Opini

EKSISTENSI JAS KOPRI, MENGURANGI WIBAWA KADER PUTRI #I

4 Mins read

Oleh : Indayu Sri Mulyani

EKSISTENSI JAS KOPRI, MENGURANGI WIBAWA KADER PUTRI
#REVOLUSI-MANGKRAK-BERBASIS-EKSITENSI

Konsep tentang prinsip-prinsip struktural harusnya sudah difikirkan matang-matang sebagai barometer pergerakan organisasi, struktural tidak seharusnya menjadikan hambatan dalam menuangkan ekspresi dalam istilah sebab akibat karena akan menghasilkan banyak kausul saling menyalahkan dalam lingkup warga organisasi, kader lebih tepatnya. Hubungan kata antara ‘struktur’ dan ‘hambatan’ selalu dikaitkan dalam keberhasilan program kerja organisasi dengan embel-embel hak dan tanggung jawab sesuai tupoksi, ahh…. Halu

Yang benar itu motif dari pelaku dan alasan perbuatan yang ia lakukan baru bisa dipertanggung jawabkan melalui hak dan tanggung jawab. Kalau saja gempa bumi memporak porandakan sebuah kota dan penduduknya yang sama sekali tidak berinisiasi melakukan banyak usaha untuk mengurangi dampak gempa tersebut padahal mengetahui bahwa kawasan itu rawan gempa, maka hanya ada dua kemungkinan kota itu hancur sehancur-hancurnya karena dampaknya sangat parah atau berusaha sekuat tenaga untuk mempelajari dan melakukan upaya-upaya untuk mengurangi dampak gempa jika gempa terjadi diesok hari. Seperti yang dilakukan di jepang dengan membangun rumah tahan gempa, dan melakukan rekonstruksi bangunan yang tahan gempa, membekali pendidikan kepada masyarakat untuk upaya penyelamatan saat terjadi gempa, dll.

EKSISTENSI ?
Bukan kata itu yang hidup dalam substansi pergerakan KOPRI dan PMII.
NILAI DASAR PERGERAKAN yang hidup dalam pergerakan KOPRI dan PMII Serta Tri Komitmen PMII (Kejujuran, Kebenaran, Keadilan)

Mungkin bisa di katakana “KOPRI sedang mengalami fase kehilangan Substansi Dari Pergerakan Perempuan

Saya sangat sepakat dengan anarkisme feminis yang dinyatakan oleh John Henry Mackay melalui ujaran profokatifnya bahwa “saya seorang anarkis! karena itu aku tidak  memerintah dan juga tidak akan diperintah!” relevansi dengan opini yang saya bangun bahwa kewenangan yang diberikan kepada individual pun terbatasi dengan pemberi kewenangan karena tidak seorang pun bisa berlaku sewenang-wenang meskipun dia mendapat predikat berwenang. Inilah yang seharusnya dipahami bahwa berkumpul dengan koloni yang sama hanya akan menimbulkan stagnansi. Karena menurut Goldman tujuan anarkis adalah revolusi social.

Mari bersama kita refleksikan arah gerak KOPRI sebagai badan semi otonom PMII Peran-peran strategis dalam PMII bukan mengenai posisi struktural, terkadang hal ini disalah artikan. Namun bagaimana kader PMII dapat berkontribusi baik secara intenal maupun eksternal organisasi. Selama berproses di PMII sampai sekarang saya bukan lagi bertanya seperti awal saya berproses menanyakan apa yang diberikan PMII pada saya. Namun, sekarang saya memberikan penghakiman pada diri saya sendiri dengan bertanya “apa yang sudah saya berikan untuk PMII ?”. Karena apa yang didapatkan di PMII adalah apa yang kita berikan kepada PMII.

Pengembangan PMII Puteri yang termuat dalam ART Pasal 11 yaitu melalui wadah perempuan Korps PMII Puteri. Pertanyaannya : jika tidak ada KOPRI apakah ada wadah pengembangan PMII Puteri ?

PO tentang KOPRI Pasal 1 ketentuan umum menjelaskan devinisi KOPRI, yaitu sebagai wadah pengembangan perempuan PMII. Bukankah ini cukup menjadi jawaban ? karena tidak ada devinisi serupa dari LSO maupun BIRO yang ada di struktur PMII untuk spesifik menjadi wadah pengembangan kader putri.

KOPRI tidak berlabel EKSITENSI
Karena Emansipasi bukan Produk Makanan, Label hanya untuk snack ringan. Perjuangan kita begitu berat, jangan dikontaminasi”

Subjektifitas mutlak diperlukan dalam penilaian sesorang terhadap hal-hal yang memang dianggap memiliki substansi subjektifitas lebih tinggi dalam lingkup sosial. Menurut Tinjauan Histografi bagaimana konstruk sosial di masa sebelumnya serta kondisi suatu wilayah sangat mempengaruhi produktifitas nalar dalam menanggapi hal-hal baru, yang kemudian memiliki peranan penting dan perhatian pokok dari sejarah sosial ini ialah bagaimana masyarakat mempertahankan dirinya, mengatur hubungan sesamanya (seperti status dan wibawa) dan

bagaimana pula memecahkan masalah dalam berhadapan dengan lingkungannya secara alamiah atau sosial (Agus Mulyana, Suatu Tinjauan Historiografi). Konstruk sosial yang terbentuk sedikit banyak dipengaruhi oleh penjulukan terhadap minoritas ataupun mayoritas dalam lingkup yang sama yang dalam hal ini mengarah pada teori labelling yang dikemukakan oleh Lemert.

Organisasi akan hidup jika anggotanya mampu membawa organisasi tersebut menghirup udara bebas di luar, siapa yang membawa organisasi keluar ? jawabannya kita sebagai anggota di dalam organisasi. Organisasi PMII memberikan nilai-nilai moral baik secara langsung atau tidak melalui proses pembekalan dari lingkup kaderisasi kemudian memberikan peluang seluas- luasnya untuk setiap anggota membentuk karakter dirinya masing-masing.

Bagaimana legalitas KOPRI ?

AD/ART PMII Pasal 26 ayat 2 KOPRI diwujudkan dalam bentuk Badan Semi Otonom (BSO) yang secara khusus menangani pengembangan kader putri PMII berspektif keadilan dan kesetaraan, AD/ART Pasal 25 ayat 2 setiap kegiatan PMII harus dilaksanakan dan memperhatikan keterwakilan perempuan 1/3 dari keseluruhan anggota.

Rencana strategis (Renstra) pengembangan PMII dan KOPRI yang disusun dalam MUSPIMNAS 2019 memuat garis-garis besar pembinaan, pengembangan dan perjuangan upaya agar PMII lebih terarah, terpadu, dan sustainable (berkelanjutan) untuk mendukung program dan tolak ukur perjuangan PMII dan KOPRI

PMII sebagai organisasi yang mengemban misi perubahan dan perkembangan dinamika kaum intelektual. Dibuktikan dengan Pasal 8 AD/ART skema kaderisasi disesuaiakan dengan kebutuhan, tuntutan, dan perkembangan zaman. Melalui Pengembangan eksternal serta partisipasi dan konsolidasi gerakan perempuan dengan organisasi atau komunitas perempuan lainnya selain kaderisasi formal PMII, KOPRI juga mempunyai kaderisasi sendiri. Kewajiban setiap anggota yang dijelaskan dalam PO Muspimnas pasal 3 ayat 4 setiap anggota berkewajiban melakukan upaya-upaya pengembangan organisasi sesuai dengan kemampuannya.

Tujuan kaderisasi nonformal yang di jelaskan didalam ART tentang PO Kaderisasi Non Formal pada pasal 2 ayat 2 tujuannya adalah untuk membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan yang spesifik yang dibutuhkan dalam aktivitas keorganisasian, kehidupan kampus, atau yang dinilai strategis bagi pergerakan dan pengembangan diri kader di masa yang akan datang.

Pasal 17 pengawal isu/ tema/ topik rumusan kegiatan mentoring di dalam MUSPIMNAS berupa membaca buku, diskusi, pendalaman isu, output karakter kader putri berfikir inklusif, kritis otokritis, perspektif mencapai tujuan harus berkesinambungan.

Ibarat kendaraan yang melaju melewati lampu merah diperempatan pun harus faham kalau ingin lurus ataupun berbelok arah ke kanan atau kiri, saat lampu merah berhenti kendaraan itu harus menempatkan posisi lajur yang sesuai agar setelah lampu hijau tanda untuk melaju agar jika memilih lurus ataupun berbelok menjadi lancar dan sampai di tujuan dengan selamat. Pengibaratan inilah yang seharusnya diadopsi oleh KOPRI, bahwa KOPRI harus siap menghadapi tantangan apapun, mengetahui posisi dan sikap yang diambil dan diupayakan dalam proses berorganisasi. terkhusus di organisasi pergerakan mahasiswa.

Terciptanya suatu kehidupan organisasi yang dinamis, kritis, cerdas dalam upaya merebut tanggung jawab dan peran sosial sebagai bentuk partisipasi dan pengamalan nyata pergerakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Jangan sampai mindset KOPRI berubah dari NKRI Harga Mati menjadi Eksistensi harga mati

Menurut Sartre “eksistensi adalah humanisme” dimana para eksistensialis berangkat dari ketiadaan menuju kemanusiaan itu sendiri. Esensi diciptakan dari hakikat yang tidak dimiliki oleh manusia, maka dari itu manusia harus menciptakan esensi nya sendiri.

Beauvior teorinya ihwal perempuan yang mengacu pada teori eksistensialisme Jean Paul Sarte. Mengatakan ada tiga modus “ada” pada manusia, yakni ada-pada-dirinya (etre en soi), ada-bagi-dirinya (etre pour soi), dan ada untuk orang lain (etre pour les autres). Perempuan butuh kebebasan dan self-determination karena emansipasi adalah alat untuk transendensi dimana self kebebasan memilih tindakan-tindakan, proyek-proyek. Eksistensi perempuan adalah upaya untuk mengerti persoalannya sendiri (perempuan).

135 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: