Opini

EFISIENSI LEMBAGA KEPROFESIAN DI PMII

2 Mins read

Seiring berjalannya waktu, organisasi mahasiswa mengalami perubahan atmosfer. Dengan kader yang kian tahun beranjak naik secara kuantitas, diharap pula dapat menyeimbangi grafik kualitas tiap individunya. Menjamurnya perguruan tinggi era kini menjadi faktor kuat kaderisasi organisasi mahasiswa berjalan pesat. Dengan begitu, jika diselaraskan dengan jurusan-jurusan para kader dalam menempuh pendidikan di perguruan tinggi, dalam hal kualitas yang mengarah pada kejurusan atau keprofesian di organisasipun diharap dapat menyeimbangi.

PMII di mata awam sekadar menjadi organisasi politik kampus. Tugasnya hanya memperebutkan kursi jabatan dari tingkat terendah seperti himpunan mahasiswa jurusan bahkan sampai kursi rektorat. Bagaimana gelar “Kader PMII” dapat disebar dan menguasai pada posisi strategis dalam hal perpolitikan. Hegemoni seperti ini benar terjadi. Tak hanya asal omongan dari orang-orang yang awam terhadap PMII saja.  Padahal sejatinya kader-kader PMII tak seluruhnya memfokuskan diri terhadap bidang politik.

Jika ditarik kilas pada awal mula seorang kader ingin mendedikasikan diri pada PMII, pastilah mereka tidak hanya menginginkan menjadi kader politik. Tim kaderisasi tingkatan Rayon pun pastilah memiliki strategi handal. Mendekati calon kader dengan cara yang berbeda-beda. Jika calon kader menyukai diskusi, pastilah pendekatan tim kaderisasi dengan terus-terusan mengajak calon kader berdiskusi. Jika calon kader menyukai hal-hal berbau travelling atau sekadar cuci mata pergi ke sentral perbelanjaan, pastilah tim kaderisasi menyesuaikan. Selanjutnya, tim kaderisasi mengarahkan kemudian memetakan gerakan hingga sampai pada calon kader resmi menjadi kader PMII. Dan pastilah didapatkan fakta tak semua kader PMII tersebut berminat seluruhnya dalam ranah politik.

Terlepas dari idealisme personal dalam berorganisasi, organisasipun membutuhkan jejaring agar dapat berkembang. Tanpa terkecuali PMII. Lembaga keprofesian sejatinya mampu menunjang hal tersebut. Dengan adanya lembaga keprofesian di PMII, pemfokusan diri terhadap gerakan dapat dijalankan. Beranjak ketika menjadi IKAPMII, relasi dapat tertata dengan rapi.

Namun realitanya hingga saat ini PMII tidaklah memiliki lembaga keprofesian. Gerakan menjadi acak. Dalam prosesnya, mereka yang menyukai gerakan politik, perebutan kursi jabatan, koalisi sana sini, taktik menjatuhkan suara lawan pada saat pemilihan (entah sekadar pemilihan organisasi intra mahasiswa atau yang lainnya) di stempel sebagai kader yang militan. Sementara kader yang sama sekali tidak menyukai gerakan seperti itu atau bahkan membenci gerakan seperti itu, malah dianggap kader yang lemah bahkan dianggap gagal dalam berproses. Anggapan-anggapan seperti itu yang akhirnya membuat kader stagnan dalam gerakan atau bahkan mengundurkan diri secara kultural.

Sejatinya lembaga keprofesian dapat  meningkatkan kualitas gerakan, melebarkan sayap gerakan. Adanya lembaga keprofesian dapat meningkatkan minat dan bakat kader-kader PMII sesuai dengan fungsi lembaga masing-masing. Dengan adanya pemfokuskan gerakan tersebut, hadirnya lembaga-lembaga tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu persiapan bagi kader-kader agar dapat mengeksplorasi potensi masing-masing.

Kemudian, ketika kader telah selesai masanya di kampus, adanya lembaga keprofesian dapat menjadi sinergitas PMII dengan dunia profesi di luar keorganisasian PMII. Hal ini kemudian menjadikan relasi atau jaringan PMII menjadi luas. Lembaga keprofesian pun dapat meningkatkan partisipasi sahabat-sahabat PMII terhadap program-program yang sesuai dengan profesinya. Kader PMII tak semata hanya berproses ketika di kampus saja, tapi dapat melanjutkan proses bersama di dunia luar, dunia yang kemudian akan mereka jalani jauh lebih lama daripada masa waktu di kampus.

Relasi akan terbangun dengan rapi. Tak ada kebingungan ketika membutuhkan bantuan. Bukankah adanya sahabat pun untuk saling bersahabat dalam gerakan? Tak ada rasa jatuh diri pula ketika terdapat pertemuan IKAPMII kemudian dirinya bukanlah kader yang beranah di bidang politik. Karena adanya lembaga keprofesian dapat menjadi sinergitas kekuatan baik dalam pengasahan minat bakat maupun peningkatan profesi dan relasi kerja.

Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Good News

TAMAN BACA WONG TAKON

%d blogger menyukai ini: