Opini

Gara-gara Kopi yang tak lagi pahit

2 Mins read

Karena revolusi industri 4.0 sudah dianggap selesai, atau paling tidak,  sudah tidak lagi disebut di sana sini, mungkin kita bisa kembali ke warung kopi. Kenapa harus warung kopi?, ya karena warung kopi masih menjadi tempat ternyaman untuk melepas lelah setelah mencangkul seharian penuh di ladang bisnis kampus ala VOC. Walaupun dulunya kampus adalah ladang kosong nan subur, tempatnya adu pemikiran dan gagasan, tempat para aktivis-aktivis tersohor berlatih.

Namanya juga kebiasaan, warung kopi beserta hiruk-pikuknya dengan gorengan lima ratusan menjadi seperangkat komplit yang hidup. Sejauh yang terlihat hanya ada kelompok-kelompok kecil yang memadati masing-masing meja ditambah dengan suara-suara yang bersautan, ada yang asik debat ngalor-ngidul, ada yang teriak “keceki ndasmu“, ada yang ngibah tentang kampus, ada yang ngobrolin janda muda, ada juga yang duduk sendiri termenung di pojokan warung sedang asik dengan buku dan nalarnya, seolah tak menghiraukan lain nya.

Agaknya, warung kopi selalu menerima segalanya, dan tak satu pun ada yang tertolak, dari mahasiswa tua, dosen, kaum doreng, wartawan, tukang “kecrek”, semua di terima. Kalau memang ada yang tertolak besar kemungkinannya ia adalah seorang maling motor di pasar yang sudah rata dengan tanah, atau jika tidak ia berarti komplotan maling uang rakyat, yang lagi apesnya ketangkap di siang bolong.

Tatkala dewa-dewi intelektual itu, sedang pentas diatas mimbar-mimbar kampus dan tak jarang pukulan-pukulan uppercut saling menghujam tajam masuk kedalam masing-masing kepala dengan banyak dalih-dalil, dan tak jarang pukulan-pukulan itu bersatu menghantam tepat pada mulut birokrasi. Menjadikan kampus tak pernah sepi akan kontestasi pemikiran, disisi lain warung kopi selalu menjadi muara kontestasi itu, entah hanya sekedar memperjelas pandangan, ataupun hanya sekedar mencari konsepsi-konsepsi baru untuk dibawa dilingkarkan kampus.

Sesekali warung kopi benar-benar padat, untuk bergerak saja susah, bagaimana tidak puluhan mahasiswa terus menjejali seisi warung kopi, duduk dengan rapat, serapat-rapatnya shaf shalat maghrib masih kalah rapat. Hanya untuk mengikuti sebuah diskusi publik, pria dan wanita, kubu A dan B bercampur menjadi satu seolah tak ada sekat diantara nya. Entah karena memang haus akan ilmu atau hanya sekedar mencari hiburan, diskusi di warung kopi memang selalu memiliki chemistry.

Duduk pagi hingga pagi di warung kopi sudah menjadi rutinitas yang biasa bagi mahasiswa, bukan hanya sekedar duduk diam mematung, diskusi menjadi kegiatan yang tak pernah ditinggalkan, buku-buku tebal, setebal gabanpun juga ludes dibaca di warung kopi.

***

Mungkin hal yang demikian lah yang dimaksud para teoritikus madzhab Frankfurt yang menuduh kapitalisme lanjut telah bekerja secara kultural melumpuhkan daya kritis masyarakat lewat gaya hidup konsumeristis.

***

Dalam hal-hal tertentu, seperti diskusi di warung kopi masih tetap ada walaupun peminatnya sudah tidak lagi seramai dulu, lewat golongan-golongan atau bendera-bendera tertentu warung kopi tetap menjadi muara dealetika walaupun pesertanya hanya empat orang saja, masih sangat kurang untuk bermain sepak bola bukan.

Memang masih terjaga hiruk-pikuk warung kopi dengan kerumunan-kerumunan mahasiswa disetiap meja, walaupun sudah tidak ada lagi yang melolong keras dengan dalih-dalih kaum sosial, lebih terlihat slowly, parah-parah pakai mode getar atau silent. Ditambah smartphone yang selalu miring, telinga pun selalu disumbat rapat, payah-payah langit runtuhpun tak akan terdengar.

Sesekali hp miring juga tidak apa-apa. Tapi, tidak ada salahnya juga melakukan gegiatan-kegiatan yang lain, seperti diskusi, membaca buku dan lain-lain. Itung-itung ikut sumbangsih pemikiran. Syukur-syukur dapat menjadi budaya agar tetap menjaga kewarasan.

16 posts

About author
Nyari kerja
Articles
Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: