Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read

Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan habis ditelan oleh masa“. Barangkali, itulah awal dari gagasan lahir buku ketiga. Tentu, sahabat-sahabati galileo menyakini bahwa menulis adalah salah satu ikhtiar dalam mengawali perubahan sosial. Setidak-tidaknya anggapan itu tidak bisa dianggap sepele. Walaupun, tidak semuanyanya menyakini ikhtiar itu.

Seperti kata Galileo “Kamu tidak dapat mengajari seseorang apa pun, kamu hanya bisa membantunya menemukan apa yang ada dalam dirinya sendiri” . Mengajak untuk melakukan kebaikan dengan cara menulis bersama sahabat-sahabati menjadi awal untuk mempererat silaturrahmi. Kendatinya, kekuatan itu tak akan pernah nampak jika mana tidak ada wadah yang menyatukan. Maka, alat yang digunakan adalah buku.

Seyoginya, buku bukan hanya sekedar lembaran yang menawarkan pengetahuan saja. Fungsinya lebih dari pada itu, Ia menjadi alat untuk mempersatu khusunya, mempersatu tali persaudaraan. Mengapa? Sebab, semua gagasan yang dimiliki oleh sahabat-sahabati bisa tertampung menjadi satu tanpa diawali dengan perdebatan yang tak kunjung memiliki kesimpulan.

Sebagaimana, buku yang telah terbit itu. Ia memuat gagasan yang berbeda-beda dari 21 penulis. Indah bukan? Keindahan itu nampak dalam buku ketiga dari karya sahabat-sahabati. Penulis menyakini bahwa gagasan yang ditulis adalah hasil dari pengalaman sahabat-sahabati yang seharunya bisa dipublish. Serta digunakan dalam semua kegiatan PMII dan andil dalam perubahan sosial. Nasehat seseorang Gramci yang mengatakan bahwa “Jika mana seseorang ingin mengubah sesuatu maka, iya harus mengubah pikirannya terlebih dahulu hingga menjadi pegangan untuk mendorong bahkan memunculkan persepektif baru dalam upaya membongkar ketidakadilan”.

Kata bapak Gramci bahwa dalam melakukan perubahan harus ada tradisi intelektual. Sebab, tidak kesemuanya memahami betul apa nilai-nilai yang dibawa setiap individu. Oleh karena itu, perlu dipahami dalam menyatukan nilai yang dimiliki seseorang maka, perlu ada alat verifikasi. Salah satunya adalah menulis.

Buku Ketiga dan Isinya

            Sejak perencanaan hingga terciptanya buku ketiga bukan kemudahan yang hadir begitu saja. Barangkali dalam mengawali kesemuanya perlu tekad yang kuat. Tema ditawarakan tidak semua mengamiinkan (Gerakan Kader dalam Membangun Kesadaran Ekologi Sebuah Diskursus dan Pengalaman di Lapangan). Banyak pernyataan yang hadir satu diantaranya apakah mungkin relevan jika mana ditulis oleh kader eksakta ?

            Namun demikian, terlepas dari kesemuanya memang perlu sesekali kader eksakta memulai diskursus soal ekologi.  Sadari atau tidak  selama ini kita selalu terjerumus pada diskusi politik pragmatis. Pada akhirnya, kita selalu menyimpulkan bahwa politik dekat dengan PMII. Itu benar namun bukan menjadi alasan untuk mempersempit dirkusus para kader.

            Seyoginya, kalau mau dibilang seharusnya kader PMII utamanya kader eksakta. Memiliki peran dalam mengambil dirkusus soal itu, apalagi isu itu sangat dekat dengan ilmu alam. Bukan hanya itu saja, soal nilai dasar pergerakan yakni minal hablul alam. Dimana nilai NDP sebenarnya hendak mengajak para kader PMII untuk andil dalam gerakan lingkungan.

            Artinya, sahabat-sahabati diminta andil dalam memikirkan soal isu ekologis  itu. Amanat yang kerap kali dilupakan oleh para kader karena terlalu nyaman dengan zona kekuasaan. Minimal mulai lah dengan hal yang paling terkecil seperti diskusi baik secara formal dan non formal. Sebab itulah, yang menambah daya kritisan kita dalam menanggapi soal isu yang kontekstual hari ini.

            Sebagaimana, niat baik yang dilakukan oleh kader Galileo mengawali kesemuanya dengan cara menulis. Setidak-tidaknya sub tema yang ditawarkan sangat dekat fenomena yang ada diantaranya adalah Kaderisasi Basis Fakultatif dalam Pelestarian Sumber Daya Alam, Peran Kader Eksakta dalam Pengelolahan Sumber Daya Alam, Perempuan dan Sumber Daya Alam, Konflik Sumber Daya Alam dan Pendampingannya, Sumber Daya Alam dalam Revolusi Industri 4.0, dan Fikih Lingkungan dan Kader Eksakta.

            Sub tema itupun bukan hanya sekedar sub tema yang tiba-tiba hadir dalam proses penulisan akan tetapi, hal itu adalah salah satu hasil dirkusus dari beberapa kader. Kami kesemuanya menyakini bahwa sebagai kaum intelektual PMII hendaklah peka terhadap isu saat ini sebutlah “Sumber Daya Alam atau Ekologi” dimana, sumber tersebut merupakan kekayaan ibu pertiwi yang tak pernah terbantahkan oleh apapun hingga duniapun mengamiinkan hal tersebut . Para ahli mengatakan bahwa negara kami adalah negara yang kaya akan sumber daya alam sehingga sering dijuliki sebagai “Negara Megabioderversitas”.

            Ingin sesekali meminjam perkataan Gus Abe yang telah memberikan sambutan pengatar di Buku ketiga Galileo yang saya kira wajib diletakan dalam tulisan ini dikarenakan pemikiran sama dengan kami mengapa dan kenapa kami menggagas buku ketiga hingga membuat daftar subtema yang hendak kami tulis. Begini katanya “Kita terombang – ambing dalam arus kekuasaan. Pada banyak kasus, gerakan mahasiswa justru mejadi alat legitimasi kekuasaan, tak lagi menjadi kekuataan yang mengambil jarak dan bersikap kritis terhadap jalannya kekuasaan. Pondasi pergerakan kita harus ditata ulang dengan sadar, kritis, dan kreatif sebelum terjangkit “patologi” dekadensi gerakan. Sadar berarti mengetahui siapa dirinya (PMII). Kritis berarti cerdas membaca realitas sosia masyarakat dan geoekosospol dunia. Kreatif berarti melakukan kerja gerakan yang kontekstual dan terukur dari level institusi PMII paling tinggi sampai bawah. Ketiga komponen tersebut menjadi kesatuan penting guna meneguhkan standing position PMII. ibarat orang berpergian tentu harus memiliki tujuan dan cukup bekal. Begitu pun dengan kader dan Institusi PMII. Setiap kader mau tidak mau harus memiliki tujuan gerakan dan bekal pengetahuan dalam melakukan kerja-kerja gerakan. Tujuan ini penting guna menentukan dimana PMII berpijak dan kemana PMII berpihak”

            Bekal pengetahuanlah yang menjadi basis utama dalam melakukan kerja-kerja gerakan. Betul apa kata Prof Djoko Soryono “Bahwa literasi adalah episentrum peradaban”. Darinya lah kesemuanya lahir mulai dari kesadaran akan realita hingga melakukan gerakan yang nyata. Inilah yang seharusnya ditumbuhkan di PMII. Selama ini kita hanya melihat di media sosial bagaimana suasana ekonomi politik tanpa ingin mengkaji dengan pradigma kritis.

            Kata dua sahabat yang menjadi promotor dalam gerakan tulis ini mengatakan bahwa “sub tema ini sedarinya adalah salah satu bekal para kader dalam melakukan gerakan nyata dalam perubahan sosial” . Sebenaranya, kalau mau jujur saya pribadi sudah tidak memiliki harapan apapun di PMII dalam berproses karena atmosfernya tidak lagi merawat keberpihakan malah sebaliknya, mengejar kue kekuasaan yang begitu bertebaran hari ini. Akan tetapi, mendengar kata itu saya memiliki harapan bahwa suatu saat akan lahir gerakan besar yang digagas oleh kader PMII utamnya kader eksakta.             Terlepas dari pada itu, bahwa sesungguhnya buku ini adalah salah satu pedoman yang kami tawarkan untuk PMII, diterima atau tidak itu persoalan belakang. Secara garis besar kata gus abe buku ini adalah “Upaya mengkontekstualkan sistem kaderisasi fakultatif dengan pendidikan ekologi kritis yang tujuan besarnya adalah memastikan sumber daya alam. Buku ini bahkan menjadi panduan bagi PMII secara kelembagaan menunaikan beban moralnya untuk memaksimalkan NDP, wabil khsus menjaga hubungan manusia dengan alamnya”.

Related posts
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read
“Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”“Galileo Galilei” Itulah kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Teknologi

Cara Install CyberPanel di CentOS 7

%d blogger menyukai ini: