Opini

Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah?

2 Mins read

Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah?

Miri Pariyas Tutik Fitriya

Siapa yang disalahkan dan menyalahkan? Jika judulnya seperti itu? Jangan, begitu bukannya kader harus tunduk dan patuh dengan kata senior.  Ah sial, salah maksud saya begini “kader harus tunduk dan patuh dengan pemimpin. Sebab, tidak tunduk pada pimpinan adalah bentuk penghianatan terhadap organisasi” Itulah kata yang tak asing terdengar. Ibarat alarm yang mendering begitu kencang sebagai kontrol ingatan pada kader.

            Tidak begitu? Ini hanya bagian dari khidmat pada organisasi. Pemimpin Rayon, Komisariat, Cabang hingga PB sudah memiliki tanggung jawab begitu berat. Kita harus tunduk upaya menjaga stabilan organisasi. Semua keputusannya adalah perintah “Katanya”.

            Lalu, ruang itu memanas dengan suara lantang satu kader yang berucap “Ini bagian dari mematikan pikiran kritis kader” Semua di tempat itu terdiam sambil mentap seakan tak setuju dengan kata kader itu sebut saja “Mahbub”. Mahbub kembali menempali “Tunduk dengan pemimpin bukan hanya dilihat dalam satu persepektif. Jika pemimpin tidak menerapkan NDP PMII, apakah kita juga turut andil? Dengan dalih tersebut”.

            Sebagian seakan setuju tak berani menimpali. Hanya terdiam seperti lampu merah yang hanya memberikan isyarat warna hijau yang artinya setuju. Tanpa pembela yang pasti. Tidak tau alasan pasti mengapa mereka tak ingin berargumen sepatah apapun.

            Semua orang percaya bahwa forum itu adalah forum sakral. Lantas, mengapa tidak ada persaingan gagasan? Mempertanyakan sesuatu hal untuk menjadi perbaikan untuk ke depannya. Namun, seberapa penting forum itu jika semua orang menyematkan sebagai forum sakral? Toh, semua tidak tergantung itu, namun tergantung siapa pemimpinnya? Dan siapa orang di balik pemimpin itu pula? Kok, bisa?

            Sudah sering kali, tiap tahun forum semacam itu digelar dan dihadiri semua kader untuk memberikan sumbangsih  pemikirin, hingga berbusa menjelaskan sebuah konsep ideal. Sebut saja forum MUSPIMCAB. Namun, na’asnya, hal itu tak pernah digubris sedemikian ideal pula, ketika pelaksanaan dalam sebuah kepenggurusan di masa akan mendatangkan. Ini real. Semua tergantung penggurus dan semua koalisi yang mengusungnya.

            Laku dan lagaknya sudah seperti poltik saja. Bermain politik di PMII menutup semua indra pendengar, pengelihat, dan empati. Tak salah jika mereka kehilangan sense of crisis dan merapuhkan benteng peduli sesama kader. Paling banter mereka akan mendengarkan orang yang hanya berkoalisi dengan mereka. Lantas sampai kapan seperti ini?

            Tak salah jika kebanyakan para kader, tidak sedikitya lebih gemar berbicara dibanding melakukan sebuah pembaharuan. Semua atmosfer yang dibangun pun tak mendukung mereka menjadi pembaharu, namun kader yang bermental talk more than practice. Ironis mendagu seorang pemimpin, namun menutup semua indra yang mereka miliki, mendagu seorang intelektual membaca buku saja jarang apalagi berdiksusi menggunakan suatu konsep sambil mempraktikkannya, mendagu seorang aktivis, namun menggunakan intrumen kader untuk mengambil uang rakyat dan berdalih keadilan. Lantas apakah itu menjadi pemimpin yang berintelektual?

            Ketika kader memiliki perbeda dan cukup krtisis dan mahir mengkritik segala bentuk kebijakan dalam suatu kepenggurusan, dikatakan sebagai salah satu ancaman bagi mereka. Bukankah itu bagian dari pembungkaman kader? Bukankah itu mengambil hak kader untuk lantang bersuara? Dan sebagian mereka ada yang memilih untuk keluar dan ada yang tetap memilih bertahan. Atmosfer semacam itu,  sukar untuk dihilangkan. Namun, yang harus dilakukan adalah memberikan pemahaman secara radikal kepada kader, barang tentu menjadi alat perlahan menciptakan atmosfer baru.

Related posts
Opini

Gelar RTK Ke-II, Syahruddin & Tiara Pimpin
PK PMII ISQ Syekh Ibrahim 2022-2023

1 Mins read
Pasir Pengaraian – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ISQ Syekh Ibrahim 2020-2022 sukses gelar Rapat Tahunan Komisariat (RTK) Ke-2…. Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Menghancurkan Berhala-Berhala di Institusi Biru Kuning

4 Mins read
“Sudah ku bilang teknik dan startegismu itu, tak ada gunanya,” “Maksudmu?” “Maksud ku ini percuma, toh, ini adalah permainan yang disepakati  oleh… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Anak Broken Home, Apa yang Salah?

3 Mins read
Broken Home merupakan istilah yang tak jarang didengar ataupun ditemui di media sosial. Dalam mengartikan hal tersebut selalu merujuk pada ketidak utuhan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×
Good News

Atubu dan Fitriana Pimpin PK PMII STAI TUNTAS 2022-2023 pada RTK Ke-II

%d blogger menyukai ini: