Buku

Siapakah Engkus?

5 Mins read

Judul              : Dari Ranjang Ke Ranjang
Penulis           : Fathul H. Panatapraja
Penerbit         : Monkey Publisher
Cetakan          : Cetakan Pertama, Desember 2019
Tebal               : 138 Halaman
ISBN               : 978-623-9058-6-2

Pertama kali melihat judul dari buku ini yakni “Dari Ranjang Ke Ranjang” mungkin kita akan menerka-nerka tentang isi dan jalan ceritanya. Dan tebakan pertama saya tentang cerita yang diangkat dalam buku ini adalah kisah seorang pelacur, layaknya buku “Perempuan di Titik Nol” yang ditulis oleh  Nawal El-Saadawi.

Namun hal tersebut langsung terpatahkan dengan sinopsis yang ada di cover belakang buku ini. Ya, saya kira buku ini berbau-bau feminisime dan perempuan. Namun ternyata tokoh dari buku ini adalah seorang laki-laki yang setiap hubungan percintaannya selalu berakhir di atas ranjang, dan yang membuat saya lebih terkejut adalah tokoh tersebut merupakan mahasiswa perguruan tinggi islam.

Namanya Aceng Kuswara atau yang biasa dipanggil Engkus. Dia lahir di desa Cipatik, Soreang, Bandung dan dibesarkan dalam keluarga yang bai-baik. Sejak TK dia sudah punya ketertarikan dengan lawan jenisnya, baik dengan teman TK-nya ataupun dengan kakak sepupunya yang sudah SMA. Akan tetapi Engkus pernah mengalami trauma kecil dengan wanita saat dia berumur 9 tahun, teman—teman wanita Engkus meciuminya sampai pingsan di hari ulang tahunnya.

Sejak saat itu, Engkus malah bersemangat belajar agama. Selain karena pendidikan dan nasihat tentang agama yang diperoleh dari kakeknya atau yang biasa dia panggil Abah, Engkus juga diberikan walkman yang berisi murotal Al-Quran oleh abahnya. Sehingga tilawahnya bagus bahkan memenangkan lomba MTQ se-Bandung Raya.

Setelah lulus SD, Engkus melanjutkan pendidikannya ke pesantren Al Quran di Cicalengka atas saran Abahnya agar bias menjadi tahfidz Quran. Pesan Maknya sebelum Engkus berangkat ke pesantren “ Jangan dekat-dekat dengan perempuan. Perempuan itu sama kayak Jurig”.  Pesan emaknya tersebut yang Engkus pegang agar tidak memikirkan perempuan lagi dan memperdalam ilmu agamanya.

Saat Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) di pesantrennya, Engkus terpilih menjadi peran Nyi Iteung dalam drama Kabayan. Sejak saat itu pula menjadi bencana bagi Engkus, setelah berperan sebagai Nyi Iteung Engkus dilecehkan oleh santri yang lain, bahkan oleh senior-seniornya digilir setiap malam. Semenjak saat itu jiwanya semakin tertekan, bagaiamana tidak Engkus yang siang harinya menjadi santri yang taat sedangkan malam harinya harus memuaskan birahi senior-seniornya.

Namun Engkus tetap laki-laki yang normal, dalam buku ini Engkus diceritakan saat liburan pesantren memiliki pacar santri putri yakni Rina. Mamanya Rina yang mendengar cerita tentang Engkus yang sopan dan seorang tahfidz akhirnya penasaran dan ingin bertemu. Akhirnya Engkus berangkat ke Cianjur dan setibanya di sana, dia meminta Rina menjemputnya yang sedang berada di masjid dekat kuburan. Sesampainya Rina di sana bersamaan dengan gerimis yang membasahi, dan merekapun memutuskan untuk berteduh lebih dahulu di Masjid.  Ahirnya mereka berdua terbawa susana hujan yang lebat, sepi dan melakukan sesuatu di tempat yang tak seharusnya mereka lakukan. Bahkan saat beberapa hari di rumah Rina, mereka berdua sesekali bermesraan di depan kamar mandi ataupun di depan TV saat sepi.

Setelah pulangnya Engkus dari rumah Rina, dia bergegas pergi kerumah Ahli Hikmah (orang pintar) yang dia ketahui saat mengantar ayahnya mencari sepeda motornya yang hilang. Engkus ingin mengetahui perihal masa depannya. Ahli Hikmahnya pun menyambut dan juga mengatahui maksud kedatangan Engkus dan memberikannya secarik kertas bertuliskan Arab agar diamalkan oleh Engkus.

Berakhirnya hubungan dengan Rina saat menjelang kelulusan, Engkus berpacaran dengan Rima. Namus di saat Rina mau menikah, dia menghubungi dan meminta Engkus untuk berhubungan kembali dengannya sebulan sebelum pernikahannya. Diceritakan juga dalam buku ini Engkus berpacaran dengan Noorma yang merupakan paacarnya ke 72 yang telah disetubuhi Di Malang.

Engkuspun disuruh kuliah oleh Maknya, dan dia memilih kota malang sebagai tempat untuk melanjutkan studinya. Di perguruan tinggi Islam di kota Malang inilah awal pertemuan engkus dengan Epi, mahasiswi asal Bandung yang juga merupakan seorang tahfidz Quran. Singkat cerita mereka berdua akhirnya pacaran dan mengikuti Unit Kegiatan Tahfidz Quran (UKTQ) Bersama.

Suatu ketika saat mereka kehujanan dari Coban Rondo, mereka berdua berteduh di kontrakan temannya Engkus. Kebetulan temannya akan bergegas keluar, dan mereka berdua pun terhanyut dalam susasana dinginnya hujan hingga akhirnya mereka sudah bersatu dalam selimut. Di saat itu pula, si Engkus di telpon oleh Ahli Hikmah-nya dan berkata “Kalau kamu masukkan, suaramu (qiroah) akan hilang” dan Engkus pun menggalkan niatnya untuk melakukan hubungan intim dengan Epi.

Saat perayaan malam Tahun Baru, Engkus dan Epi memutuskan merayakannya di basecamp bersama-sama teman-teman organisasi di luar kampusnya. Saat teman-teman yang lain mulai ramai dan asik bermain gitar, si Epi jatuh terpleset dan Engkus pun langsung menggendongnya ke dalam kamar untuk memijatnya. Hingga akhirnya mereka berdua terhanyut dan berhubungan badan. Engkuspun sudah tidak menghiraukan pesan dari Ahli Hikmah, sejak saaat itu mereka berdua sering berhubungan badan terkadang di kamar mandi kampus bahkan pernah di BUS saat perjalan pulang ke Bandung

Dan pada suatu saat ketika Engkus meminta berhubungan, Epi malah menolak dan meminta putus dengan alasan dosa. Tapi ujung-ujungnya Epi mau untuk terakhir kalinya. Setelah putus dengan Epi, Engkus menjadi sakit-sakitan dan memutuskan untuk berobat ke Ahli Hikmah. Menurut Ahli Hikmah Engkus sedang diguna-guna, dan Ahli Hikmahnya melepaskan guna-guna tersebut sambil berpesan bahwa setelah lepas dari Epi, akan ada seribu perempuan yang mengantri. Dan memang benar adanya, sejak saat itu Engkus sangat mudah mendapatkan wanita, mulai dari kampusnya sendiri sampai kampus-kampus lain dia jelajahi satu-satu. Model pacarannya sama dengan Epi, namun bedanya setelah berhubungan Engkus meninggalkannya.

Dalam hal ini, saya rasa pembaca akan menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah benar ini cerita nyata? Apakah kehidupan pesantren seperti itu? Berani-beraninya Engkus dan Rina melakukan hal yang tak pantas di Masjid? Apakah iya seorang Tahfidz Quran melakukan perbuatan Zina? Kenapa hafalannya tidak hilang?

Namun pertanyaan tersebut adalah tamparan bagi kita semua. Realitas hidup seperti itu memang ada di sekitar kita. Pernyataan saya ini bukanlah justifikasi dari perbuatan Engkus, akan tetapi orang-orang seperti Engkus ini memang ada yang terbentuk karena lingkungan. Menurut saya buku ini juga adalah kritikan terhadap orang-orang yang terlalu fanatik dengan Agama. Saya setuju dengan sinopsis dalam buku ini bahwa agama pun tak cukup untuk membuat seseorang tidak melakukan hubungan badan dengan pacarnya.

Jangan-jangan kita juga termasuk Engkus meski dalam skala kecil. Seperti halnya kita yang berpakaian yang dianggapnya paling syar’i namun kita tidak kuat menahan nafsu untuk tidak menggunjing, kita yang beribadah paling rajin kadang juga kita tidak dapat menahan nafsu untuk tidak mecuri saat kita butuh. Karena memang  tidak cukup bagi kita mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, namun juga mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang mudhorot, baik bagi kita sendiri, orang lain dan bagi orang banyak. Sebenarnya kita semua memiliki dosa, atau bahkan pendosa, namun dengan pilihan maksiat yang berbeda-beda!

Oleh karena itu perlunya ilmu-ilmu lain yang perlu diajarkan agar bisa menopang dan memberi pengetahuan mana yang benar, yang baik, tidak mudhorot dan bermanfaat. Seperti halnya pendidikan seks perlu diajarkan sejak dini, bahkan juga perlu diajarkan di Pondok Pesantren untuk menghapus penyimpangan seksual yang katanya hanya sementara ketika berada di pesantren.

Kelebihan Buku:

Bahasanya yang ringan, serta ceritanya yang membuat pembaca ingin meyelesaikan membaca dalam satu waktu. Buku ini cukup dibaca dalam waktu 40-60 menit. Selain itu terdapat gambar ilustrasi dengan seni tingkat tinggi.

Kekurangan:

Beberapa cerita dirasa kurang klimaks, sehingga ada beberapa part yang loncat-loncat. Dan alur yang maju mundur. (Ajus)

Related posts
Buku

PMII dalam Bingkai Eksakta Nalar Pergerakan Saintis Aktivis dalam Dinamika

3 Mins read
“Totalitas kader eksakta dalam ber-PMII harus diwujudkan dengan membangun dunia pergerakannya sendiri unuk menemukan mandat intelektualitasnya sebagai mahasiswa, mandat religiutasnya sebagai orang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Dualisme Kader Eksakta

2 Mins read
Hiruk piruk perjalanan kader eksakta selalu seksi dibincangkan. Walaupun pada akhirnya, tidak ada satupun yang dapat merumuskan solusi terhadap permasalahan kader eksakta… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Buku

Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)

4 Mins read
Judul               : Dunia Maya (Misteri Dunia dan Cinta)Penulis           : Jostein GaarderPenerbit         : PT Mizan PustakaTebal Buku    : 420 HalamanISBN               :… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: