Opini

Dua Wajah Mahbub Djunaidi; Mimbar PMII dan Lembar Karya Seni

6 Mins read

Oleh: Fathul H. Panatapraja

S.A. Vahid dalam Iqbal, His Art & Thought (1916) mengatakan bahwa seni paling unggul adalah seni yang mampu membangkitkan hasrat-berkehendak setelah sekian lama tersumbat. Oleh karena itu, seni untuk seni adalah sebuah rekayasa cerdas dari kebobrokan yang mengecoh dan menipu agar kita semakin terasing dari realitas kehidupan dan kekuatan. Seni harus menghayati manusia dan segala kehidupannya. Di samping memberi rasa nikmat, seni harus dapat memandu pikiran manusia.

Seni dan PMII

Seni adalah salah satu dari beberapa sedikit hal yang tak bisa digantikan oleh mesin. Apalagi di gerak zaman 4.0. yang terus digaungkan, seni tetap tak bisa dikalahkan. Seni terus bergerak mencari media yang dapat menampungnya. Sementara itu Indonesia adalah masyarakat yang memiliki produktivitas seni yang tinggi. Kakaryaan yang mumpuni, dan kedalaman yang unggul. Bisa dibuktikan dengan seluruh karya seni dari beberapa cabang kesenian: seni rupa, musik, film, tari, tradisi, sastra, seni media baru (visual art, misalnya). Semuanya menghasilkan kekayaan yang luar biasa. Yang membuat kita tak bisa menolak untuk tidak terkagum-kagum.

Tiba-tiba saya teringat puisi karya Joko Pinurbo, dalam Buku Latihan Tidur; “Agamamu Apa? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu”.

Lalu adakah agama yang bisa membersihkan pertanyaan. Ya ada, agama apa? Ya agamanya Jokpin. Kalau Islam? Kalau Islam adalah agama yang selalu menjawab pertanyaan. Kok bisa begitu. Iya, karena Islam mengatur semua hal. Masak tidak ada satupun yang tidak diatur? Tidak.

Dalam Islam ada prinsip bahwa tidak boleh ada hal yang tidak memiliki ketentuan hukum. Lalu apakah semuanya dijelaskan di Al-Qur’an atau Hadits? Kalau mengenai ini sudah masuk wilayah sumber hukum dan metodologi istinbath hukum. Baik, akan saya pertegas. Tidak semua hal ada dalam Al-Qur’an.

Dalam kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd (Averroes), perlu diketahui kitab ini adalah kitab komparasi antar mazhab, perbandingan mazhab. Dalam kitab tersebut ada yang unik, yaitu disebutkan bahwa ada satu mazhab dalam Islam yang memiliki prinsip yang berbeda dari mazhab-mazhab lain pada umumnya kebanyakan, al-Aswad al-A’dzam. Mazhab itu adalah mazhab Az-Zahiri. Yang kebetulan waktu itu mazhab tersebut diikuti oleh Khalifah Abu Yaqub Yusuf, seorang khalifah Dinasti Muwahhidun.  Di mana Ibnu Rusyd menjadi Hakim Agungnya.

Maksudnya bagaimana dengan prinsip hukum Az-Zahiri tersebut? Ya pokoknya kalau ada benda atau hal ihwal yang tidak ada dalil hukumnya di Al-Qur’an dan Hadits ya tidak perlu diberi hukum, dibiarkan saja. Berarti bagaimana? Ya boleh. Hukum awal dari semua benda adalah mubah atau boleh, sepanjang tidak ada hukum baru yang merubahnya, melarangnya, atau mengharamkannya. Lalu? Apa hubungannya dengan seni? Karena seni masih “dianggap” sebagai hal yang perlu berjauhan dari agama. Bid’ah!

Apakah seni memang benar-benar haram? Saya memiliki pengalaman perihal itu. Saat dulu di pesantren di kelas kitab Sullam Taufiq, ada pembahasan tentang alat musik atau “alatul malahi”, alat musik banyak yang diharamkan, kecuali beberapa saja. Juga dengan seni rupa, menggambar, haram. malahan dimintai pertanggungjawaban untuk menghidupkan karyanya nanti saat di akhirat. Ngeri lah pokoknya.

Di saat itu pikiran nakal saya sudah mulai tumbuh. Dengan pertanyaan, kenapa seni kok diharamkan? Katanya karena dikhawatirkan akan melalaikan diri dari mengingat Allah.  Saya kejar lagi, itu kan kalau melalaikan, kalau tidak melalaikan bagaimana? Juga dengan menggambar, apakah semua gambar membuat setara dengan berhala? Atau jangan-jangan, kita tidak sadar telah memberhalakan “sesuatu”.

Lalu apa hubungan seni dengan PMII?

Menurut saya, PMII adalah organisasi kepemudaan yang sangat memungkinkan untuk menjadi tempat tumbuh kembang kesenian. Keterbukaan PMII, kecintaan terhadap tanah air dan bangsa, aktivitas organisasi dan upaya untuk berperan dalam kemasyarakatan, kultur ke NU an, dan sikap adaptif terhadap perkembangan zaman. Beberapa hal tersebut adalah alasan-alasan yang membuat beberapa kemungkinan. Terutama dalam kesenian.

Pada tahun 2012, sahabat Adien Jauharuddin selaku Ketua Umum PB PMII saat itu, melakukan kunjungan ke Malang, dalam acara pelantikan PC PMII Kota Malang. Saya masih ingat betul bahwa sahabat Adien saat sambutan merasa takjub dan terkejut dengan penampilan sebuah kelompok musik dari komunitas Telas Ria (Teater Sebelas Rayon Ibnu Aqil), sebuah komunitas seni di bawah naungan PMII di Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Malang. Saat itu lagu yang dibawakan adalah lagu “Lala Lala..”.  Link YouTube: https://youtu.be/oPJlDJxfd7g . “Baru kali ini saya melihat kelompok musik PMII yang luar biasa..” katanya waktu itu. Setelah takjub dengan pementasan Telas Ria.

Lalu apa yang bisa dibanggakan? Saya rasa kepentingannya bukan lagi soal kebanggaan. Tapi pertanyaan mengenai adakah sanad kesenian yang nyambung di PMII? Karena selama ini alumni yang bergerak di jalur politiklah yang mendominasi PMII. Sehingga suara sumbang yang muncul dari luar PMII, “PMII ya? wah calon anggota dewan nih..?, Belajar politik? Ya di PMII..” dan suara-suara juga komentar senada yang secara tidak langsung, menutup kemungkinan lain di PMII selain belajar “politik-politikan”.

Lalu, kembali ke pertanyaan. Adakah darah seni di PMII? Adakah tokoh seni dari PMII? Adakah patron kesenian di PMII? Jawabannya, ada! Siapa? Tiada lain tiada bukan, ya Mahbub Djunaidi.

Setelah Mahbub, Siapa Lagi?

“Mengenang bulan kelahiran Mahbub Djunaidi, sang seniman politik dari Betawi”

Paguyuban Ojek Pasar Senen.

Pada medio 2015, tepatnya bulan Juli. Saya ke Jakarta. Ketika turun di Stasiun Pasar Senen di pagi hari. Dengan mata yang masih belum sempurna. Terlihat banner besar di di sekitar tempat parkir stasiun. Ada gambarnya Mahbub. Saya kaget. Letak kekagetan saya bukan di gambar Mahbub, tetapi yang memberikan ucapan, paguyuban tukang ojek. Waktu itu saya masih belum percaya. Saya sampai mendekat dan berdiri di bawah banner, hampir tak kurang tiga puluh menit. Agar bisa meyakinkan diri saya sendiri. Bahwa Mahbub Djunaidi tak hanya milik PMII, tapi juga dielu-elukan oleh paguyuban ojek Betawi.

Pada tahun 1974 Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pertama kali menyelenggarakan sayembara roman (novel). Dan novel karangan Mahbub Djunaidi memenangkan sayembara tersebut. Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta adalah lomba penulisan novel yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 1974. Dikutip dari laman resmi DKJ, tujuan utama sayembara ini adalah untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel. Pada awalnya, sayembara ini diadakan setahun sekali. Setelah sempat vakum, lalu diadakan lagi pada tahun 1998 dan 2003. Kemudian, mulai 2006 sayembara ini ditradisikan dua tahun sekali, tiap tahun genap.

Dari deretan nama pemenang sayembara novel DKJ, dari tahun pertama diadakan sampai hari ini, setahu saya hanya Mahbub Djunaidi lah kader PMII yang pernah memenangkan sayembara tersebut. Keterangan daftar pemenang bisa dicek di laman resmi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Kiprah kesenian Mahbub, atau lebih tepatnya “bakti budaya” nya Mahbub, selain menjadi pemenang di sayembara pertama Dewan Kesenian Jakarta, Mahbub Djunaidi tercatat sebagai anggota pengurus periode pertama Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) Nahdlatul Ulama, berdasar sumber SK PB Partai NU No.1614/Tanf/VII-62 tertanggal 1 Shofar 1382 H/ 3 Juli 1962. Sumber bisa dicek juga di ulasan buku Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan , halaman 211.

Kesenimanan Mahbub telah memberi arti penting bagi dunia seni, NU, dan jika mau lebih khusus, ya bagi PMII.

Seni, Sastra, Memperkaya Cakrawala

Ini saya utarakan sebagai sebuah refleksi berdasarkan pengamatan, semenjak 10 tahunan yang lalu. Di awal saya masuk PMII, rata-rata angkatan saya yang masuk PMII bacaan wajibnya, atau yang menemani hari-harinya adalah “Tetralogi Buru” nya Pramoedya Ananta Toer. Dan menurut saya buku tersebut memang cocok dibaca kalangan aktivis. Selain itu, menurut saya buku sastra memang pilihan tepat untuk menjadi pengantar bagi para anggota baru  PMII. Karya sastra semacam karya-karyanya Pram. Di PMII ada karya yang menurut saya cocok untuk dijadikan buku pengantar, yaitu novel pendeknya Mahbub Djunaidi yang berjudul “Dari Hari Ke Hari”. Novel inilah yang diganjar sebagai pemenang dari sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta 1974.

Mengapa saya bilang cocok? Karena selama bertahun-tahun model pendekatan antara senior ke junior adalah dengan mencekoki perintah militeristik; senior tak pernah salah, jika salah kembali ke pasal awal. Secara umum manusia tak mau digurui, apalagi digurui oleh orang yang belum banyak pengalaman dan kurang mumpuni. Sebuah pertaruhan besar jika dalam masa-masa kini pendiktean senior kepada junior masih diterapkan. Karena apa? Karena semua kata-kata campur busa yang kita sampaikan hampir semuanya ada dunia Google.

Misal dulu saat saya masih menjadi anggota baru, ada pengurus atau senior yang menjadi narasumber MAPABA bilang begini: “Kalian memilih PMII sebagai organisasi adalah sesuatu yang tepat, karena PMII adalah organisasi terbesar, anggotanya sekian ratus ribu”, dst. Dan itu terjadi, saya mengalami. Kalimat itu jika diterapkan di saat sekarang akan menjadi boomerang. Seberapa besar sih PMII? apa benar terbesar? jumlah anggotanya berapa ratus ribu? Anggota baru yang akrab dengan gadget langsung bisa browsing dan berselancar mencari data.

Misal lagi, masa kini. Taruhlah kita undang kader paling intelek di tingkatan rayon, dan tingkatan komisariat, diundang di kantor cabang. Diskusi membincangkan isu terhangat. Saya rasa yang akan disampaikan materainya sama, karena isu dan wacana yang akan disampaikan sudah diborong habis oleh TV One dan Metro TV. Lalu mau apa?

Hal-hal yang disampaikan secara oral pasti akan hilang, lenyap tak berbekas. Juga banyak kalimat yang bocor karena ucapan-ucapan tersebut sudah terlanjur klise. Namun jika memakai pendekatan seni, atau taruhlah sastra. Akan beda cara kerja, juga dampak kejutnya. Kita perlu ingat bahwa kita adalah bangsa dalam budaya lisan. Cangkeman. Untuk berkomentar mudah sekali. Untuk menuliskan komentar kita, nanti dulu. Seribu alasan akan didatangkan.

Pendekatan sastra akan merubah tradisi lisan menuju ke tulisan. Komentar-komentar akan direnungkan. Digenggam dalam angan. Difinalkan dalam bentuk kekaryaan. Inilah yang hari ini perlu dicoba. Sudahlah, jika semua rumpun ilmu tidak kita dokumentasikan, pasti akan lenyap. Itulah pentingnya pendekatan sastra kepada kader. Setidaknya mental akan berubah. Membaca akan semakin giat. Karena mana mungkin kita bisa menulis tanpa merekam bacaan. Menulis tanpa membaca tidak bisa. Kalaupun bisa, hanya orang-orang yang memiliki kemampuan khusus dalam mencerna peristiwa. Mencerna peristiwa pun itu juga membaca, membaca tanda dan fenomena. Berarti membaca adalah kuncinya. Dalam disiplin sastra, membaca adalah hal yang tak boleh ditinggalkan.

Dari Hari Ke Hari adalah sebuah capaian Mahbub Djunaidi yang menjadi legacy. Seharusnya para Mahbubian mengerti itu. Jika anggota baru diberikan asupan karya tersebut saat MAPABA, saya kira hasilnya akan lain dan berbeda dari yang dulu-dulu, atau selama ini. Coba saja kita tengok bab-bab yang dirancang Mahbub di novel pendek tersebut: Jendela Tiada Berkaca, Pohon Jambu yang Rimbun, Kemarau, Cintanya Pada Kota, dan Dari Hari Ke Hari. Semua yang dikisahkan dalam bab-bab itu berlatar pada masa revolusi kemerdekaan. Di mana masa tersebut sangatlah penting bagi tonggak sejarah republik ini.

Mahbub sudah memberikan contoh, untuk menulis! menulis! dan menulis! Sekian puluh tahun silam.

Jika seni menjadi panglima, mungkin nanti kader-kader kita bisa menjadi lebih berguna.

Malang,  18 Maret 2021

135 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kaderisasi Penokohan di PMII, Apakah Relevan ?

4 Mins read
Akhir-akhirnya ini, soal baleho para elit politisi mewarnai media sosial. Tentu, kritikan datang dari para masyarakat sipil yang mempertanyakan apa fungsi baliho… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
Anime

Spoiler One Piece chapter 1007 : Kozuki Oden masih Hidup !!

%d blogger menyukai ini: