Cerpen

Jatuh Cinta – Pola Optimis Dan Pesimis

2 Mins read

Karya : Deni Marsha

Kali ini, aku dalam perjalanan berat mengumpulkan potongan-potongan cinta yang nantinya akan kubangun istana megah.  Aku bukanlah pelaku utamanya, aku hanya sebagai saksi kisah kawanku dalam mendapatkan hati sang pujaan.

Perjalanan pagi sekali, kami berangkat bersama mengendarai Veloz hitamnya. Bermodalkan keyakinan dan maps, tanpa ragu kami gaskan perjalanan. Keramaian kota, danau yang luas, bahkan hutan belantara, semuanya telah kami lewati selama 2,5 jam.

Perjalanan menjemput impian memang harus penuh perjuangan. Aku bertanya pada kawanku tentang apa arti jatuh cinta yang sesungguhnya, tentang alasan hingga ia rela mendatanginya.

“Bagiku, jatuh cinta adalah harapan yang harus diperjuangkan. Sangat penting menaruh rasa optimis sejak dalam pikiran, inilah yang menggerakkan jiwa dan raga mengapa hari ini bisa terjadi.  Berjuang bukan hanya berusaha menyingkirkan laki-laki lain yang mencoba mendekati kekasih, namun juga menutup ruang di hati untuk siapa saja selain dia yang diharapkan. Tentunya dengan etika dan cara yang tepat, selama dia belum sah menjadi milik orang lain, selama itulah aku tak akan berhenti berharap, ” begitu ungkapnya sembari menatap jalanan penuh pohon di hadapan kami.

Lantas kutanya kepadanya tentang seberapa besar keyakinannya tentang wanita itu.

“Apa yang terjadi hari ini, mengapa aku bisa yakin untuk mendatangi rumahnya bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ini merupakan bagian dari serangkaian rukun menjemput impian. Aku telah melalui pos-pos keyakinan, hingga aku putuskan dialah yang harus aku perjuangkan. Mulai dari proses kecocokan kepribadian, hingga sampai pada pos-pos pemantapan hati. Ada 3 orang yang membuatku semakin yakin, salah satunya adalah orang tuaku. Ketika aku sowan, kusampaikan segela gelisah dan niat-niatkku kepada ketiga orang tersebut. Ketiganya memberikan kesamaan jawaban yang intinya mempersilahkan,” jawabnya lagi penuh dengan keyakinan.

Sah-sah saja apa yang dilakukan, karena memang menyerah tidak ada dalam kamus orang orang optimis-non realistis seperti kawanku itu, yang berusaha merubah ancaman menjadi peluang.  Bahwa ia menyakini, segala kemungkinan bisa saja terjadi selama kami yakin dan memiliki tekad yang kuat.

“Tidak ada opsi lain selain ‘mereka mundur dan aku yang maju. Saat mereka maju, aku semakin maju’ mereka adalah siapapun laki-laki lain yang mencoba mendekatinya. Inilah pola optimis, dengan mencoba sekuat tenaga untuk benar-benar sampai di batas puncak. Walau apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah tinggal diam dan akan terus berjuang,” jelasnya lagi.

Kembali kutanggapi penjelasannya dengan sebuah pertanyaan, “lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang memilih mencintai dalam diam. Bukankah bersabar juga bagian dari perjuangan?”

Dia pun mafhum dengan apa yang kupertanyakan, bahwa bersabar juga bagian dari perjuangan. Di sini lah aku mulai merasa bahwa jatuh cinta memilki pola penyampaian, yaitu pola optimis dan pesimis.

Mereka yang lebih memilih mencintai dalam diam, bukan berarti tidak bersungguh-sungguh atas rasa dan hasratnya. Namun, ada keraguan terhadap dirinya seperti pantaskah aku bersamanya, apakah dia juga memiliki rasa yang sama atau apakah ada laki-laki lain yang ia harapkan dan itu bukan aku. Penganut paham pesimis, hari-harinya akan dibombardir keraguan dan kekhwatiran. Sehingga, ia lebih memilih mencintai dalam diam karena kurangnya keyakinan di dalam dirinya.

Baik pola optimis maupun pola pesimis, keduanya merupakan cara kerja raga atas rasa yang muncul di dada. Mereka yang selalu diam bukan berarti tak cinta dan yang lantang belum tentu benar-benar cinta. Ini hanyalah sebuah cara mengekspresikan rasa dan hasrat.

Tak ada yang salah dengan kedua pola itu, semua pola yang dilakukan tergantung  pada niatnya. Jadi, bukan tentang pola mana yang terbaik, namun pesan apa yang ingin disampaikan.

Dalam tulisan ini, aku ingin menyampaikan bahwa cinta adalah sebuah energi yang dapat menggerakkan jiwa dan raga. Jika energi itu kau gunakan dengan cara yang baik, maka kebaikan yang kau dapatkan. Namun jika kau gunakan dengan cara yang salah, maka kehancuran yang kau dapatkan. Bagi penganut pola optimis, energi itu akan membuatmu kuat bertempur dan pantang mundur, dan bagi penganut pesimis, energi itu akan membuatmu kuat dalam bersabar.

Ingat, aku tidak sedang mengatakan bahwa pola pesimis akan menganggapu lemah, atau pola optimis adalah cara terbaik mengekspresikan cinta. Sebab keduanya akan percuma, jika tidak dilandasi ketulusan dan keikhlasan.

Jadi berjuanglah dengan tulus dan ikhlas, apapun pola yang dipilih untuk digunakan.

Editor : N. Zuhriah

149 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Cerpen

Cak Shodiqin

4 Mins read
Beberapa orang beranggapan Gus Ilham anak bungsu Kiyai Ahmad yang paling berbeda. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari beliau selalu melakukan hal-hal yang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Cerpen

Merah Putih Merindukan Pengibarnya

5 Mins read
Karya : Amirullah Yasin Rizal pemuda dari timur indonesia baru saja tiba dipelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sejauh mata memandang ia tidak lagi… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: