depan masker. Dokter Tirta juga menambahkan, cara mencucinya sehari sekali menggunakan air panas dan detergen.

Jadi menurut penulis, masker pelindung dapat mengurangi kemungkinan penularan infeksi virus, tetapi tidak akan menghilangkan risiko terkena infeksi virus. Masker kain buatan sendiri dianggap sebagai upaya terakhir untuk mencegah penularan virus melalui partikel kecil (droplet) dari hidung atau mulut orang yang terinfeksi – seperti batuk dan bersin. Selain itu, pemakaian masker kain juga lebih baik untuk orang-orang yang tidak kontak dengan pasien covid-19 karena memiliki efektifitas mencegah penularan sekitar 72%. Dengan begitu kita sudah sedikit meringankan beban petugas kesehatan di tengah maraknya kelangkaan APD, sehingga tenaga kesehatan juga lebih aman untuk melakukan pekerjaan mulianya. Stay safe sahabat.

Sumber :

Davies, A, dkk. 2013. Testing the Efficacy of Homemade Masks: Would They Protect in an Influenza Pandemic?. Disaster Medicine and Public Health Preparedness. Cambridge Journal.

https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/ppe-strategy/face-masks.html

Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: