Opini

Covid-19, Mahasiswa Farmasi Bisa Apa ?

4 Mins read

Oleh : Yusuf Ikrom Nur Azami

Sejak diumumkannya kasus pertama Covid-19 yaitu pada  2 Maret 2020, masyarakat Indonesia sudah mulai resah akan datangnya pandemi virus ini. Dilansir dari web resmi Kominfo, pada 28 Maret 2020, di Indonesia terkonfirmasi sudah lebih dari 109 kasus, 1155 orang positif, 59 orang dinyatakan sembuh, dan 102 orang meninggal dunia. Semakin banyak kasus yang terjadi, pemerintah berupaya untuk memutus rantai penyebaran virus, salah satunya dengan cara Karantina Wilayah.

Virus corona tidak pandang bulu memilih korbannya, bahkan tenaga kesehatan pun yang merupakan garda terdepan dalam melawan virus ini bisa jadi sasaran inangnya. Hal tersebut diperkuat oleh penyataan WHO bahwa dua orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus corona ini adalah para orang tua dan mereka yang mempunyai latar belakang kesehatan.  Dilansir dari akun instagram resmi Ikatan Dokter Indonesia atau IDI,  hingga saat ini dokter yang meninggal dunia akibat terinveksi virus corona berjumlah 10 orang. Hal ini menambah keresahan di kalangan masyarakan umum. Tidak terkecuali mahasiswa farmasi yang merupakan generasi penerus Apoteker dan calon tenaga kesehatan dimasa depan. Selain keresahan, berbagai pertanyaan juga banyak dilontarkan oleh beberapa mahasiswa farmasi, salah satunya mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Oke, kali ini penulis akan membahas pertanyaan yang sering muncul di benak mahasiswa farmasi, yaitu apa sih yang harus kita lakukan sebagai mahasiswa farmasi yang juga merupakan mahasiswa kesehatan? Apakah harus ikut terjun menjadi relawan? Ataukah ada wadah tersendiri untuk mahasiswa kesehatan agar bisa ikut berkontribusi membantu pemerintah melawan pandemi virus corona ini ? Pertanyaan – pertanyaan tersebut akan di jawab oleh orang yang menurut penulis lebih kompatibel.

Pertama akan dijawab oleh salah satu dosen di Jurusan Farmasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beliau adalah Apt. Burhan Ma’arif Z.A., S.Farm., M.Farm. Sebelum menjawab, beliau berkomentar beberapa hal, diantaranya yaitu terkait dengan adanya keresahan, adanya pertanyaan mahasiswa farmasi, apa yang bisa kami lakukan, menurut beliau, hal tersebut merupakan sesuatu yang patut diapresiasi, karena pada dasarnya mahasiswa itu belum punya kewajiban untuk terjun langsung. Kenapa? Karena belum disumpah, belum merupakan bagian dari suatu profesi kesehatan, masih calon.

Beliau juga memberikan beberapa informasi penting yang mungkin belum semua orang mengetahuinya yaitu Terkait virus. Bakteri dengan virus itu berbeda, jadi obatnya pun berbeda. Antivirus untuk menyembuhkan infeksi virus sedangkan antibiotik untuk menyembuhkan infeksi bakteri. Kemudian virus itu sembuh dengan ssstem imun manusia, makanya banyak yang bilang mencegah corona dengan meningkatkan imunitas.. Antivirus – antivirus tersebut  membantu menyembuhkan, bukan merupakan acuan utama menyembuhkan. Oleh karena itu tipe – tipe anti virus yang disodorkan juga berbeda, ada yang menggunakan avigan, chloroquin, dari Unair racikan empon – empon.

Selanjutnya, apa yang bisa mahasiswa farmasi lakukan dengan adanya pandemi virus corona ini? Salah satu caranya yaitu kita mengedukasi masyarakat. Pernah suatu waktu beliau saat berapa di minimarket melihat pelanggan memakai APD lengkap dan kasirnya memakai sarung tangan bedah, menurut beliau itu sesuatu yang salah. Karena APD dan sarung tangan bedah itu lebih dibutuhkan oleh tenaga kesehatan yang menangani secara langsung pasien yang terinfeksi virus corona.Kita bisa mengedukasi ke masyarakat dengan cara memberi selebaran ke masyarakat terkait dengan apa – apa yang diperlukan oleh masyarakat umum, kemudian memberi edukasi apa pentingnya  physical distancing, dan info – info  yang lebih berguna dan jangan menghabiskan jatahnya tenaga kesehatan. Contoh lain yang menurut beliau keliru yaitu penggunaan Handsanitizer. Di beberapa tempat alkohol habis. Semua berlomba – lomba membuatnya. Pertanyaanya, Apakah yang mereka buat itu sesuai dengan syarat yang benar? Apakah memang benar antimikroba? Mereka membeli alkohol 70%  kemudian ditambahkan air supaya lebih banyak,  akibatnya prosentase alkohol berkurang dan tidak efektif lagi sebagai Handsanitizer. Mereka tidak paham. Mereka – merekalah yang perlu diedukasi terkait hal ini. Tidak perlu membuat Handsanitizer sendiri. Kalaupun ingin membuat sendiri temtu saja harus sesuia dengan syarat dari WHO, kalau ingin membuat desinfektan di rumah ya harus sesuai dengan syarat dari WHO.  

Sempat ramai beberapa hari lalu, daun sirih bisa  sebagai Handsanitizer, kemudian berbondong – bondong membuatnya, tanpa tau daun sirihnya yang seperti apa, beratnya seberapa. Justru  yang seperti ini yang menyebarkan penyakit, mereka merasa sudah aman. Padahal yang mereka gunakan tidak untuk membunuh bakteri atau virus. Cara yang paling baik dan aman untuk menghambat pertumbuhan virus yaitu cuci tangan dengan sabun. Jadi karena mahasiswa itu belum merupakan suatu profesi yang mempunya tupoksi yang jelas, yang bisa dilakukan adalah mendukung tenaga profesi yang udah jelas tupoksinya, mendukung seniornya, atau bisa juga menghambat penyebaran itu dengan tindakan – tindakan preventif, edukasi masyarakat di sekeliling, menyebarkan selabar atau poster, kemudian memberi edukasi kesehatan di WhatsApp group keluarga, memberi pengertian apa arti penting physical distancing. Jangan keman – mana, jangan nongkrong. Memang terlihat  sepele, tetapi itu basic dari semuanya. Kalau misal hal tersebut bisa dilakukan dengan baik, tentu saja  perannya besar. Karena profesi yang sudah tinggi itu susah ngomong di masyarakat dan jumlahnya pun terbatas. Mahaiswa jumlahnya banyak, misal setiap mahasiswa punya 8 keluarga yang bisa di edukasi, pengaruhnya sangat besar.

Kedua, akan dijawab oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit Prima Husada Malang, yaitu Apt. Dyah F., S.Farm. Kurang lebih jawabannya sama, Edukasi kesehatan. Akhir – akhir ini juga banyak beredar hoax, kita mahasiswa perlu untuk menghentikan hoax tersebut. Mahasiswa masih banyak luang, bisa digunakan untuk mencari jurnal luar negeri terkait dengan perkembangan virus corona. Kemudian dari jurnal tersebut diringkas, selanjutnya KIE ke masyarakat. Kita juga bisa mencari info atau jurnal bagaimana cara mengenali virus corona, apa saja yang bisa menghambat pertumbuhan virus corona, mengapa kok sabun lebih baik diguakan, selanjutnya KIE ke masyarakat. Perlu di ingat sebelum melakukan edukasi, konsultasikan terlebih dahdulu ke dosen..

Edukasi terkait vitamin tak kalah penting. Virus bisa dikalahkan oleh daya tahan tubuh atau imun. Mengonsumsi vitamin bisa meningkatkan daya tahan tubuh.  Kita edukasi ke masyarakat, vitamin apa saja yang dapat meningkatkan sistem imun, dan terdapat di sayur atau buah apa saja. Daya tahan tubuh juga bisa diperoleh dari makan 4 sehat 5 sempurna dan olahraga yang cukup. Sekadar informasi dari beliau “vitamin – vitamin di apotek sudah mulai langka.”

Jadi, apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa farmasi menghadapi pandemi virus corona ini? Yaitu dengan cara edukasi kesehatan ke masyarakat awam. Mahasiswa sebagai garda terdepan dalam menyebarkan informasi di masyarakat, bisa dengan menyebarkan poster – poster tentang pentingnya physical distancing, pentingnya mencuci tangan dll. Bisa juga dengan edukasi di Whatsapp grup keluarga, KIE ke masyarakan yang terlebih dahulu di kosultasikan ke dosen. Mahasiswa lebih berpeluang untuk menyebarkan informasi – informasi kesehatan dan menghentikan hoax – hoax oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Related posts
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

#YakinIniAkandiBaca : Mempertanyakan Fungsi IKAPMII Sebagai Jangkar Bagi Kader PMII

6 Mins read
“Organisasi itu penting. Karena ia akan membentukmu menjadi sosok figure. Selain itu ketika kamu berorganisasi kamu akan memiliki relasi yang kelak bisa… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Kisah di Balik Buku Ketiga Kader Galileo

4 Mins read
Kesemuanya akan dimulai dengan perkataan yang sering terdengar namun, tak kunjung dilaksanakan “Sehebat apapun seseorang jika iya tak menulis maka, iya akan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: