Opini

Goceng untuk kongres, apakah bentuk kemandirian ekonomi ?

3 Mins read

Euphoria pergerakan akhir-akhir ini kian terasa dengan ditabuhnya genderang kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke XX di Balikpapan, Kalimantan Timur di tambah dengan peluncuran “Gerakan Goceng Untuk Kongres” semakin menambah ghiroh pergerakan.

“Gerakan kemandirian ekonomi untuk kongres merupakan upaya penggalangan partisipasi kader, alumni, dan keluarga besar PMII dalam rangka mensukseskan kongres ke-20 PMII”. (Agus Mulyono Herlambang, Ketua Umum PB PMII).

****

Begini sahabat, sebelum kita makin terhanyut oleh perhelatan akbar ini, mari kita menoleh kebelakang sejenak. Beberapa waktu yang lalu Pengurus Besar (PB) Nahdlatul Ulama (NU) meresmikan model gerakan yang benar-benar sama dengan gerakan PB PMII ini walaupun ada pembedannya, dimananya ? jika gerakan “Koin NU” milik PB  NU selain hanya sekedar suksesi Muktamar NU, gerakan ini juga memiliki sistem menajemen yang baik, berkelanjutan dan mengambil peran secara sosial kemasyarakatan baik melalui NU tanggap bencana, dll. Sedangkan PMII kan hanya sekedar suksesi kongres, momentum seremonial, aji mumpung lah.

Namun disini saya pribadi tidak tau secara pasti pihak manakah yang menginisiasi terlebih dahulu, bisa jadi PB NU lah yang menjiplak konsep gerakan dari PMII ataupun sebaliknya. Namun pada umumnya orang yang mengemukakan pertama kali ialah yang menginisiasi, ya ambil kesimpulan sendiri lah terkait siapa yang menjiplak. Tapi begini sahabat, kita harus akui bersama bahwasannya gerakan goceng untuk kongres ini memang Inovasi yang sangat besar ditubuh PMII. Ya, karena memang tidak ada pembandingnya saja sih….

Jikalau memang benar gerakan goceng untuk kongres ini menjiplak dari gerakan koin NU sebagai bentuk suksesi dari kongres PMII, maka tidak menjadi persoalan. Namun, yang menjadi persoalan adalah bentuk education PB PMII terhadap kepengurusan dibawahnya, bagaimana tidak ? jikalau kemandirian ekonomi hanya diartikan sebagai iuaran kader, maka ini menjadi contoh yang buruk untuk kepengurusan dibawah, kenapa demikian ? sekelas pengurus besar saja masih mengharapkan sumbangan untuk menjalankan roda organisasi, lalu bagaimana dengan kami yang berada ditataran basis yang secara langsung mengkiblat kepada pengurus besar yang terhormat. Lalu untuk apa ditataran rayon sekaligus di bentuk Lembaga Semi Otonom (LSO) kewirausahaan yang memang secara fungsionalnya sebagai wadah kemandirian ekonomi untuk organisasi. Bukankah yang demikian adalah contoh yang buruk. Lebih daripada itu ini menjadi ketakutan yang panjang nantinya, jikalau gerakan ini diulang setiap kongres tanpa ada rencana jangka panjang yang pasti, belum lagi bagaimana tentang transparasi dari hasil gerakan ini.

****

Mari kita berandai-andai sejenak, tidak salah bukan mimpi disiang bolong,… mimpi ap aitu ? PMII dan seluruh kadernya akan di berdayakan secara ekonomi, bagaimana bisa? dengan jumlah kader yang katanya mencapai ratusan bahkan jutaan, ya,….. walaupun saya tidak percaya tentang klaim itu karena memang tidak ada validitasnya, namun kita anggap saja kader kita sangat banyak. Bayangkan saja ratusan bahkan jutaan kader PMII kita jadikan satu dalam satu wilayah tertentu, lalu apa yang akan terjadi ? sudah barang tentu dan yakin kita dapat menciptakan kekuatan ekonomi mandiri, namun tidak dalam bentuk iuran seremonial seperti ini, bukan juga mengumpulkan jutaan kader secara fisiknya, namun yang saya maksud adalah mengumpulkan komitmen jutaan kader ini untuk membawa PMII kearah kemandirian ekonomi.

Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa roda kepengurusan dapat berjalan berkat iuran kader, namun bagi saya yang terlahir dari rayon yang usianya telah belasan tahun terkesan kurang elegan, jikalau terus mengandalkan sumberdana dengan cara seperti itu, terkesan seperti tukang “kecrek” yang selalu berkeliling dari warung kopi ke warung kopi kadang juga ditambah dengan suara lirih “seiklasnya mas/mbak”. Apalagi sekelas Pengurus Besar BUNG.

Berbicara tentang ekonomi, maka kita berbicara tentang modal. Pertanyaan selanjutnya adalah modal apa yang dimiliki PMII saat ini? saya rasa sumberdaya yang di miliki PMII saat ini lebih dari cukup, apa saja? ada manajerial, sumber daya kader, dan ada jaringan yang luas, kan jutaan kader.

Apakah cukup dengan tiga modal ini? sebagai modal awal ini lebih dari cukup asalkan memiliki niat yang besar. Namun jikalau hanya bertahan dan berpaku pada tiga modal ini saja, besar kemungkinannya akan stak/berhenti bahkan bisa-bisa mati!

Lalu apa yang harus dilakukan? meningkatkan hasil produksi dengan cara meningkatkan bahan-bahan produksi/modal yang telah kita miliki (Tiga modal tadi) baik secara kualitas maupun secara kuantitasnya. Sumberdaya yang kita miliki harus kita Upgrade agar dapat menunjang baku mutu produksi yang nantinya akan berdampak pada nilai tersendiri pada produk kita dan juga memiliki efek yang terus menerus terhadap keberlangsungan kemandirian ekonomi ini, bukan momentum seremonial.

Peningkatan sumberdaya produksi ini juga harus dipilah mana saja sumberdaya produksi yang cocok setiap tataran kepengurusan agar dapat menjadi ide bisnis yang unggul.

Selanjutnya adalah pelembagaan usaha mandiri agar pengelolaan dapat terkontrol dengan benar dan mimpi PMII mandiri secara ekonomi benar-benar terwujud. Kenapa harus dilembagakan, PMII memiliki masa jabatan lo … ! tanpa adanya pelembagaan yang baik dan benar, sekuat-kuatnya kemandirian ekonomi dengan sumberdaya produksi yang melimpah sekalipun tidak akan bertahan lama, gak cuan bung. Demi muwujudkan cita-cita yang mulia dimana PMII mandiri secara ekonomi sudah barang tentu dan pasti diperlukan keinginan yang kuat dari strukturalis PMII, wabilkhusus PB PMII yang secara langsung menjadi kiblat kader-kader dibawahnya, semoga saja (Yogi).

16 posts

About author
Nyari kerja
Articles
Related posts
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: