Opini

Bisakah KOPRI Menjadi Role Model Gerakan Perempuan ?

3 Mins read

Oleh: Etika Nurmaya

Dalam acara Sekolah Kader Kopri yang dilaksanakan oleh KOPRI Cabang Kota Malang, menurut saya ada satu hal menarik yang bisa menjadi refleksi diri. Ketika Forum Grup Discussion materi penguatan media, terlepas dari silabus, aturan yang diberikan oleh panitia kepada pemantik atau apapun yang berhubungan, pemantik memberikan edu-game kepada peserta SKK tersebut. Dengan dua lembar kertas yang masing-masing diberi tulisan angka 5000 dan 10.000. Kertas tersebut dianggap sebagai alat transaksi (uang). Mereka membentuk kelompok berisi empat sampai lima orang. Kelompok tersebut diartikan sebagai corporate atau sejenisnya.

Perintah pertama, percorporate harus menarik minat anggota corporate lain untuk joint di perusahaan mereka dengan cara menawarkan sebuah project yang mereka miliki. Ternyata masing-masing dari mereka bertahan. Tidak ada satupun yang berpindah kelompok.

Perintah kedua, dengan dua lembar alat transaksi yang sudah diberikan sama rata di awal tadi, bagaimana cara agar masing-masing corporate dapat menambah jumlah nominal mereka. Yang bertambah nominalnya maka ialah pemenangnya. Saya yang berada di dalam ruangan tersebut hanya mengamati tanpa ikut bermain. Sangat terlihat berbeda gimmick mereka di babak ini. Ekspresi semangat yang terlihat menonjol dibandingkan babak sebelumnya. Usaha yang semakin giat terus mengejar target dan gesture yang terus-terusan ditampilkan. Tetapi tetap saja tidak ada satupun dari mereka yang berpindah corporate.

Perintah terakhir, walhasil peserta dipersilahkan keluar ruangan dan mencari siapapun yang bisa ia rekrut. Semakin banyak orang baru yang masuk ke corporate mereka, maka ialah pemenangnya. Seketika langsung semua berhamburan lari keluar ruangan. Bahkan pemateri sempat terbawa suasana karena perintah belum selesai diucapkan, tapi peserta seolah sudah ingin berlari mencari anggota baru.

Setelah waktu yang ditetapkan habis, peserta berkumpul lagi dalam ruangan semula lalu pemateri memberi penjelasan makna dibalik game yang mereka perankan tadi. Setelah pemateri tahu masing-masing dari mereka berhasil mendapatkan anggota baru, pemateri mengeluarkan pertanyaan yang membuat cengang satu ruangan. “Kenapa kalian tidak bergabung saja?” Saya melihat ekspresi peserta langsung terpelongo. Bahkan ada yang dengan tidak mengeluarkan suara, tanpa ia sadar bibirnya mengatakan “oh iyaaa”.

Selama ini kita terlalu sibuk berlomba dengan sesama. Bahkan kita lupa jika gerakan kita sama. Kita dari keluarga yang sama. Kita terlalu mengkonsumsi feminis-feminis text Kota Metropolitan yang seakan semua perempuan harus menandingi perempuan yang lain. “aku adalah perempuan, aku harus lebih unggul dari perempuan lainnya.” “semua perempuan salah, hanya akulah yang benar.” Begitulah orang-orang awam yang baru belajar tentang gender dan tersesat diantara text metropolis.

KOPRI yang besarpun, KOPRI yang secara kuantitas sudah terlampau banyak, tetapi kenapa hanya segelintir orang saja yang mengenal KOPRI. Saya ingat cerita yang disampaikan Ketua KOPRI Jawa Timur, Sahabat Dini Adhiyati ketika beliau pertama kali menjadi Ketua KOPRI, banyak orang di daerahnya yang mengira Sahabat Dini menjadi ketua KORPRI (Korps Pegawai Republik Indonesia) bukan KOPRI (Korps PMII Putri). Dan sedikit dari mereka yang mengerti apa itu KOPRI. Tidak rasional rasanya dengan jumlah KOPRI yang begitu banyaknya tetapi minim sekali yang mengetahui apa itu KOPRI.

Dari contoh game yang dilakukan saat acara SKK Kota Malang ini, bisa jadi adalah pertunjukan sebuah tesis dari pemateri tentang sikap KOPRI selama ini. Jumlah yang banyak tetapi masing-masing dari mereka merasa harus bersaing. KOPRI A bersaing dengan KOPRI B. KOPRI B merasa lebih hebat dari KOPRI C, walhasil KOPRI C merasa disaingi dan kembali bersaing dengan KOPRI B. Begitu seterusnya. Tidak ada masing-masing dari kita ingin menggabungkan suatu gerakan yang bisa menjadi role model (setidaknya) bagi gerakan-gerakan perempuan lainnya.

Sebanyak apapun massanya tidak akan merubah jika tidak melegitimasi kekuasaan. Kira-kira begitulah titik tekan pesan dari pemateri di tengah penyampaiannya. Yang lebih menyedihkan adalah di era 4.0 saat ini yang segalanya serba online, bahkan gerakan KOPRIpun masih lemah di media massa. lalu pemateri kembali menyebutkan data-data yang ada. Kita terlalu terbawa oleh berita-berita yang disuguhkan oleh social media tanpa sedikitpun kita berniatan untuk membuat suguhan sendiri yang bisa dihidangkan untuk khalayak luar. Kita terlalu nyaman menkonsumsi berita-berita yang kita sendiripun terkadang menerima mentah-mentah tanpa mencari tahu valid atau tidaknya berita tersebut. Berita yang dibilang menjadi trending topic today dikejar habis-habisan tanpa kita berfikir gerakan seperti apa yang bisa menjadikan KOPRI sebagai trending topic.

Singkat tulisan, kuncinya adalah kita harus berkolaborasi antar sesama dan menjawab pertanyaan “Apa yang hari ini compatible dengan KOPRI?” Silahkan dijawab masing-masing…

133 posts

About author
"Ber-PMII-lah dengan caramu sendiri"
Articles
Related posts
Opini

Pentingnya Tasawuf Bagi Kader PMII di tengah perkembangan dinamika zaman

6 Mins read
Oleh : Kamas Wahyu Amboro (Kader PMII Kabupaten Bandung) PMII merupakan organisasi yang berbasis mahasiswa intelektual dan berpengalaman di dunia sosial dan… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

PMII Galileo itu Pencerahan

5 Mins read
“Kita tak bisa mengajarkan apa-apa kepada orang lain, kita hanya bisa membantu mereka menemukan pengetahuan di dalam diri mereka”“Galileo Galilei” Itulah kata… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

“KARTINI DAY” (KARTINI MASA KINI)

1 Mins read
Oleh    : Masniyar (PMII STMIK BA BULUKUMBA) Rabu, 21 April 2021 Sosok Perempuan yang menjadi pembahasan menarik dan tidak pernah habis sepanjang… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: