Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read

Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho tersebut.

Sebagaimana salah satu satatus Akademisi Universitas Ibrahimy di Facebook yang mempersoalkan anggaran tersebut “Baleho tiga tokoh teramat banyak. Nampak mereka sedang membranding diri sebagai kandidat presiden 2024. Baleho yang diletakkan ditempat yang strategis dengan ukuran raksasa. Semakin strategis maka semakin banyak uang sewanya” . Selain itu, beliau membuat hitungan kasar hampir tembus angkanya adalah Rp. 14.083.600.000 .

Disisi lain, pertanyaan uang itu dari mana ? Jika dari subsidi Negara, iuran anggota partai  ataupun iuaran dewan. Bukankah itu uang rakyat ! Padahal kita mengetahui secara sesama seluruh dunia khususnya Indonesia sedang berduka sebab pandemi. Disisi lain, mereka tega dan kehilangan sensifitas anosmianya hingga menghambur-hamburkan uang sebayak itu. Seharusnya, dana tersebut lebih baik dialokasikan ke bencana ini.

Terlepas dari kesemuanya ada yang menarik jika mana dibenturkan soal kaderisasi di PMII.  Kita tahu salah satu di baliho yang sedang beredar adalah satu diantara afiliasi kuat dengan PMII. Bahkan, tokoh tersebut sering kali beredar di pamflet PMII seluruh Indonesia tak terkecuali.  Banyak yang mengatakan itu bagian dari “Kaderisasi penokohan di PMII”. Saya hormat sebagai kader, namun tidak setuju.

Tak jarang saat itupun kebanyakan dari pada mereka tidak merespon baleho itu. Bukan mereka tidak mengerti. Tapi, memang pada dasarnya sistem kaderisasi ala penokohan hendak memperkedil daya pikir mereka.  Mereka terbuai dengan hal itu hingga lupa pada visi misi PMII yang sebenarnya. Bagaimana pun itu telah mendarah daging di tubuh PMII mulai dari Rayon hingga Pusat.

Sistem Kaderisasi yang Salah

Muatan tentang kaderisasi memang selalu asik untuk dibicarakan. Namun, lagi-lagi sistem kaderisasilah yang akan membentuk pola berpikir kader. Kembali kepada topik “Kaderisasi Penokohan”. Hal ini menjadi biasa saja jika mana tidak meggunakan pradigma kritis sebaliknya, akan menarik jika menggunakan hal tersebut.

Sejauh pengamatan penulis kaderisasi penokahan yang menjadi tradisi di PMII perlu dikaji kembali oleh semua kader PMII. Ada beberapa hal yang dapat dibicarakan atau memulai diskursus tersebut Seberapa urgensikah kaderisasi penokohan itu terhadap marwah organisasi PMII? Bagaimanakah capaian dalam menggunakan kaderisasi penokohan di PMII? Siapakah yang pantas menjadi role model dalam kaderisasi penokohan tersebut? Nilai apa yang hedak dibawak oleh tokoh tersebut dalam arah gerak PMII?

Ini bagian yang kerap kala diabaikan oleh kader dan menjadi tradisi yang buruk. Pernah kalian berpikir mengapa pamflet PMII hanya kader yang telah bergerak di Kancah Politik saja yang ditonjolkan? Apakah kalian pernah berpikir mengapa semua kader yang dipublis di Kancah Politik ? Apakah PMII hanya menyentak kader untuk di ranah politik  saja ? Sehingga, kader sering mengaungkan”Jika, ingin merubah masuklah sistem”.

Padahal sejak reformasi hingga sekarang banyak kader yang masuk sistem masih belum mampu merubah sosial hari ini malah sebaliknya. Beberpa kader yang terjerat kasus korupsi saya tidak harus menjelaskan saya kira sahabat-sahabati telah mengetahui hal tersebut.

Sistem kaderisasi seperti itulah yang menjadi awal ambisi kader untuk menikmati kue kekuasaan dimana pun berada. Hingga membentuk suatu pola berpikir yang pragmatis pun halnya dalam menerapkan perilaku politiknya. Semua menganggap bahwa keberhasilan kader adalah di kanca kepemerintahan. Ini, sungguh ironis jika mana terus digunakan.

Pola-pola ini harus dihentikan jika tidak akan berdampak pada kualitas berpikir kader. Apabila tidak berkualitas akan mempengaruhi kulitas organisasi. Hingga, saya menyakini tidak ada konstribusi yang falid terhadap arah gerak PMII. Namun, yang ditanam hanyalah doktrin dan dogma. Pada akhirnya, hanya memupuk kader yang tidak memiliki kemandirian dalam berpikir.

Hal itupun dirasakan oleh sosok guru kita Gus Dur yang disampaikan pada musyawarah pimpinan PMII di Jakarta 20 November 1995 “Kapankah saya bisa mendengar mahasiswa PMII itu berdebat tetang paradigma pembagunan yang benar. Kapankah dapat didengar anak-anak PMII rebut soal paradigma perubahan sosial. Seyogyanya anada0anada rebut geger tentang itu, tentang pemikiran masa depan. Ternyata kan tidak pernah? Terus terang saja, saya baru ngomong setelah 20 tahun lihat wajah PMII yang tidak jelas itu. Saya bicara apa adanya. Dimana letakmu, letak posisimu itu di mana ? Tolong rumuskan?”.

Walaupun Gus Dur telah tiada dan tidak melihat bagaimana wajah PMII hari ini. Namun, perkataannya tetap relevan digunakan dalam konteks hari ini. Sebenarnya, kita masih belum bisa menempatkan dimana sebenarnya posisi PMII. Mengapa hal tersebut terjadi? Kendatinya, semua diawali dari sistem kaderisasi yang tidak subtansi yakni kaderisadi penokohan. Kita terlalu manut dengan kata senior. Kurang mandiri untuk menentukan kemandiran dalam berpikir. Lagi-lagi saya mengatakan bahwa itu terjadi di semua jajaran PMII.

Kaderisasi Penokohan Berdiaspora

Pada pragraf ini saya awali menukil Gus Bung Kristeva yang mengatakan “Dikala demokrasi terbuka banyak sekali kader PMII yang nyaleg walaupun itu gagal. Kemudian teman-teman sibuk dengan adanya kader-kader, senior kita menjadi stafus misalny. Saya hormat, itulah pilihan mereka, tapi hendaknya penalaran kita terhadap PMII dalam persepektif kepemimpinan tidak selalu bermuara bahwa pemimpin adalah pemimpin politik, atau level struktural politik dan struktural kekuasaan. Pemimpin harus berdiaspora di banyak ruang, siapa yang menjadi akdemisi yang kredibel yang intelektualnya berpihak (rakyat). Siapa yang menjadi aktivis ekstra perlemen yang kritis melakukan kontrol kekuasaan. Masing-masing siapa yang menjadi budayawan, kyai itu semua adalah level kepemimpinan sosial. Jadi kepemimpinan jangan selalu diartikan politik”.

Tentu bagi saya perkataan tersebut bisa menjadi awal itu melihat lebih jauh bagaimana gambaran sistem kaderisasi penokohon sesungguhnya. Artinya, tidak semua kader diciptakan untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan. Hal tersebut, harus ditekankan kepada kader sejak pendaftaraan mapaba hingga berproses dalam PMII bahwa banyak kader menjadi pemimpin khususnya dalam “keberpihakan kepada kaum mustadh’afin”.

Disisi lain, untuk tidak menciptakan kader yang memiliki kualitas yang sama. Kader berhak memilih siapa tokoh yang menjadi role modelnya. Semuapun diawali dengan mencari kader yang bergerak di segala bidang. Tujuanya hanya untuk belajar dan melahirkan kader yang berkualitas. Hingga ia bebas dalam membentuk pola pikirannya.

Kendatinya, hal itu harus disadari oleh semua elemen dari mulai rayon hingga pusat. Jika mana hal tersebut tidak disadari bersama maka, diaspora kader dalam memimpin hanyalah mimpi di siang bolong. Sebab, tidak ada simbiosis mutualisme yang terjadi. Bak ibarat rantai makanan ada salah satu rantai yang tidak terhubung hingga menyebabkan memburuknya kualitas suatu komunitas. Barangkali, itulah yang terjadi di PMII.

Semua dimulai dengan cara pendataan di semua elemen. Lalu, perlahan ditampilkan di ranah publik bahwa sesungguhnya kader PMII memiliki banyak kader yang berpotensi. Utamanya, adalam berproses akar rumput. Agar keterlibatan kader PMII benar-benar sesuai dengan visi-misi sesungguhnya. Atau bahkan menjadi awal untuk ikut terlibat dalam gerakan kemanusiaan. Kalau kata Gus Dur ada yang lebih penting dari pada politik adalah kemanusian.

Asumsi penulis pesan Gus Dur tahun 1995 sebagaimana yang telah diungkapkan diatas seyoginya Gus Dur ingin sekali melihat kader PMII terlibat dalam hal kemanusiaan. Oleh karena itu, kaderisasi penokohan hari ini haruslah menampilakan kader yang benar-benar memiliki nilai yang dia bawak dalam memperjuang kemanusian. Agar tidak terjebak dalam poilitik pragmatis. Sebagaimana atmmosfer yang buruk yang telah tercipta.

Related posts
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read
“Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”“Galileo Galilei” Itulah kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

Luar Biasa! Kader PMII Komfast Cabang Ciputat Dapat Dana Pengembangan Start Up dari Google

%d blogger menyukai ini: