Cerpen

Cak Shodiqin

4 Mins read

Beberapa orang beranggapan Gus Ilham anak bungsu Kiyai Ahmad yang paling berbeda. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari beliau selalu melakukan hal-hal yang berbeda daripada kedua saudaranya yang lebih tua. Kelakuan-kelakuan nyelenehnya seperti sudah menjadi tabiatnya sejak kecil. Namun, kelakuan-kelakuan itu selalu menjadi pertanda bagi orang di sekitarnya.

Pernah sekali, saat remaja Gus Mamad putra sulung Kiyai Ahmad duduk di serambi masjid sambil mengulang kembali hafalan-hafalan beliau. Gus Ilham yang saat itu masih menginjak balita tiba-tiba mencoba memanjat pohon mangga yang berada tepat di depan serambi masjid. Gus Mamad saat itu diam saja melihat tingkah lucu adik kecilnya. Namun, tiba-tiba Gus Ilham yang saat itu sudah hampir mencapai setengah perjalanan ke puncak pohon kepeleset tapi tidak terjatuh. Sontak, Gus Mamad lompat dan mengejar adiknya khawatir ia sampai terjatuh. Uniknya, selang beberapa detik Gus Mamad beranjak, tiba-tiba tiang penyangga serambi masjid yang terbuat dari kayu jati terbaik di lingkungan pesantren patah hingga atap serambi runtuh. Untung saja, Gus Mamad sudah beranjak saat itu.

Kejadian-kejadian unik lainnya sering terjadi. Waktu itu Cak Shodiqin abdi ndalem pondok bersama kedua santri lainnya bercerita. Ia pernah melihat Gus Ilham saat menginjak kelas tujuh mengajak beberapa santri seusianya merokok di dekat pembuangan akhir. Tempat itu terletak diantara pondok putra dan putri. “Berhubung yang ngajak gus, saya takut mau ngingatkan santri-santri itu” ujar Cak Shodiqin sambil menunjuk-nunjuk kedua kawannya itu.

Tempat pembuangan akhir memang jarang sekali dilewati santri, apalagi pengurus keamanan. Karena, menurut beberapa orang tempat itu cukup angker. Ada yang bilang tempat itu pernah dipakai orang-orang Jepang pada masa penjajahan untuk mengeksekusi mati para tawanan, ada juga yang bilang pernah suatu hari salah seorang santri putri bunuh diri di sana karena persoalan hati.

“Gus Ilham waktu itu bawa dua bungkus rokok.” Sambil memegang bungkus rokok yang ada di hadapannya Cak Shodiqin melanjutkan ceritanya. “Waktu itu sudah menunjukkan jam malam, sekitar pukul sebelas malam. Saya saat itu hanya bisa melihat mereka dari asrama, sebatas mengawasi dari jauh walaupun tertutup bangunan lain”

“Beberapa jam kemudian, saat saya mau balik ke ndalem kiyai. Tiba-tiba di sekitar tempat pembuangan akhir ada keributan.” Sebelum melanjutkan ceritanya Cak Sodiqin sedikit menyeruput kopi di hadapannya “Kalian ingat tidak kejadian pondok kita kedatangan dua orang maling dari luar?” “Maling yang dulu katanya pakai ilmu sirep itu?” sahut Cak Iqbal yang duduk di hadapan Cak Shodiqin. Sambil meletakkan cangkir kopinya sedikit keras Cak Shodiqin menimpali “Iya, maling itu. Ternyata yang nangkep maling itu Gus Ilham sendiri. Santri-santri yang lain udah tidur nyenyak di sana” seketika kedua santri di hadapan Cak Shodiqin geleng-geleng kepala

Kang Rois pemilik warung tempat Cak Shodiqin dan kawannya bercerita meletakkan secangkir kopi dan ikut bercerita “Iya benar, Gus Ilham itu ajaib. Pernah ya, waktu Kiyai Ahmad minta bekas warung Kang Sholeh yang ada di depan pondok untuk dibongkar karena mau dibuat pos satpam. Gus Ilham menolak keras, bahkan Gus Ilham yang waktu itu terbilang masih remaja sudah berani melawan Abahnya. Kata beliau ‘Biarkan saja, Bah. Tempat ini jangan dibongkar. Ilham yang tanggungjawab’ kedua kakaknya yang waktu itu ikut menemani abahnya sontak memariahi Gus Ilham, bahkan hampir bertangkar.” Kang Sholeh memperbaiki posisi duduknya. “Karena Gus Ilham ngotot, Kiyai Ahmad akhirnya mengalah.”

Sambil menyeruput kopinya yang sudah dingin, Cak Akmal yang duduk di sebalah Cak Iqbal bertanya “Lha, emang ada apa kang di sana kok Gus Ilham menolak untuk digusur?” Cak Shodiqin tiba-tiba menjawab pertanyaannya Cak Akmal “Tempat itu, ternyata jadi tempat singgahnya pemulung yang biasanya lewat pondok waktu fajar, tahu kan ibu-ibu yang biasanya nyari sampah di depan pondok? Nah, ternyata beliau tiap hari sholat hajad dan sholat subuh di warung itu.” Cak Akmal mengangguk faham

Meja di warung kopi itu mendadak hening. Mungkin karena cerita-cerita tentang Gus Ilham terlalu banyak atau juga terlalu susah untuk dinalar. Walau Gus Ilham dengan beberapa tabiatnya yang kadang meresahkan beberapa santri, beliau tetap disegani. Entah disegani karena takut terkena karma dari beliau atau karena memang kagum hingga meilhat mata beliau saja enggan.

Panggilan untuk beribadah ashar berkumandang dari speaker masjid. Ketiga santri itu pamit undur diri kepada Kang Sholeh pemilik warung. Mereka jalan beriringan menuju tempat wudlu dilanjut sholat berjamaah di masjid. Saat ini kiyai sedang di luar kota menemui putra sulungnya yang baru saja menikah dan mendirikan pondok. Sedangkan putra keduanya, Gus Ali sedang menimba ilmu di negeri sebrang. Gus Ilham yang saat itu masih berada di pondok akhirnya memimpin sholat dan dzikir.

Seperti biasa Cak Shodiqin sebagai abdi ndalem berada di barisan pertama. Ia berada tepat di belakang Gus Ilham yang saat itu sudah menginjak usia dua puluhan. Lebih muda tiga tahun dari Cak Shodiqin. Meski usianya lebih tua, Cak Shodiqin tetap menghormati Gus Ilham sebagai guru beliau. Sholat dan dzikir pun selesai dilakukan.

Tidak seperti biasanya, Gus Ilham tidak langsung membubarkan jamaah sholat. Beliau tiba-tiba berdiri dan memanggil Cak Shodiqin ke depan. “Cak Shodiqin, sini berdiri” Cak Shodiqin yang saat itu baru selesai berdoa kaget, ia berdiri sambil tergagap-gagap berdiri di hadapan Gus Ilham. Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Gus Ilham menampar Cak Shodiqin di hadapan semua santri pada saat itu. Cak Shodiqin kaget dan bingung. Sebelum Cak Shodiqin bertanya alasan mengapa ia ditampar, Gus Ilham melancarkan serangan keduanya “Ngapain kamu masih di sini? Cepat pulang sana! Kamu saya keluarkan dari pondok ini!” Cak Shodiqin semakin bingung dan marah “Lho gus? Salah saya apa?” “Kamu salah karena tidak segera pulang! Cepat kemasi barang-barangmu atau saya yang mengemasi barang-barangmu?” Gus Ilham kalap. Sambil dongkol Cak Shodiqin berjalan meninggalkan masjid, mengemasi barang-barangnya. Beberapa santri mendatanginya sekedar menghibur atau bersalaman dengannya. Akhirnya Cak Shodiqin pulang ke kampung halamannya dengan angkutan umum.

***

                Di ujung desa sedang dilaksanakan sebuah pengajian akbar. Sepanjang jalan menuju masjid dipasang bendera-bendera dan sepanduk acara, tidak lupa di gapura desa terpampang jelas agenda besar yang sudah dilaksanakan rutin selama tiga tahun di desa itu. Anak-anak hingga lansia memenehi masjid, bahkan halaman masjid yang biasanya sebagai tempat parkir mobil penuh. Beberapa orang yang menghadiri acara tersebut ada yang membawa alas sendiri hanya karena tempat yang digunakan acara sudah tidak cukup. Saat itu langit sangat cerah

Sebuah mobil hitam melambat di area parkir yang sekarang terletak di lapangan sepak bola. Mobil tersebut tiba-tiba mendapat kawalan khusus dari warga kampung. Sepasang suami istri yang baru saja menikah dua tahun lalu turun dari mobil beserta sopirnya. Sambil tersenyum lelaki yang memiliki mobil tersebut menyalami warga kampung satu per satu sambil berjalan menuju masjid. Sopir dengan pakaiannya yang serba putih mengikuti pemilik mobil dari belakang. Istrinya yang memiliki paras cantik dan menawan terlihat anggun menggunakan pakaian yang serasi dengan suaminya. Saat mereka memasuki wilayah masjid, kiyai yang menjadi tuan rumah acara tersebut sambil tersenyum datang dan menyapa “Assalamu’alaikum, Gus Ilham.” Lelaki yang disapanya membalas sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman “Wa’alaikumussalam, Kiyai Shodiqin”.

Related posts
Cerpen

Jatuh Cinta – Pola Optimis Dan Pesimis

2 Mins read
Karya : Deni Marsha Kali ini, aku dalam perjalanan berat mengumpulkan potongan-potongan cinta yang nantinya akan kubangun istana megah.  Aku bukanlah pelaku… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Cerpen

Merah Putih Merindukan Pengibarnya

5 Mins read
Karya : Amirullah Yasin Rizal pemuda dari timur indonesia baru saja tiba dipelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sejauh mata memandang ia tidak lagi… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: