Esai

Konsep Kepemimpinan Kihajar Dewantara sebagai Strategi Pendampingan Kader

3 Mins read

Oleh : Agus Nurhasan

Pendahuluan

Keinginan menghadirikan pemimpin yang benar-benar hebat untuk mendongkrak kinerja organisasi sudah menjadi fenomena universal. Dari masa ke masa, telah muncul kader dengan kapasitas kepemimpinan yang hebat, upaya mnegimplementasikan mimpi dan pencapaian presatsi organisasi secara kompetitif akan lebih banyak menjelma sebagai mimpi ketimbang realitas. Dalam dunia organisasi, managemen seorang pemimpin tentunya sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan orgnaisasinya kedepan. Setiap tokoh yang berada didepan harus mempunyai strategi yang dibentuk untuk mengawal para kadernya agar tercipta pemimpin selanjutnya yang lebih baik.

Istilah strategi pada mulanya digunakan dalam dunia kemiliteran. Strategi berasal dari bahasa Yunani yaitu Strategos yang berarti Jendral atau panglima, sehingga strategi diartikan sebagai ilmu kejendralan atau ilmu kepanglimaan. Strategi dalam pengertian kemiliteran berarti sarat penggunaan seluruh kekuatan militer untuk mencapai tujuan perang. Sedangkan menurut Marrus (2002) strategi didefinisikan sebagai suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai.

Pendampingan kader dalam pengertiannya tentu berkaitan dengan Sumber Daya Manusia. Gauzali (2000) mengemukakan “ pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan di organsisasi, agar pengetahuan (knowledge), kemampuan (ability), dan ketrampilan (skill) mereka sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mereka lakukan, dengan kegiatan pengembangan ini, maka diharapkan dapat memeperbaiki dan mengatasi kekurangan dalam melaksanakan pelerjaan yang lebih baik, sesuai dengan pengembangan ilmu dan teknologi yang digunakan oleh organisasi.”

Sistem pengkaderan PMII sendiri adalah totalitas pembelajaran yang dilakukan secara terarah, terencana, sistematik, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi, mengasa hkepakaan, melatih sikap, memperkuat karakter, mempertinggi harkat dan martabat, memperluas wawasan, dan meningkatkan kecakapan insan – insan pergerakan agar menjadi manusia yang muttaqin, beradap, berani,santun, cendik – cendikia, berkarakter, terampil, loyal, peka, dan gigih menjalankan roda organisasi dalam upaya pencapaian cita – cita dan perjuangannya (Multi Level Strategi Gerakan PMII, PB PMII; 2006).

Berdasarkan uraian tersebut, yang perlu diberikan ialah bukan hanya sekedar pendampingan tanpa tercapainya cita-cita organisasi. Harus ada nilai pemberdayaan dan pengembangan yang diberikan kepada kader, karena organisasi yang berkualitas selalu berupaya menciptakan peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan kadernya serta meningkatkan jenjang karirnya yang sesuai dengan kapasitas, kualitas dan dedikasi kader.

Pembahasan

Strategi pendampingan kader PMII perlu dirancang berdasarkan berbagai ide dalam ketentuan ideal konstituional dan produk-produk historis serta analisis antisipatif serta prediksi PMII ke depan sehingga setiap rangkaian program dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kerangka strategi dan program yang berkelanjutan tersebut diinisiasikan untuk mewujudkan tujuan PMII sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar Bab IV Pasal 4 yaitu: “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”

Kepemimpinan sebagai ssuatu konsep manajemen dalam kehidupan organisasi memiliki posisi sangat strategis yang selalu diterapkan dalam kehidupan organisasi. Begitu pula dalam hal pendampingan kader. Aktor dalam pendampingan kader tentuya harus memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Peran kepemimpinan pada pendamping memiliki pengaruh arah dan tujuan dalam mendidik kader-kadernya. Para pendamping yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik akan memberikan rasa nyaman pada kader-kader dampingannya.

Konsep kepemimpinan dapat dijadikan strategi dalam pendampingan kader, salah satunya yang telah dikonsepsikan oleh Ki Hadjar Dewantara  dalam filosofinya berbunyi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Konsep ini layak untuk dipilih sebagai strategi pendampingan kader, dimana konsep kepemimpinan ini merupakan konsep  kepemimpinan khas Indonesia yang tidak membedakan orang dari tingkatannya, tetapi dari peranannya. Peran itupun tidak selalu sama, bisa peran saat di depan, peran pada saat di tengah dan peran pada saat di belakang.

Ing Ngarso sung Tulodho yang bermakna di depan memberikan contoh. Artinya sebagai pendamping harus bisa menjadi teladan, pembimbing, dan memberikan contoh kepada yang kader-kadernya. Susahnya menjadi seorang yang teladan karena alamiahnya manusia mempunyai sifat baik dan sifat buruk sehingga kita harus berusaha menyeimbangkan antara keduanya.

Ing Madya Mangun Karsa, memiliki arti di tengah menggugah semangat (menjadi pelopor). Seorang pendamping harus bisa mengayomi, menjalin kebersamaan, menjadi pemicu untuk memuncukan ide-ide dan memotivasi kader-kadernya. Seorang pendamping harus bisa merangkul dan mampu menggugah semangat untuk aktif berorganisasi sertas emangat untuk berproses di PMII.

Tut Wuri Handayani, berarti dari belakang memberikan dorongan. Artinya seorang pendamping mampu menjadi among yang selalu memberikan dorongan moril ketika kader-kadernya merasa lemah dan merasa tidak mampu. Selain  itu juga bisa menempatkan diri di belakang untuk mendorong kadernya berada di depan untuk memperoleh kemajuan dan prestasi. Pendamping diharapkan mampu untuk mendidik dan mengembangkan kader-kadernya agar terbentuk pula pemimpin-pemimpin baru sehingga tercipta proses regenerasi. Sesuai dengan kata pepatah yang menyebutkan Pemimpin yang baik adalah ia yang mampu menyiapkan pemimpin selanjutnya yang lebih baik dari dirinya.

Kesimpulan

Strategi pendampingan kader rasanya menjadi pembahasan yang tidak menarik ketika tidak ada action yang nyata. Setiap kampus dan setiap masa memiliki tantangan sendiri dalam pendampingan kader, akantetapi yang perlu ditanamkan bahwasanya setiap kader wajib mengkader. Pemimpin baru akan tumbuh subur apabila pemimpin sebelumnya menanam, merawat dan memumupuknya setiap saat. Pendamping tidak dituntut mengetahui tentang semua hal, yang paling penting dalam pendampingan kader adalah memahami posisi diri. Dengan konsep kepemimpinan Kihajar Dewanatara ini, diharapkan pendamping akan mudah memahami posisi dan fungsinya, kapan dia didepan, diitengah dan kapan dia dibelakang.

Referensi

Marrus. 2002. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. PT. Bumi Aksa. Jakarta.
Multi Level Strategi Gerakan PMII, PB PMII 2006 Syaidam, Gouzali. 2000.
Manajemen Sumber Daya Manusia (Human Resources Management): Suatu Pendekatan Mikro (Dalam Tanya jawab). Jakarta: Penerbit Djambatan.

Related posts
Esai

MENYONGSONG GERAKAN LITERASI DI PMII “Literasi episentrum kemajuan kebudayaan dan peradaban (Djoko Saryono)”

3 Mins read
Berawal dari tulisan salah satu sahabat yang dimuat dalam Website Indoprogress, di dalamnya bermuara keresahan arah gerak PMII saat ini. Ia  menyebutkan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

MUTUALISME RAYON PMII PENCERAHAN GALILEO DAN MAHASISWA (ANGGOTA-KADER)

2 Mins read
Oleh : Mat.Lajo Pada dasarnya rayon merupakan ruang laboratorium untuk aktualisasi ragam cara pikir atau proses ber-mahasiswa, dalam hal ini ibarat kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Esai

WAFAT NYA ULAMA SEPUH YANG SANGAT NASIONALIS

4 Mins read
Oleh : Alwin Mahyudin Saat menulis tulisan ini, tangan  dan otak-ku seperti kompak untuk melakukan pekerjaan nya untuk menggambarkan seorang tokoh manusia… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: