Opini

Anak Broken Home, Apa yang Salah?

3 Mins read

Broken Home merupakan istilah yang tak jarang didengar ataupun ditemui di media sosial. Dalam mengartikan hal tersebut selalu merujuk pada ketidak utuhan struktur keluarga atau sering kali diartikan dengan kata “penceraian”. Bahkan kata itu merupakan kata yang tak ingin didengar ataupun dirasakan oleh seorang anak. Namun, jika hal tersebut terjadi kepada beberapa anak di negeri ini. Lantas, bagaimana opini publik tentangnya?

Opini Pubik Tentang Mereka

Kebanyakan dari masyarakat hari ini selalu memberikan stigma bahkan streotipe negatif pada anak broken home. Tak jarang bagi mereka, dicap sebagai “nakal”, padahal tak semua? Namun, itu sudah berdarah daging dan tertancap di sebuah pemikiran yang bernama “opini publik”. Ia sama halnya dengan opini publik perihal perempuan yang inferior dibanding laki-laki. Tapi, pembaca sekalian bisa membanyangkan jika anak broken home berjenis kelamin perempuan. Bagaimana beban serta mental yang harus dihadapinya? Ihwal, dalam tulisan ini penulis tak ingin mengulik perihal perempuan barangkali para pembaca budiman paham tentang itu. Semoga saja.

Mereka sering kali dikucilkan dalam lingkungan sosial. Kadang kala semua mengkhawatirkan masa depannya. Bahkan segala sesuatu yag mereka lakukan akan selalu ber-ending  sama dengan rumah tangga keluarganya. Begitulah pahaman masyarakat hari ini. Seharusnya, tidak begitu sebab semua memiliki hak untuk hidup dan menghidupkan. Sebagaimana konstitusi  negeri ini mengatur hal itu dalam pasal 27 ayat 2 dalam UUD 1945 “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusian” dan 28 A dalam UUD 1945 “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.

Alhasil sebagian dari mereka sering berujar “Ajari kami (anak broken home) bagaimana caranya menerima keadaan tanpa membenci kehidupan?”. Kalimat itu sedang memberi signal akan ketidak percayaan yang dialami mereka. Namun, apakah kita mengerti hal itu? Penulis tak ingin menyimpulkan, namun dalam sebuah berita yang telah dilangsir di merdeka.com anak-anaklah yang menjadi korban sesungguhnya dalam keluarga yang mengalami broken home. Jangan heran, jika kondisi keluarga yang broken home akan berdampak pada perkembangan dan kesehatan mental anak. Salah satunya adalah kepercayaan diri.

Tapi begini, kepercayaan tak semudah didapati seperti anak normal lainnya. Sebab, institusi yakni keluarga tidak lagi menjadi sentral utama dalam pembelajaran mereka. Kesukaran beradaptasi dan melakukan pembelajaran kerap kali dijumpai. Hal ini tak bisa dipungkiri. Tidak ada peran orang tua di dalamnya. Jika pun ada, hal itu tak akan bernilai 100%. Sebagaimana Merriam-Webster pernah menjelaskan bahwa broken home ialah absennya orang tua hingga mempengaruhi kondisi anak.

Kondisi ini tak pernah dinormalisasikan oleh budaya hari ini. Namun parahnya, dinyatakan dengan begitu cepat sebagai penyakit sosial. Setidaknya akan menjadi pemberitaan yang tak habisnya di kalangan masyarakat. Lalu, apakah anak-anak yang belum cukup dewasa mampu menerima opini publik semacam itu? Saya rasa–tidak, ketika dewasapun itu tak mudah– menghapus trauma yang pernah dialami semasa anak-anak, karena mereka adalah pengingat yang baik.  Hal ini serupa dengan Simply Psychologi dalam hellosehat.com yang mengatakan, bahwa kemampuan kognitif dalam anak-anak adalah berkembangan dari segi keterampilan anak dalam berpikir. Beberapa kemampuan tersebut yaitu perhatian, pemikiran, ingatan anak, dan pemecahan masalah.

Sisi Positif Mereka

Ingatlah! Allah selalu menciptkan sesuatu dengan berpasang-pasangan. Sama halnya setiap takdir yang Allah telah tetapkan selalu memiliki dua sudut pandang yaitu kebaikan dan keburukan. Sama halnya dengan kondisi anak broken home. Apakah pembaca pernah memikirkan sisi positif anak broken home? Jika, iya penulis amat sangat bersyukur. Apabila “tidak” sudihkah kiranya, pembaca tuk membaca tulisan yang amat amatir ini, sampai tuntas?!

Pada hakikatnya, mereka bukan yang ditakdirkan “nakal” sebagaimana pragraf terdahulu. Akan tetapi, mereka hanya lah manusia yang ditakdirkan memilih kehidupan yang begitu pelik. Walaupun, mereka tak pernah meminta hal itu. Namun, inilah “kehidupan” memaksa mereka menjadi pribadi yang kuat sekuat baja.

Anak broken home itu memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan dengan anak lainnya. Ketika perasaan itu terkontrol dengan baik. Ia bisa menjadi penyelamat dengan kepekaan yang begitu tinggi. Bahkan, dia bisa menjadi pendengar yang baik.

Mereka mengerti kapan harus bahagia dan bersedih. Pengalaman kehidupannya mengajarkan hal itu. Serta mereka lebih setia dan menghargai kepercayaan lebih dari apapun. Terutama, dalam menjalani hubugan dengan pasanganya. Itu tak bisa dipungkiri, mereka tak ingin mengulangi hal serupa. Karena pengalaman adalah guru terbaik.

Memiliki pemikiran terbuka. Mereka lebih terbuka dengan apapun sebab mereka tidak mendapati pengetahuan dari keluaraga. Oleh karena itu, pengetahuan harus mereka gali diberbagai hal. Kalau tidak begitu pengetahuan akan mengalami kemandekan yang luar biasa.

Selain itu, menjadi pribadi kuat nan mandiri. Tak banyak teman-teman saya yang sebagiannya ditakdirkan menjadi anak broken home, tapi memiliki kepribadian yang kuat seperti batu candas. Salutnya mereka tak pernah menggantungkan dirinya pada kedua orang tuanya. Anehnya lagi, mereka mampu memiliki prestasi akademik dibandingkan lainnya. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Savitri, et al., (2016) dengan judul Peran Keluarga dan Guru dalam Memabangun Karakter dan Konsep Diri Siswa Broken Home di Usia Sekolah Dasar yang menjelaskan bahwa ada dampak posistif dari sebuh kasus broken home terhadap diri seorang anak, salah satunya yakni mampu berprilaku baik dan berprestasi.

Ketika kamu berkenalan dengan mereka, saya rasa meraka tak pernah menceritakan kegalauan tentangnya. Kesulitan dan kesukaran adalah pasangan selalu bersanding dengannya. Sesungguhnya, mereka bisa menjadi patner yang baik dalam setiap perjuangan. Karena mereka telah mengalami hidup yang begitu sukar, dan akan indah pada waktunya. Lantas, apakah ada yang salah dengan anak broken home?

Related posts
Opini

Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah?

2 Mins read
Lika – Liku Kader PMII, Siapa yang Salah? Miri Pariyas Tutik Fitriya Siapa yang disalahkan dan menyalahkan? Jika judulnya seperti itu? Jangan,… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Menghancurkan Berhala-Berhala di Institusi Biru Kuning

4 Mins read
“Sudah ku bilang teknik dan startegismu itu, tak ada gunanya,” “Maksudmu?” “Maksud ku ini percuma, toh, ini adalah permainan yang disepakati  oleh… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Opini

Perempuan dan Pemimpin

2 Mins read
Penulis: Sinta Amelia Eksistensi dunia perempuan dibelahan dunia timur selalu salah menyisikan luka batin yang cukup berkepanjangan. Luka batin itu terindikasi dari… Bagikan ini:TwitterFacebookMenyukai ini:Suka Memuat...
Power your team with InHype
[mc4wp_form id="17"]

Add some text to explain benefits of subscripton on your services.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

×
Good News

Menjalin erat Kekeluargaan, PMII Kota Cilegon Gelar Silaturahmi Akbar

%d blogger menyukai ini: